Moral Fatigue, Kondisi Lelah Mempertahankan Perilaku Baik

Moral Fatigue, Kondisi Lelah Mempertahankan Perilaku Baik

Jakarta, Arina.id –  Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz, menjelaskan fenomena moral fatigue atau kelelahan moral sebagai kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan dalam mempertahankan perilaku baik di tengah berbagai tuntutan dan tekanan kehidupan.

Menurut Faiz, kelelahan moral muncul ketika seseorang terus-menerus berusaha melakukan hal yang benar, menahan godaan, memperjuangkan kebaikan, serta menghadapi berbagai situasi yang menguras komitmen moralnya.

“Intinya, lelah saat berusaha menjadi orang baik,” jelasnya saat membahas fenomena moral fatigue dalam tayangan Ruang Sinau diakses Minggu(1/11/2026).

Ia menegaskan, moral fatigue bukan berarti seseorang tidak lagi mengetahui perbedaan antara benar dan salah atau tidak peduli terhadap kebaikan. Namun, orang tersebut mulai merasa berat untuk terus melakukan hal-hal yang diyakininya benar.

Fahruddin Faiz mencontohkan, seseorang yang terbiasa memahami, memaafkan, dan menjaga perasaan orang lain bisa mengalami kelelahan moral ketika kebaikannya justru dimanfaatkan.

Pada awalnya, orang tersebut mungkin masih bisa bersabar dan mengalah. Namun, ketika situasi yang sama terus berulang, muncul perasaan bahwa dirinya selalu menjadi pihak yang harus memahami dan berkorban.

“Lama-lama kita sadar, kok aku terus yang kalah? Kok aku terus yang harus memaklumi? Kok mereka enak terus, sementara saya bagian tidak enaknya?” tuturnya.

Menurut dia, kondisi serupa juga dapat dialami seseorang yang berusaha menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan, tetapi justru merasa dirugikan karena lingkungan tidak menghargai nilai-nilai tersebut.

Misalnya, seorang pelajar yang memilih mengerjakan ujian dengan jujur justru memperoleh nilai lebih rendah dibandingkan teman-temannya yang melakukan kecurangan.

Situasi tersebut dapat memunculkan pertanyaan dalam dirinya mengenai manfaat mempertahankan kejujuran ketika perilaku curang justru terlihat lebih menguntungkan.

“Ngapain kemarin saya jujur kalau efeknya sepahit ini?” ujarnya menggambarkan pergulatan batin seseorang yang mengalami kelelahan moral.

Selain itu, Faiz menjelaskan bahwa moral fatigue juga dapat muncul akibat paparan berulang terhadap berbagai peristiwa buruk, seperti kemiskinan, peperangan, korupsi, dan penderitaan manusia.

Menurutnya, seseorang yang awalnya merasa terkejut dan prihatin ketika mendengar berita tentang korupsi atau penangkapan pejabat oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lama-kelamaan bisa kehilangan kepekaan karena terlalu sering menyaksikan peristiwa serupa.

Begitu pula ketika seseorang terus-menerus menerima informasi mengenai bencana atau kasus keracunan. Peristiwa yang sebelumnya menimbulkan keprihatinan dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

“Lama-lama mati rasa. Tidak ada rasanya,” jelasnya.

Faiz menilai, ketiga contoh tersebut memperlihatkan bahwa kelelahan moral dapat dialami setiap orang melalui pengalaman yang berbeda-beda. Namun, pola dasarnya sama, yakni terkurasnya energi psikologis ketika seseorang terus berhadapan dengan situasi yang menguji nilai dan komitmen moralnya.


Editor: Kendi Setiawan
logo