Sekitar satu kilometer ke arah barat dari Balai Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep di Pulau Madura Jawa Timur terdapat satu rumah sederhana dengan halaman luas. Pepohonan rindang mengelilingi halaman dan rumah itu.
Jumat pagi, 10 Oktober 2025 cuaca cerah. Seorang pria tinggi-kurus tengah duduk di kursi depan teras rumah itu yang tak lain adalah pemiliknya. Tatapannya fokus ke arah Iayar laptop, sementara jari-jemarinya menekan teratur satu persatu tombol laptop tersebut.
Ia adalah sosok guru inspiratif yang masih setia dan telaten mendidik para siswanya hingga melahirkan karya-karya sastra terbaik. A Warits Rovi, adalah seorang guru sekaligus penyair Nasional yang telah banyak menorehkan prestasi gemilang di panggung sastra Indonesia. Beberapa karyanya bahkan diakui di panggung internasional.
Ya, di balik ketenaran namanya, kesederhanaan tetap melekat pada diri seorang Warits. Dengan segudang prestasi di dunia penulisan, ia masih tetap mengabdi sebagai guru di Madrasah Tsanawiyah Al Huda juga terletak di Desa Gapura Timur, Kecamatan Gapura.
Di lembaga pendidikan swasta yang jauh dari keramaian dan kebisingan kota itulah, Warits mengabdikan sepenuh jiwa dan raganya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mencetak generasi unggul dengan berbagai prestasi gemilang. Pancaran kiprahnya sebagai guru, sama sekali tidak mengikis semangatnya untuk tetap berkarya, menghiasi media-media ternama Tanah Air. Keduanya tetap berjalan beriringan ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.
"Karena (Madrasah) Al-Huda adalah tempat pertama saya menimba ilmu, dan saya adalah tipe orang yang lebih karib dengan alam perdesaan yang tenang dan tak terlalu berisik. Itulah sebabnya saya menulis buku Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” kata Warits.
Awal Mula Menyukai Puisi
Dulunya, A Warits Rovi, adalah seorang anak muda yang hidup di lingkungan terpencil dan jauh dari keramaian. Ia tidak punya teman untuk sekadar berinteraksi. Dari kesepian inilah, menurut pengakuannya, ia memilih untuk menuliskan keluh kesahnya di kertas. Hingga kemudian ia mulai menyukai puisi.
"Pada saat itu, saya menulis puisi dan cerpen secara manual di buku tulis,” ungkap Warits mengenang.
Pria kelahiran 20 Juli 1988 ini bukan sekadar menulis. Ia menyalakan api, dan semburat cahayanya mampu menerangi kegelapan. Karya-karya sastranya mengalir dari relung pengalaman dan kepekaan, menembus ruang batin pembaca, sekaligus menjadi bukti bahwa sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura pun bisa melahirkan suara besar dalam dunia sastra. Tak heran, berbagai lomba tingkat nasional hingga internasional telah menobatkannya sebagai juara, meneguhkan jejaknya sebagai penyair yang diperhitungkan.
Di antara karya sastranya telah berhasil dibukukan, antara lain
- Dukun Carok dan Tongkat Kayu (Penerbit Basabasi Yogyakarta, 2018)
- Ketika Kesepian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela terpilih sebagai pemenang II di Pekan Literasi Bank Indonesia dan diterbitkan oleh Wadas Kelir 2020
- Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki (Penerbit Basabasi Yogyakarta, 2020)
- Bertetangga Bulan (Penerbit Hyang Pustaka Cirebon, 2022)
- Cinta Sepasang Orang Gila (Kumpulan Cerpen. Hyang Pustaka, 2023)
- Interupsi Tanah Garam (Kumpulan Puisi, Hyang Pustaka, 2025).
Tidak hanya terbit dalam buku, karya-karya sastra Warits juga berhasil menjuarai ajang perlombaan bergengsi tingkat nasional dan internasional.
Pada tahun 2025 hingga tulisan ini dimuat, ada 5 karya terbaiknya meraih di antaranya Juara II Lomba Menulis Cerpen Berbahasa Madura Disdik Sumenep dan Juara I Lomba Cerpen Nasional MDT Darun Najah Lombok Timur (2025). Kemudian dua tahun berturut-turut, Warits bersama beberapa siswanya lolos sebagai anggota Jambore Sastra ASEAN (2024-2025).
Dedikasi untuk Generasi Bangsa
Ada satu hal yang membuat Warits berbeda. Ia tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Baginya, kesuksesan tak hanya diukur dari seberapa tinggi seseorang meraih piala dan penghargaan, tetapi juga dari seberapa jauh mampu menularkan cahaya itu kepada orang lain. Inilah substansi makna kehidupan, tidak hanya berbuat untuk diri sendiri, melainkan juga bermanfaat untuk sesama.
Warits mengawali pengabdian di lembaga tercintanya dengan berkiprah sebagai pembina di kegiatan ekstrakulikuler kepenulisan sejak 2012. Kemudian ia mengajar materi Bahasa Indonesia di Madrasah Tsanawiyah Al-Huda. Medan pengabdiannya kian meluas dan perannya pun makin diperhitungkan. Terbukti beberapa siswa binaannya juga berhasil menjuarai ajang perlombaan bergengsi.
