Jakarta, Arina.id — Barisan Ansor Serbaguna (Banser) mengerahkan 10–30 personel per hari untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Upaya pemadaman masih terkendala keterbatasan peralatan dan sulitnya akses menuju titik api.
Kepala Satuan Khusus (Kasatsus) Satkornas Banser Penanggulangan Bencana (Bagana) Mahdani Hamzah mengatakan, penanganan karhutla melibatkan personel Bagana, Banser Penanggulangan Kebakaran (Balakar), dan satuan Banser lainnya. Para relawan bertugas secara bergantian untuk membantu pemadaman di sejumlah lokasi terdampak.
“Selain Bagana, ada Balakar dan satuan Banser lain yang ikut memadamkan api. Jadi, mereka ini bergantian,” ujar Mahdani Kamis (15/10/2026) diberitakan NU Online.
Mahdani menjelaskan, relawan masih mengandalkan peralatan terbatas untuk memadamkan api. Sejumlah personel menggunakan mesin penyedot air atau alkon serta masker medis saat bertugas di lapangan.
“Teman-teman yang ada di bawah ini turun dengan alat apa adanya. Misalnya, mereka hanya menggunakan alkon dan masker medis,” katanya.
Untuk memperluas penanganan karhutla, GP Ansor bersama sejumlah lembaga terkait tengah menyusun strategi aksi kemanusiaan nasional. Langkah tersebut dirancang agar pengerahan relawan dan distribusi bantuan dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi.
“GP Ansor serta lembaga lainnya juga baru menyusun strategi untuk aksi kemanusiaan nasional dengan sistem yang lebih tertata,” ungkap Mahdani.
Ia mengingatkan para relawan agar mengutamakan kesehatan dan keselamatan selama menjalankan tugas, termasuk menggunakan alat pelindung diri (APD).
“Bagi teman-teman yang turun di lapangan, yang pertama jaga kesehatan, jaga keselamatan, kemudian lindungi diri dengan menggunakan APD,” tegasnya.
Wakil Kepala Satuan Koordinasi Wilayah (Wakasatkorwil) Banser Kalimantan Tengah Wahyudi mengatakan, titik api di wilayah tersebut hingga Jumat (16/10/2026) dilaporkan belum padam dan cenderung bertambah. Banser pun menerapkan sistem penugasan bergilir untuk menjaga keberlanjutan upaya pemadaman.
“Yang jelas, sampai saat ini titik api itu belum padam, bahkan cenderung bertambah. Karena itu, kita merasa terpanggil dan membuat jadwal secara bergilir,” ujar Wahyudi.
Menurutnya, Banser berkoordinasi dengan pemangku kebijakan daerah, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemadam kebakaran. Namun, keterbatasan peralatan serta medan yang sulit masih menghambat proses pemadaman.
Wahyudi mengatakan, relawan terkadang harus menarik selang air hingga sekitar satu kilometer untuk menjangkau titik api.
“Kendala kita di sini memang peralatan yang kurang memadai. Kemudian, medannya juga sulit sehingga terkadang teman-teman harus menarik selang air sampai sekitar satu kilometer,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah pusat dan daerah meningkatkan dukungan untuk mempercepat penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, terutama dalam pemenuhan kebutuhan peralatan dan dukungan operasional bagi relawan.
“Mudah-mudahan segala cara dan upaya bisa dilakukan oleh pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Pemerintah juga bisa turun tangan agar persoalan ini lebih cepat teratasi,” pungkasnya.
Editor: Kendi Setiawan
