Jakarta, Arina.id — Penyucian jiwa dalam tradisi tasawuf tidak sekadar konsep abstrak, tetapi memiliki tahapan yang sistematis dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini disampaikan akademisi dan pakar filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, oleh Fahrudin Faiz saat mengulas konsep tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa.
Menurutnya, dalam khazanah tasawuf terdapat berbagai istilah yang merujuk pada proses yang sama, meskipun dengan pendekatan berbeda. Salah satu yang terkenal adalah konsep dari Al-Ghazali, yang membagi proses penyucian jiwa menjadi tiga tahap utama: thaharatun nafs (membersihkan jiwa), imaratun nafs (mengendalikan jiwa), dan mencapai nafs mutmainnah (jiwa yang tenang).
“Membersihkan jiwa itu penting, tetapi setelah bersih harus dikendalikan. Nafsu tidak untuk dimatikan, melainkan diatur agar tetap manusiawi,” ujar Faiz dalam tayangan video Mengaji Hening diakses Kamis (2/4/2026).
Ia mencontohkan, dalam hal makan, manusia tetap harus memenuhi kebutuhan, namun dengan kendali dan kesadaran akan batas.
Ia menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan pengekangan ekstrem yang menghilangkan sisi kemanusiaan. “Kalau nafsu dimatikan, itu justru tidak manusiawi. Yang benar adalah mengendalikan, tahu kapan cukup,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Faiz menjelaskan pendekatan lain dari Muhammad Abduh yang memulai proses dari tarbiyatun nafs atau pendidikan jiwa. Dalam tahap ini, jiwa yang liar dididik melalui pembiasaan hingga menjadi terkendali.
Setelah itu, dilanjutkan dengan tazkiyatul aql atau pembersihan akal. Menurut Faiz, akal memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang seseorang terhadap kehidupan.
“Pikiran adalah kacamata kita melihat realitas. Kalau dipenuhi hal negatif, hidup terasa berat. Tapi kalau positif, hidup terasa sebagai anugerah,” jelasnya.
Tahap puncak dalam konsep Abduh adalah tauhid, yakni mengarahkan seluruh tujuan hidup hanya kepada Allah. Faiz menekankan pentingnya meluruskan niat agar tidak terjebak pada tujuan-tujuan duniawi seperti popularitas atau kekayaan.
“Terminal akhirnya harus Allah saja. Kalau masih ada tujuan lain, berarti harus diluruskan kembali,” tegasnya.
Selain dua pendekatan tersebut, Faiz juga menyinggung konsep yang cukup populer dalam tasawuf, yakni takhalli, tahalli, dan tajalli. Takhalli berarti mengosongkan diri dari sifat buruk, tahalli mengisi dengan sifat baik, dan tajalli merupakan tahap ketika seseorang mampu merasakan kehadiran nilai-nilai ilahiah secara mendalam.
“Ketika sampai pada tahap tajalli, seseorang tidak mudah terdistraksi oleh hal-hal duniawi. Fokusnya hanya kepada yang hakiki,” pungkasnya.
Melalui berbagai pendekatan tersebut, Faiz menegaskan bahwa inti dari tasawuf adalah proses bertahap: membersihkan, mengendalikan, dan mengarahkan jiwa menuju ketenangan dan ketauhidan.
Editor: Kendi Setiawan
