Arina.id – Iran memberikan pengecualian terhadap pembatasan pelayaran di Selat Hormuz bagi kapal-kapal dari India, China, Irak, dan Qatar. Kebijakan tersebut disebut sebagai bagian dari kepentingan ekonomi dan diplomatik Teheran di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Wakil Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Amir Hayat Moqaddam, mengatakan kapal-kapal dari keempat negara tersebut dapat melintasi jalur strategis itu tanpa menghadapi pembatasan dari Iran.
"Kapal-kapal dari negara-negara ini berlayar dengan bebas, dan Amerika pun tidak mencegatnya," kata Hayat Moqaddam kepada Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA), Selasa (3/11/2026).
Pengecualian tersebut diberikan ketika Selat Hormuz masih berada dalam situasi pembatasan akibat konflik militer Iran dengan AS dan Israel. Iran secara efektif menutup jalur pelayaran tersebut sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Sementara itu, AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan selatan Iran pada Juli 2026.
Kebijakan Teheran itu tidak semata-mata berkaitan dengan hubungan diplomatik. Ada kepentingan ekonomi dan politik yang ingin diperoleh Iran melalui pemberian akses khusus kepada kapal-kapal dari empat negara tersebut.
Imbalan Obat-obatan dan Dukungan Politik
Hayat Moqaddam menjelaskan, pengecualian bagi kapal India berkaitan dengan kebutuhan Iran terhadap pasokan obat-obatan dari negara Asia Selatan tersebut.
Sementara itu, akses khusus bagi kapal China diberikan untuk memperoleh dukungan politik Beijing terhadap Teheran.
Iran juga disebut akan memungut biaya transit dari kapal-kapal India dan China. Sebaliknya, kapal Qatar diperbolehkan melintasi Selat Hormuz tanpa dikenakan biaya. Hayat Moqaddam tidak menjelaskan apakah kapal-kapal Irak juga diwajibkan membayar biaya pelayaran.
Kebijakan tersebut memperlihatkan bagaimana Iran memanfaatkan posisi strategisnya di Selat Hormuz untuk mempertahankan jalur perdagangan sekaligus memperkuat hubungan dengan negara-negara yang dianggap memiliki kepentingan bersama.
Analis Iran dan peneliti afiliasi Departemen Sejarah dan Studi Hak Asasi Manusia Universitas Lund, Rouzbeh Parsi, menilai mekanisme pertukaran kepentingan bukan hal baru bagi Iran yang telah lama berada di bawah tekanan sanksi internasional.
"Iran telah berada di bawah sanksi untuk waktu yang sangat lama, sehingga barter dan imbalan timbal balik dalam perdagangan bukanlah hal baru," kata Parsi kepada Al Jazeera.
Menurut dia, situasi saat ini membuat Iran berupaya mencari celah dari embargo untuk memastikan barang dan jasa penting tetap dapat masuk maupun keluar dari negaranya.
Senada, Nader Hashemi, profesor madya politik Timur Tengah di Universitas Georgetown, memperkirakan Iran kemungkinan menerapkan biaya transit atau persentase tertentu dari nilai muatan kapal sebagai imbalan atas izin melintas tanpa gangguan.
China Berpotensi Menjadi Mitra Strategis Iran
Analis keamanan dan pertahanan Wolfgang Pusztai menilai kebijakan tersebut berpotensi memberikan keuntungan finansial yang signifikan bagi Iran, terutama melalui hubungan perdagangan dengan China.
China merupakan pembeli terbesar minyak mentah Iran. Menurut Pusztai, negara tersebut menyerap hampir 90 persen dari total ekspor minyak Iran.
"Jika berhasil, langkah ini akan menghasilkan pendapatan yang signifikan bagi Iran, karena China merupakan pembeli minyak mentah Iran terbesar," kata Pusztai kepada Al Jazeera.
Selain kepentingan ekonomi, Iran juga berupaya memanfaatkan hubungan dengan Qatar dan India untuk memperlemah dukungan internasional terhadap strategi Washington dalam konflik tersebut.
Qatar memiliki posisi penting karena merupakan salah satu negara utama pemasok gas alam cair (LNG) ke pasar internasional. Negara itu juga memainkan peran diplomatik melalui upaya mediasi untuk mengakhiri konflik antara Iran, AS, dan Israel.
Pemberian akses gratis bagi kapal Qatar dinilai menjadi bagian dari upaya Iran mempertahankan dukungan diplomatik Doha.
Sementara itu, India memiliki kepentingan besar terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz karena jalur tersebut menjadi salah satu rute penting bagi pasokan energi ke negaranya.
Editor: Muhammad Zunus
