Arina.id - Warga Israel sudah menentukan arah nasibnya ke depan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) kemarin, Selasa 27 Oktober 2026. Meski hasil real count belum terlihat, namun exit poll justru menjadi pukulan telak bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang berupaya mempertahankan kekuasaannya setelah bertahun-tahun.
Hasil jajak pendapat terakhir menunjukkan partai Yashar pimpinan mantan kepala militer Gadi Eisenkot unggul tipis di atas Likud pimpinan Netanyahu. Yashar diproyeksi memenangkan 22 hingga 23 kursi, dibandingkan dengan 19 hingga 21 kursi yang diperoleh Likud.
Hasil tersebut tentu saja menjatuhkan Netanyahu sebagai calon petahana yang berupaya mempertahankan kekuasaannya setelah bertahun-tahun mendominasi politik Israel. Meski blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot diproyeksikan memperoleh lebih banyak kursi dibandingkan kubu Netanyahu, kedua pihak belum memiliki jalan yang pasti membentuk pemerintahan.
Dikutip dari BBC . com , setelah pemilu Netanyahu mengatakan bahwa sayap pemerintahan kanan yang "kuat" harus dibentuk, sementara Eisenkot mengatakan kepada para pendukungnya bahwa Israel telah memilih untuk mengakhiri masa jabatan Netanyahu.
Namun keunggulan tipis tersebut setidaknya berpotensi memberi Eisenkot kesempatan pertama untuk menyusun koalisi. Namun, kebuntuan politik justru bisa menguntungkan Netanyahu. Ia tetap menjalankan pemerintahan sementara selama partai-partai politik bernegosiasi untuk membentuk konsensus baru.
Sebelumnya, warga Israel melakukan pemungutan suara untuk memilih parlemen pada Selasa pagi kemarin, 27 Oktober 2026. Pemilu parlemen ini akan menentukan pemerintahan baru Negeri Zionis itu yang diprediksi melengserkan pemerintahan Netanyahu.
Anadolu melaporkan sekitar 7,3 juta warga Israel memilih pemerintahan baru, termasuk 1,2 juta orang Palestina yang merupakan warga Israel. Pemilu berlangsung di 12.018 tempat pemungutan suara, dengan sekitar 18.000 kotak suara ditempatkan di seluruh negeri.
Sebanyak 37 partai bersaing memperebutkan kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang. Koalisi pemerintahan membutuhkan dukungan dari setidaknya 61 anggota parlemen. Di bawah sistem perwakilan proporsional Israel, masyarakat memilih partai, bukan individu. Partai harus memperoleh setidaknya 3,25 persen suara sah untuk masuk parlemen.
Menjelang pemilu, Israel sempat bergejolak ketika ribuan orang yang berkumpul di Tel Aviv menggelar demonstrasi anti-pemerintah secara besar-besaran sejak empat hari lalu, Sabtu 24 Oktober 2026. Tiga hari menjelang pemilu yang secara luas dipandang sebagai referendum terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Aksi protes tersebut diorganisir oleh Dewan Oktober, sebuah kelompok yang didirikan oleh keluarga para korban dan sandera yang ditawan oleh militan Palestina pada 7 Oktober 2023, untuk menuntut pertanggungjawaban atas kegagalan mencegah serangan Hamas yang memicu perang Gaza.
Menurut media Israel, pertemuan tersebut dihadiri oleh para pemimpin dari empat partai oposisi utama, termasuk Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer yang memiliki hubungan dekat dengan Netanyahu dan mendapat sambutan hangat dari hadirin.
"Tiga hari sebelum pemilu, kami akan mengadakan acara puncak yang menandai tiga tahun perjuangan untuk mengungkap kebenaran, menuntut pertanggungjawaban, dan membentuk komisi penyelidikan negara," tulis Dewan Oktober di X menjelang unjuk rasa tersebut.
Ribuan orang berpawai dari Lapangan Rabin di pusat kota menuju Lapangan Sandera, sebuah titik fokus bagi protes anti-pemerintah di masa lalu untuk menuntut pendidikan mereka yang ditawan di Gaza.
“Siapapun yang memimpin kita selama empat tahun terakhir (sejak pemerintahan Netanyahu berkuasa pada akhir tahun 2022) telah melakukan pekerjaan yang sangat buruk,” kata Hadas Feuershte. “Israel belum pernah berada dalam situasi seperti sekarang ini,” tambahnya.
Editor: Muhammad Taufiq
