Jakarta, Arina.id- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyampaikan bela sungkawa mendalam atas meninggalnya Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Fransiskus.
Paus Fansiskus meninggal dunia Senin, 21 April 2025 di kediamannya Vatikan setelah berjuang melawan sakit bronkitis yang sudah diderita sejak beberapa waktu lalu. Sempat menjalani perawatan di rumah sakit sebelum kondisinya drop lalu meninggal dunia.
"Mengucapkan duka cita mendalam atas berpulangnya Sri Paus Fransiskus pada hari Senin 1 April 2025," ucap Gus Yahya di Jakarta, Senin (21/5/2025).
Gus Yahya mengungkapkan bahwa Paus Fransiskus merupakan sosok yang memiliki komitmen dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan tanpa memandang latar belakang apapun. Hal itu dibuktikannya dengan lahirnya Piagam Persaudaraan Kemanusiaaan yang ditandatanginya bersama dengan Grand Syeikh Al-Azhar Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb beberapa Waktu lalu.
"Piagam Persaudaraan atau Watsiqah Al-Ukhuwwah Al-Insaniyyah adalah ikon dari perjuangan kemanusiaan di tengah gejolak dunia yang sangat tidak mudah," ungkap Gus Yahya.
Ia menilai kasih sayang Paus Fransiskus kepada umat manusia, tanpa membeda-bedakan latar belakang, merupakan contoh sempurna dari cinta universal. "Ukuran kasih sayang beliau kepada umat manusia tanpa membedakan latar belakang apapun adalah teladan paripurna," kenang Gus Yahya.
Gus Yahya menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama akan melanjutkan semangat dan perjuangan Paus Fransiskus dalam membela kemanusiaan.
"NU, akan menyertai gereja katolik dan segenap umat manusia untuk melanjutkan semangat dan perjuangan yang telah ditinggalkan oleh Sri paus Fransiskus di dalam membela dan mengasuh kemanusiaan itu," katanya menandaskan.
Sebelumnya, pada awal Februari 2025, Paus Fransiskus dirawat di Rumah Sakit Gemelli setelah menderita bronkitis selama beberapa hari. Kondisi klinisnya memburuk pada Selasa 18 Februari 2025. Paus didiagnosis menderita pneumonia bilateral, kemudian dipulangkan ke kediamannya setelah 38 hari menjalani perawatan.
Pada April 2024, ia juga dilaporkan menyetujui pembaruan pada buku liturgi untuk prosesi pemakaman kepausan yang akan memandu Misa pengebumian Paus yang akan diumumkan kemudian.
Edisi kedua Ordo Exsequiarum Romani Pontificis mencantumkan sejumlah elemen baru, termasuk bagaimana jasad sang paus ditangani setelah meninggal. Prosedur baru juga mencantumkan supaya jasad sang paus dipastikan kondisinya di kapel setelah meninggal dunia dan segera ditempatkan di peti mati.
Uskup Agung Diego Ravelli juga menyatakan bahwa Paus Fransiskus telah menginstruksikan penyederhanaan prosesi pemakaman. Adapun bagi masyarakat Indonesia, mendiang pernah berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu. Sempat singgah ke Masjid Istiqlal dan bertemu sejumlah tokoh agama RI.
Editor: Muhammad Taufiq
