Yogyakarta, Arina.id – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Noorhaidi Hasan membagikan pengalaman pribadinya saat menempuh studi Doktoral di Belanda. Dia menuturkan bagaimana dirinya menghadapi tantangan akademik di kelas dunia, termasuk harus berjuang sendirian selama 11 bulan sebelum istrinya menyusul dengan beasiswa, sementara anak mereka masih kecil.
"Kerja sama dalam mengurus anak di tengah kesibukan studi menjadi salah satu cara mengatasi kesulitan," kata Prof Noorhaidi saat audiensi dengan delegasi Dewan Mahasiswa (Dema) usai peringatan HUT Ke-79 RI, Sabtu (17/8/2024) dikutip dari uin-suka.ac.id.
.
Sosok yang mengenyam Pendidikan Doktoral di Negeri Kincir Angin tersebut mengenang masa-masa bekerja hingga larut malam di gedung tua yang dibangun pada tahun 1500-an. Dia menceritakan sering bersepeda kembali ke apartemen hingga pukul 11 malam.
Kemandirian dan kerja keras yang dijalani bersama istri selama studi di Belanda berbuah manis dengan predikat cumlaude, yang sangat sulit diraih di universitas tersebut.
Prof Noorhaidi menjadi orang Indonesia kedua yang meraih predikat cumlaude di Belanda, dengan tiga gelar akademik yang diperolehnya, yaitu M.A., M.Phil., dan Ph.D.
Setelah menyelesaikan studi, Prof Noorhaidi melanjutkan program postdoctoral selama dua tahun di National University of Singapore.
Dia kembali ke Indonesia pada tahun 2011 setelah 13 tahun di luar negeri, dan menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga.
Empat tahun kemudian, ia menjadi Direktur Pascasarjana di kampus yang sama, sebelum menjadi Dekan di Universitas Islam Internasional Indonesia. Saat ini, ia kembali mengabdi di UIN Sunan Kalijaga sebagai Rektor setelah dilantik oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di Auditorium HM Rasjidi Kantor Kementerian Agama Jl. M.H. Thamrin No. 6 Jakarta, Jumat (9/8/2024).
Prof Noorhaidi juga membagikan kilas balik perjalanan akademiknya, menjadi Guru Besar sejak 2014, menimba ilmu di luar negeri sejak 1997 hingga 2011.
Dia berharap mahasiswa dapat mengikuti jejaknya, mengasah kemampuan bahasa Inggris, dan menempuh S3 dengan beasiswa di luar negeri.
"Negeri sendiri memang indah, tetapi negeri orang tidak kalah indah," ucapnya.
Sebagai Rektor, menurutnya ia mengemban tugas berat untuk menerjemahkan pesan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengenai tata kelola kampus dan meningkatkan daya saing universitas. Civitas akademika diharapkan aktif berkontribusi dan terlibat dalam merespons isu-isu keragaman, kerukunan, moderasi, dan berbagai isu penting lainnya melalui artikel, opini, dan tulisan ilmiah lainnya.
Ia pun mengkilas balik bagaimana sulitnya hidup pada masa lalu. Dia banyak menulis artikel dan resensi guna mendapatkan tambahan finansial. Menurutnya kegiatan kreatif semacam itu saat ini sudah mulai hilang. Diskusi yang membahas isu-isu ke-Islaman yang dulu banyak dijumpai di selasar masjid kini juga semakin jarang terlihat.
Prof Noorhaidi juga menyinggung pentingnya internasionalisasi. Salah satu pencapaiannya sebagai Dekan di Pascasarjana UIII adalah menciptakan tiga program double degree, salah satunya dengan SOAS University of London.
Editor: Kendi Setiawan