"Semangat yang mendorong saya untuk mengajar menulis karena ada beberapa hal. Pertama, dengan menulis anak-anak akan belajar mengasah kemampuan berpikirnya secara kritis-analitik. Kedua, menulis adalah respons kreatif-dokumentatif terhadap beragam realitas dan wacana yang terjadi di sekitar siswa. Ketiga, sebagai santri, yang kadang kala diserang oleh pihak luar melalui tulisan-tulisan dalam kecamuk ghazwul fikr, maka senjata sebanding untuk melawannya adalah dengan tulisan juga. Keempat, dengan menulis, sudah pasti siswa akan membaca. Sebab tulisan butuh referensi, baik referensi untuk isi maupun referensi untuk teknik penulisan,” terangnya.
Sebagai guru, Warits menyadari betul tanggung jawabnya. Ia melihat anak-anak didiknya bukan sekadar murid di ruang kelas, melainkan tunas-tunas muda yang perlu dirawat, dibimbing, dan diarahkan agar mampu tumbuh dengan gagah di jalan mereka masing-masing. Dari kesadaran itulah lahir dedikasinya membentuk komunitas-komunitas kecil menulis. Dengan sabar, telaten, dan penuh keikhlasan, ia membimbing para siswa-siswinya merangkai kata, menumbuhkan rasa percaya diri, hingga berani mengirim karya ke berbagai media-media ternama dan juga ajang perlombaan.
Hasilnya pun tidak main-main. Anak-anak didik Warits berhasil menorehkan prestasi di berbagai kompetisi nasional bahkan internasional. Dari tangan dinginnya, lahir generasi muda yang tak hanya pandai membaca dan menulis, tetapi juga berani bermimpi besar serta menggapainya.
"Saya membiasakan anak-anak untuk ‘terbiasa berpikir bisa, tekun, dan pantang menyerah’. Biasanya saya awali dengan bercerita tentang perjuangan seorang penulis Amerika yang buta dan tuli, namanya Hellen Keller. Saya bercerita perihal tantangan dan kesulitan Hellen dalam hidupnya sejak kecil hingga ia sukses jadi penulis, dosen, dan aktivis politik,” ujarnya.
Warits seolah ingin menegaskan bahwa sastra bukan hanya soal kata-kata, melainkan juga tentang keberanian untuk membangun manusia. Ia tak ingin prestasinya berhenti di dirinya sendiri. Sebab, baginya, menulis adalah jalan sunyi yang seharusnya membuka cahaya bagi orang lain.
“Selain Hellen, saya juga bercerita tentang lika-liku kesulitan J.K Rowling menulis novel Harry Potter dalam kondisi miskin dan harus menanggung anak sendirian setelah dicerai oleh suaminya. Ia menulis di kafe-kafe pada tisu karena tak punya rumah. Setelah novelnya selesai, dan diajukan ke penerbit, ditolak hingga 12 kali, tapi ia tak menyerah hingga akhirnya sukses. Akan-anak akan merasa tercambuk dengan cerita-cerita itu,” lanjut Warits.
Memberikan Pendampingan Intensif
Bagi Warits, guru bukan sekadar profesi. Ia adalah amanah dan tanggungjawab besar yang tidak boleh disalahgunakan. Karena itulah Warits tidak hanya bertumpu pada buku ajar semata. Ia lebih menekankan pada praktik dan pendampingan intensif dalam aspek kepenulisan, khususnya karya sastra.
"Sepengalaman saya mengajar Bahasa Indonesia, jika siswa hanya diberi materi dari buku ajar, maka mereka pada akhirnya “hanya tahu sedikit dari yang banyak”. Di buku ajar ada banyak bab dan teori, tapi yang banyak itu akhirnya hanya sedikit yang dikuasai karena minus praktik,” ungkap Warits.
"Maka, anak-anak diwajibkan punya buku agenda khusus untuk menulis dan menyetorkan karya setiap minggu atau kadang setiap setengah bulan. Lalu dari karya-karya itu muncullah beberapa kesalahan, kesalahan-kesalahan itu yang dikoreksi dan dipelajari bersama, lalu dipraktikkan kembali dalam tulisan yang benar,” lanjutnya.
Dari sinilah, para siswa bisa belajar bahasa secara kasuistik. Dengan pengalaman empiris, ilmu pengetahuan lebih mudah direkam oleh para siswa. Warits ’memanfaatkan’ kesalahan-kesalahan karya siswa untuk mengembangkan materi pembelajaran, khususnya kebahasaan dan kesastraan.
”Sehingga dengan hanya praktik menulis siswa otomatis tahu banyak dari yang sedikit. Maka bagi saya jelas, jika menggunakan bahan ajar, siswa tahu sedikit dari yang banyak (materi dalam buku ajar). Tapi jika menggunakan praktik menulis, siswa akan tahu banyak dari yang sedikit (puisi/cerpen),” tandas Warits.
Di sela-sela kesibukannya sebagai guru, Warits tetap menulis, membimbing, dan menginspirasi. Dari ruang kelas sederhana di Madrasah Tsanawiyah Al Huda, ia mengajarkan bahwa pena bisa menjadi obor yang menerangi jalan hidup, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi siapa saja yang sudi belajar darinya. Di waktu senggang, ia menghibahkan waktu dan tenaga untuk mengisi konten tulisan di situs web PCNU Sumenep yang dikelola dengan beberapa koleganya.
A Warits Rovi adalah bukti nyata bahwa seorang guru di pelosok desa pun bisa menembus panggung dunia, selama ia setia pada kata, ikhlas berbagi, dan tak pernah berhenti menyalakan cahaya untuk membasmi kegelapan.
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
Editor: Kendi Setiawan
