Sebuah laporan tahunan Amerika tentang kebebasan beragama di seluruh dunia telah mengkonfirmasi bahwa terjadi serangan yang dilakukan polisi Israel terhadap para pelayat saat prosesi pemakaman jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh di Yerusalem, tahun lalu.
Laporan yang dirilis pada Senin kemarin, itu menunjukkan secara rinci bahwa pada 13 Mei 2022, otoritas Israel menggunakan kekerasan untuk "mengganggu" pemakaman reporter Palestina-Amerika yang ditembak mati oleh pasukan Israel beberapa hari sebelumnya. Serangan itu sendiri kemudian memicu kecaman internasional.
“Sebelum prosesi pemakaman, puluhan petugas polisi Israel yang mengenakan alat pelindung menyerbu kerumunan yang berkumpul di rumah sakit. Mereka memasuki rumah sakit, memukul dan mendorong orang ke dalam dengan pentungan dan menembakkan gas air mata dan granat gegar otak, menurut media Israel dan rekaman yang dirilis oleh rumah sakit,” tulis laporan Departemen Luar Negeri AS.
Ia mengutip laporan media Israel yang mengatakan bahwa seorang petugas polisi mengatakan kepada para pelayat bahwa prosesi pemakaman tidak akan dimulai sampai para demonstran menghentikan aksi protesnya.
"Video selama prosesi pemakaman mendokumentasikan polisi memukuli pengusung jenazah dengan tongkat sehingga peti mati hampir jatuh ke tanah," kata laporan Amerika Serikat. “Polisi menyita bendera Palestina dari peti mati, mobil jenazah, dan pelayat,” sambungnya.
Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden menyatakan keprihatinan tentang "gangguan" pada pemakaman Abu Akleh oleh polisi Israel. Laporan Senin kemarin disebut sebagai petanda pengakuan atas insiden tersebut. Otoritas Israel tidak menghukum petugas yang terlibat dalam serangan itu.
Tahun lalu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan dia "sangat terganggu" oleh "gambaran" serangan terhadap pemakaman Abu Akleh, tetapi berhenti mencela perilaku Israel.
“Setiap keluarga berhak untuk dapat mengistirahatkan orang yang mereka cintai dengan cara yang bermartabat dan tanpa hambatan,” kata Blinken saat itu.
Abu Akleh, koresponden veteran Al Jazeera, ditembak mati oleh militer Israel saat meliput penyerbuan di kota Jenin, Palestina pada 11 Mei 2022.
Pekan lalu, keluarga Abu Akleh dan Jaringan Media Al Jazeera memperbaharui seruan untuk pertanggungjawaban dalam kasus pada tahun pertama pembunuhannya.
Pemerintahan Biden mengutuk kematian Abu Akleh yang ditembak mati, tetapi di sisi lain mereka menyatakan bahwa jurnalis itu dibunuh secara tidak sengaja. Meski begitu, beberapa investigasi independen oleh media dan saksi mata mengatakan bahwa jurnalis tersebut tidak berada di sekitar pertempuran ketika dia ditembak.
Editor: Muhammad Zunus
