Kisah Elis, ASN Kemenag Gagas Gerakan Seribu Rupiah untuk Ringankan Pendidikan Anak

Kisah Elis, ASN Kemenag Gagas Gerakan Seribu Rupiah untuk Ringankan Pendidikan Anak

Di usia 37 tahun, Zulfa Elisabeth justru memulai babak baru dalam hidupnya. Saat banyak orang seusianya telah mapan sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Agama, dosen antropologi UIN Walisongo Semarang itu baru menapaki langkah awalnya sebagai pegawai negeri.

Perempuan yang akrab disapa Elis tersebut mungkin bisa menjadi ASN di usia yang jauh lebih muda. Namun dia bersama sang suami, yang juga seorang aparatur sipil negara telah sepakat untuk lebih dulu membesarkan buah hati mereka sebelum kembali mengejar karier.

"Saya dan suami waktu itu telah sepakat, biar anak-anak dulu yang tumbuh dengan pendampingan penuh," ujarnya saat ditemui di kediamannya, Sabtu (25/10/2025). 

Di usia yang nyaris menyentuh kepala empat, Elis memberanikan diri mendaftar formasi dosen antropologi di IAIN Walisongo sekarang UIN Walisongo para tahun 1999. Dari sekian banyak pelamar muda, justru namanya yang keluar sebagai satu-satunya peserta yang diterima. Sejak itulah Elis mulai menapaki jalan pengabdiannya sebagai dosen hingga saat ini. 

Bagi Elis, ruang kuliah hanyalah salah satu panggung pengabdian. Di luar kampus, dia dikenal luas sebagai aktivis perempuan yang vokal menyuarakan keadilan. Melalui komunitas yang didirikan yaitu Sahabat Perempuan Semarang (Safira), Elis giat mengedukasi masyarakat soal kesetaraan gender dan menjadi tempat bernaung bagi korban kekerasan terhadap perempuan.

Tak jarang, Elis juga berdiri di barisan demonstran, membawa poster dan suara lantang menuntut keadilan bagi kaum perempuan.

Jiwa sosial Elis tak berhenti sampai di situ. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia menginisiasi Gerakan Seribu Rupiah (GSR), sebuah gerakan sederhana yang kemudian memberi dampak besar bagi dunia pendidikan melalui pemberian beasiswa kepada anak-anak yang kesulitan membayar biaya sekolah maupun kuliah. 

Elis bercerita lahirnya GSR berawal dari peristiwa sederhana. Suatu hari, Elis didatangi seorang mahasiswa yang mengaku kesulitan membayar SPP. Padahal, saat itu biaya kuliah di IAIN Walisongo masih tergolong murah. 

"Saya masih ingat, waktu itu ada seorang mahasiswa yang juga bekerja sebagai sales permen datang mengeluh karena belum bisa membayar SPP. Uangnya masih kurang Rp175.000, padahal biaya SPP di IAIN waktu itu tergolong paling murah sekitar Rp652.000," kenangnya. 

Malam harinya, Elis menceritakan pengalaman membantu mahasiswa itu dalam forum pengajian ibu-ibu di Masjid At-Taqwa. Tak disangka, kisah sederhana tersebut membuat banyak ibu-ibu terharu dan tergerak untuk ikut melakukan hal serupa untuk membantu mereka yang kesulitan, meski dengan cara paling sederhana.

"Saya ceritakanlah kejadian itu ke ibu-ibu, ternyata ada yang sampai nangis, ada juga yang merinding. Lalu saya bilang, kalau dari pribadi saya, menolong orang itu enggak masalah. Tapi untuk apa gerakan individual? Yang bagus itu gerakan bersama, supaya pahalanya bisa didapatkan bersama dan kebaikannya juga dirasakan bersama," ungkap Elis. 

Sejak saat itulah GSR lahir. Elis menyampaikan dari forum pengajian malam itu terkumpul dana sebesar Rp275.000. Uang tersebut menjadi modal awal gerakan sosial yang terus tumbuh hingga kini.

Elis lalu mulai mendata anak-anak di lingkungan RW 3 yang mengalami kesulitan membayar biaya pendidikan. Tak disangka, di balik lingkungan perumahan yang tampak cukup itu, tersimpan kenyataan bahwa masih banyak anak yang belum mampu melunasi biaya sekolah. 

"Ternyata di balik tembok-tembok rumah yang tampak bagus, kami masih menemukan beberapa anak yang bahkan belum pernah melihat rapor karena belum bisa membayar uang sekolah. Beasiswa yang kami berikan langsung dibayar ke sekolah, kalau kami kasih ke orang tuanya takut dipakai untuk kebutuhan sehari-hari," ujar Elis. 

Sejak Gerakan Seribu Rupiah (GSR) berdiri 18 tahun silam, Elis mencatat sudah ratusan anak yang mendapat suntikan biaya pendidikan dari gerakan tersebut. Bahkan, ada satu sekolah yang setiap angkatannya rutin menerima bantuan dari dana yang dikumpulkan melalui GSR.

"Sebenarnya gerakan seribu rupiah itu cuma simbol. Kami memilih nama GSR agar semua orang merasa ringan untuk berinfak, berapa pun jumlahnya. Bukan besar kecilnya yang penting, tapi kemauan untuk berbagi," imbuhnya. 

Seiring berjalannya waktu, GSR yang dikelola oleh Elis dan ibu-ibu pengajian tersebut kian berinovasi. Mereka menggagas program sedekah sampah, di mana barang-barang bekas seperti botol plastik, kertas dan pakaian layak pakai dapat didonasikan. Hasil penjualannya digunakan untuk menambah kas beasiswa serta membantu warga yang membutuhkan.

Selain membantu anak-anak melalui beasiswa pendidikan, GSR juga memperhatikan kondisi ekonomi para orang tua. Melalui program pemberdayaan, GSR, kata Elis memberikan pinjaman usaha tanpa bunga agar para orang tua dapat meningkatkan penghasilan dan mandiri secara ekonomi.

Elis melanjutkan, untuk semester ini GSR telah menyalurkan beasiswa kepada 50 anak sekolah, mulai dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Baginya, pendidikan adalah aset penting bagi masa depan, karena dari sanalah perubahan dan kemandirian bisa tumbuh.

"Harapannya, karena ini gerakan sosial, semakin banyak orang yang terikat secara hati supaya apa yang dilakukan benar-benar bermanfaat. Pendidikan itu kan sumber daya strategis, kita bantu anak sekolah sekarang, dampaknya akan terasa di masa depan," tandasnya. 

Salut setinggi-tingginya untuk Elis, seorang ASN Kemenag serta pengurus GSR lainnya. Dari mereka kita belajar bahwa kebaikan tidak diukur dari besar kecilnya nilai, melainkan dari ketulusan hati.

Dari gerakan kecil, mereka menebar dampak besar bagi sesama. Semoga semangat orang-orang baik seperti mereka terus menular dan tumbuh di banyak tempat. (MRD)

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama
 


Editor: Muhammad Taufiq
logo