PM Qatar Desak Amerika dan Iran Segera Capai Kesepakatan Damai

PM Qatar Desak Amerika dan Iran Segera Capai Kesepakatan Damai

Arina.id – Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, mendesak Amerika Serikat dan Iran segera mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang.

Sheikh Mohammed memperingatkan kedua negara agar tidak terus menunda kesepakatan hanya karena menginginkan kondisi yang dianggap ideal. Menurut dia, upaya mengakhiri konflik membutuhkan kompromi dari kedua belah pihak, bukan menunggu terciptanya kesepakatan yang sepenuhnya sempurna.

Pernyataan tersebut disampaikan Sheikh Mohammed dalam wawancara publik di Universitas Oxford, Inggris, pada Jumat (6/11/2026).

"Kita tidak akan pernah memiliki kesepakatan damai yang sempurna, tetapi kita tidak bisa menunggu momen yang sempurna," kata Sheikh Mohammed, sebagaimana dikutip Bloomberg.

Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran Qatar terhadap risiko berlanjutnya konflik serta dampaknya terhadap stabilitas kawasan. Doha selama ini memainkan peran penting sebagai mediator dalam upaya mempertemukan kepentingan Washington dan Teheran.

Desakan Sheikh Mohammed muncul ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri perang AS-Iran kembali diintensifkan. Qatar diketahui menjadi salah satu negara yang aktif menjembatani komunikasi antara kedua pihak.

Menurut laporan Reuters pada 3 November 2026, mediator Qatar telah melakukan perjalanan ke Teheran untuk membahas rancangan kesepakatan yang diharapkan dapat mempersempit perbedaan antara Washington dan Teheran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, mengatakan kedua negara masih mempelajari sejumlah proposal yang disampaikan melalui mediator.

Dia menegaskan komunikasi antarpihak masih berlangsung dan upaya untuk mempertemukan perbedaan terus dilakukan.

"Sebagai mediator, kami tidak bisa kehilangan harapan," ujar Al Ansari dalam keterangannya kepada wartawan.

Upaya tersebut menjadi penting karena kedua negara masih memiliki perbedaan mendasar mengenai persyaratan penghentian perang dan kelanjutan negosiasi.

Perselisihan Nuklir dan Selat Hormuz

Salah satu persoalan utama dalam negosiasi adalah program nuklir Iran. Washington menginginkan jaminan bahwa aktivitas nuklir Teheran tidak akan mengarah pada pengembangan senjata nuklir.

Sementara itu, Iran menginginkan sejumlah konsesi dari AS sebelum memasuki pembicaraan lebih lanjut. Tuntutan tersebut antara lain pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Persoalan lain yang adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Ketegangan di kawasan tersebut telah meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dan gas, sekaligus memperbesar risiko gangguan terhadap perekonomian global.

Dalam perkembangan terbaru menyebutkan Iran mulai menunjukkan kesediaan untuk membahas sejumlah persoalan terkait program nuklirnya yang sebelumnya belum masuk dalam agenda negosiasi.

Proposal yang disampaikan melalui Qatar kini sedang dipelajari Teheran. Perkembangan tersebut dinilai berpotensi membuka jalan bagi kemajuan diplomasi, meskipun belum ada kesepakatan final.


Editor: Muhammad Zunus
logo