Geneva, Arina.id — Beberapa ribu warga turun ke jalan di kota Geneva dan Lausanne, Swiss, pada Sabtu untuk memprotes sikap pemerintah yang dinilai tidak bertindak menghadapi pemanasan global.
Aksi tersebut digelar atas seruan koalisi yang terdiri atas lebih dari 100 organisasi dan partai politik dengan mengusung slogan bersama: “Tidak untuk musim panas bersuhu 50 derajat!”
Warga dari berbagai kelompok usia mengikuti aksi tersebut sambil membawa poster bertuliskan slogan seperti “Tidak Ada Planet B” dan “Kita dalam Bahaya!”
Demonstrasi terbesar berlangsung di Lausanne. Penyelenggara menyebut sedikitnya 8.000 orang ambil bagian dalam aksi tersebut.
Salah seorang peserta aksi, aktivis serikat pekerja berusia 31 tahun, Guillaume Matthey, mengatakan dirinya berharap aksi tersebut menjadi awal dari “siklus baru mobilisasi masyarakat secara luas” untuk menekan para pemimpin politik dan keuangan Swiss yang dinilai kurang merespons krisis iklim.
Pada 2024, Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa memutuskan bahwa Swiss belum melakukan cukup banyak upaya untuk memerangi perubahan iklim. Putusan tersebut menjadi yang pertama kalinya sebuah pengadilan internasional menyatakan suatu negara bersalah dalam persoalan tersebut.
“Ini tentang menyampaikan kepada pihak berwenang bahwa sekarang benar-benar waktunya untuk bertindak,” kata seorang peserta aksi berusia 60-an tahun, Yves Froidevaux.
“Kita tidak bisa hanya membiayai senjata lalu tidak peduli dengan persoalan lainnya—itu tidak bisa diterima,” tambahnya.
“Benar-benar terjadi kekurangan air pada musim panas ini,” kata Vincent Fontannaz, aktor berusia 47 tahun yang mengenakan kostum berbentuk tetesan air raksasa.
“Ini bukan hanya soal kolam renang, tetapi yang paling utama adalah pertanian—dan pada akhirnya menyangkut kelangsungan hidup kita,” tambahnya.
Peserta aksi lainnya, arsitek berusia 55 tahun Laurent Guidetti, mengenakan masker gas yang dibuat dari botol plastik. Ia mengatakan dirinya beruntung memiliki apartemen dengan insulasi yang baik sehingga “tetap sejuk pada malam hari”.
Namun, pada musim panas ini ia memikirkan orang-orang yang tidak seberuntung dirinya. “Bagi mereka, situasinya akan sangat sulit,” katanya.
Bahkan jika mereka berhasil melewati gelombang panas musim panas ini, ia tidak tahu bagaimana mereka akan menghadapi suhu yang lebih tinggi yang diperkirakan terjadi pada musim panas mendatang.
Setelah demonstrasi pada Sabtu, aksi protes lainnya telah dijadwalkan di sejumlah kota di Swiss dalam beberapa pekan mendatang hingga 2 Oktober.
Gelombang panas musim panas di Swiss memaksa sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir ditutup dan menyebabkan permukaan air Danau Zurich mencapai rekor terendah.
Editor: Kendi Setiawan
