Hasil Riset: Idul Fitri Tingkatkan Kesejahteraan Psikologis, Mayoritas Masyarakat Merasa Lebih Bahagia

Hasil Riset: Idul Fitri Tingkatkan Kesejahteraan Psikologis, Mayoritas Masyarakat Merasa Lebih Bahagia

Jakarta, Arina.id — Perayaan Idul Fitri terbukti memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis masyarakat. Hal ini terungkap dalam hasil penelitian berjudul Pengaruh Idul Fitri terhadap Kesejahteraan Psikologis dimuat dalam Jurnal Pendidikan, Kebudayaan, dan Keislaman

Penelitian oleh Wulan Afriyana dari IAIN Pontianak tersebut. dilakukan pada 10–15 April 2024 di dua wilayah berbeda, yakni kawasan perkotaan di Tanjung Hilir, Pontianak Timur, dan wilayah pedesaan di Parit Masigi, Sungai Ambawang Kuala, Kabupaten Kubu Raya.

Penelitian melibatkan 50 responden berusia 18 hingga 60 tahun, dengan komposisi 60 persen perempuan dan 40 persen laki-laki. Dari sisi pekerjaan, responden terdiri atas 40 persen pekerja swasta, 30 persen pegawai negeri sipil, 20 persen wiraswasta, dan 10 persen mahasiswa.

Pemilihan dua lokasi tersebut bertujuan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai pengaruh Idul Fitri dalam konteks sosial dan geografis yang berbeda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memandang Idul Fitri sebagai momen penting dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis.

"Sebanyak 48 persen responden menilai perayaan ini sangat penting, 40 persen menyatakan penting, 8 persen cukup penting, dan hanya 4 persen yang menganggap kurang penting. Menariknya, tidak ada responden yang menilai Idul Fitri tidak penting," tulis peneliti.

Secara umum, Idul Fitri dipersepsikan sebagai momen “lahir kembali” setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadhan. Momentum ini tidak hanya bermakna secara spiritual, tetapi juga berdampak pada kondisi emosional masyarakat. Penelitian mencatat bahwa beban stres yang biasanya dirasakan dalam kehidupan sehari-hari cenderung berkurang saat Idul Fitri.

Salah satu faktor yang turut memengaruhi kondisi tersebut adalah peningkatan ekonomi musiman. Pada periode Idul Fitri, sebagian masyarakat memperoleh tambahan pendapatan berupa Tunjangan Hari Raya (THR), yang berdampak pada meningkatnya daya beli dan perputaran ekonomi. Meski tidak semua masyarakat menerima THR secara langsung, efek ekonomi yang meluas tetap dirasakan.

Selain faktor ekonomi, aktivitas sosial seperti silaturahmi dan berbagi juga menjadi pemicu meningkatnya kesejahteraan psikologis. Tradisi berkunjung ke keluarga, berbagi makanan, hingga memberi santunan atau angpao dinilai mampu menciptakan kebahagiaan kolektif. Bahkan di sejumlah daerah, tradisi silaturahmi ini berlangsung hingga satu bulan setelah Idul Fitri.

Dari sisi tingkat kebahagiaan, sebanyak 50 persen responden mengaku merasa lebih bahagia setelah merayakan Idul Fitri dibandingkan sebelumnya. Sementara 30 persen responden menyatakan tidak ada perubahan signifikan. Di sisi lain, 15 persen responden mengaku sedikit lebih stres, dan 5 persen lainnya merasa lebih stres setelah perayaan.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Idul Fitri secara umum berdampak positif terhadap kesejahteraan psikologis masyarakat, terdapat sebagian kecil individu yang justru mengalami peningkatan stres, kemungkinan dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, atau beban pascaperayaan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan juga momentum sosial yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis masyarakat Indonesia.


Editor: Kendi Setiawan
logo