Arina.id - Sentral isu perang Israel vs Iran sekarang ada pada dua sosok: Presiden Amerika Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Keduanya memegang peran kunci apakah eskalasi perang bakal semakin meluas atau tidak.
Dalam jumpa pers di halaman Gedung Putih kemarin, Donald Trump mengatakan belum memutuskan apakah akan membawa negaranya ke perang baru bersama Israel atau tidak. Sebab pemimpin tertinggi Iran, Khamenei mengatakan AS akan menghadapi "kerusakan yang tidak dapat diperbaiki" jika mengerahkan militernya untuk menyerang.
Seperti dilaporkan The Guardian, sebelumnya Khamenei mengatakan Israel telah membuat kesalahan besar dengan melancarkan perang terhadap Iran. Dalam komentar pertamanya sejak Jumat, 13 Juni 2025, itu ia juga mengancam Washington jika terlibat.
"Orang Amerika harus tahu bahwa setiap intervensi militer AS niscaya akan disertai dengan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki," katanya dalam sebuah pernyataan yang dibacakan oleh seorang presenter di TV pemerintah Iran.
Teheran saat ini sedang mempersiapkan rudal dan peralatan canggih lainnya untuk menyerang pangkalan AS di kawasan terdekat jika Washington bergabung dalam perang, situasi itu dilaporkan New York Times yang mengutip omongan seorang sumber anonim pejabat intelijen AS.
Warning Khamenei yang dibacakan presenter TV Iran tersebut agaknya kemudian memengaruhi Trump. Beberapa jam kemudian Trump mengklaim pejabat Iran telah melakukan kontak untuk meminta pertemuan dan mengusulkan kunjungan ke Gedung Putih.
Namun kepada wartawan, Trump merasa usulan pertemuan dari Iran tersebut sudah sangat terlambat. Meskipun begitu ia menegaskan kalau sampai detik ini belum membuat keputusan akhir apakah Amerika bakal memasuki perang atau tidak.
"Saya mungkin melakukannya, mungkin juga tidak. Maksud saya, tidak seorang pun tahu apa yang akan saya lakukan," kata Trump kepada wartawan. Jawaban Trump tersebut mengisyaratkan kalau posisinya sedang bimbang.
Orang dekat Trump mengatakan kejelasan sikap Amerika tergantung presiden sendiri yang sekarang masih dalam tahap pembuatan kesepakatan dengan Iran. Sikap Amerika juga bisa dipahami kalau tetap ingin membuka semua opsi demi memberikan tekanan maksimal pada Teheran.
Armada AS bergerak ke Timur Tengah
Di sisi lain, The Guardian melaporkan kalau armada perang AS sedang memindahkan tanker udara untuk pengisian bahan bakar di udara ke Spanyol dan Yunani. Hal itu dalam rangka persiapan bila sewaktu-waktu eskalasi meningkat, di mana tanker bisa digunakan untuk memasok pesawat pengebom B-2 dalam perjalanan jauh dari pangkalan udara Whiteman di Missouri ke Iran.
Walaupun, sampai sekarang tidak ada permintaan yang diajukan kepada Inggris untuk menggunakan pangkalan udara Diego Garcia di Samudra Hindia untuk uji coba pengeboman B-2 atau pangkalan udara Akrotiri di Siprus untuk pesawat pengisian bahan bakar.
Aset militer AS lainnya juga sedang dalam perjalanan ke Timur Tengah. Pentagon telah memerintahkan kapal induk USS Nimitz untuk berlayar dari Singapura ke Middle East, yang diperkirakan akan memakan waktu antara lima sampai tujuh hari. Kapal USS Carl Vinson sekarang juga sudah berada di Laut Arab.
Media Israel melaporkan, Qatar dan Oman berusaha menengahi gencatan senjata. Dari pelacakan radar Israel terekam sebuah pesawat yang diduga milik pemerintah Iran terbang ke Muscat di Oman. Iran seolah mengirim pesan bersedia berunding, menegosiasikan kesepakatan dengan AS, tetapi Israel perlu menenangkan keadaan.
Namun belakangan misi Iran membantah kabar itu. Mereka bahkan dengan nada ketus menepis klaim Trump bahwa Teheran menawarkan diri datang ke Gedung Putih. “Tidak ada pejabat Iran yang pernah meminta untuk merangkak di gerbang Gedung Putih,” demikian pernyataan misi tersebut di akun media sosialnya.
Upaya menenangkan Iran juga dilakukan Menteri Luar Negeri Inggris, Prancis, dan Jerman yang berencana bertemu dengan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi, di Jenewa pada hari Jumat nanti. Pertemuan itu dibungkus dengan narasi "terobosan diplomatik potensial" setelah lima hari pengeboman terhadap Israel.
Akan tetapi rencana kementerian luar negeri tiga negara Sekutu Amerika tersebut belum bisa dikonfirmasi kepada Iran. Namun bila rencana Inggris, Prancis dan Jerman tersebut bisa terealisasi, maka akan menjadi pertemuan diplomatik tatap muka pertama sejak krisis dimulai.
Dalam unggahan di media sosial pada Rabu malam, Araghchi menulis bahwa Iran “tetap berkomitmen pada diplomasi. Seperti sebelumnya, kami serius dan berpandangan jauh ke depan dalam pandangan kami.”
Pembicaraan di Jenewa akan difokuskan pada bagaimana Iran bersedia mengurangi atau menutup program nuklirnya, dan juga akan dihadiri oleh kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas. Namun Araghchi dikabarkan menolak bertemu utusan Donald Trump, Steve Witkoff, dengan alasan AS mendukung serangan Israel.
Iran pantas marah dengan sikap plin plan Amerika. Pemerintahan Trump awalnya menjauhkan diri dari perang tersebut, dengan mengatakan Israel telah bertindak sendiri, tetapi dalam beberapa hari terakhir telah meningkatkan retorika dan kehadiran militernya di Timur Tengah.
Alih-alih menenangkan, Amerika malah terbujuk rayuan Israel, terprovokasi dengan isu pengoperasian fasilitas nuklir Fordow milik Iran. Israel menuntut Fordow ditutup yang kemudian diamini AS dan menyeretnya ikut berperang.
Editor: Muhammad Taufiq
