Jakarta, Arina.id-Suriah dalam kondisi memburuk baru-baru ini setelah oposisi bersenjata merebut sejumlah kota besar, mulai dari Aleppo, Hama, Deir ez-Zor, Dara dan Homs pada 7 Desember 2024 lalu. Hal itu memicu ketidakpastian kondisi warga di sana.
Bahkan serdadu oposisi terus merangsek ke sejumlah kota lain sehari berikutnya, 8 Desember 2024. Gerakan mereka semakin kuat sampai menguasai Damaskus. Hal itu menyebabkan Presiden Suriah, Bashar Assad, melarikan diri dari negara tersebut dan mencari perlindungan (suaka) ke sekutunya Rusia.
Bukan cuma Bashar Al-Assad, warga Suriah di sejumlah kota pun ketakutan. Mereka mulai mengajukan permohonan suaka ke sejumlah negara di Eropa, salah satunya Jerman. Menurut catatan Kantor Federal untuk Migrasi dan Pengungsi (BAMF), total pemohon suaka ke Jerman mencapai 47.270 orang.
Hanya saja, permohonan puluhan ribu warga yang bernasib malang tersebut ditolak oleh Jerman yang juga merupakan sekutu dari Amerika tersebut. Penyebab penolakan sementara ini karena BAMF kesulitan menilai situasi politik Suriah yang sedang berkembang. Demikian dilaporkan majalah berita Der Spiegel.
Dikutip dari Antara, seorang juru bicara BAMF telah mengonfirmasi penangguhan sementara, seraya mencatat bahwa kasus-kasus yang telah disetujui sebelumnya tetap tidak terpengaruh oleh penangguhan tersebut.
Jerman telah menampung sekitar satu juta warga Suriah, yang sebagian besar mencari perlindungan di negara itu setelah pecahnya perang saudara di Suriah pada 2011.
Dari individu-individu tersebut, sekitar 321.500 telah diberikan status pengungsi, sementara hampir 330 ribu telah menerima izin tinggal jangka pendek di bawah perlindungan tambahan.
"Banyak pengungsi yang telah menemukan perlindungan di Jerman kini akhirnya memiliki harapan untuk kembali ke tanah air mereka di Suriah dan membangun kembali negara mereka. Namun, situasi di Suriah saat ini masih sangat tidak jelas," kata juru bicara tersebut dalam sebuah pernyataan.
"Oleh karena itu, kemungkinan konkret untuk kembali belum dapat diprediksi saat ini dan tidaklah profesional untuk berspekulasi tentang hal itu dalam situasi yang tidak menentu seperti ini," katanya.
"Penilaian lebih lanjut tentang situasi pengungsi Suriah yang tinggal di Jerman juga bergantung pada perkembangan lebih lanjut di Suriah," tambahnya.
Status warga Suriah di Jerman dan kebijakan pengungsi Berlin telah menjadi poin politik utama menjelang pemilu cepat pada Februari. Sementara itu, politikus senior dari partai oposisi Kristen Demokrat (CDU/CSU) mendorong pemulangan pengungsi Suriah ke tanah air mereka.
Partai Sosial Demokrat (SPD) Kanselir Olaf Scholz dan mitra koalisinya Partai Green menganjurkan pendekatan yang lebih hati-hati, dengan alasan kondisi di Suriah yang tidak stabil.
Editor: Muhammad Taufiq
