Arina.id - Pasukan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali menggempur Ibu Kota Iran Teheran, Kamis 2 April 2026. Serangan rudal pesawat ini menghantam pabrik baja dan jembatan yang dianggap sebagai jalur penghubung pengangkutan drone Iran.
Serangan juga menghantam rumah eks Menteri Luar (Menlu) Iran Kamal Kharazi, yang dulunya merupakan penasihat mendiang Ayatollah Khamenei. Kharazi, dilaporkan mengalami luka serius dalam upaya pembunuhan yang menewaskan istrinya.
Dikutip dari Aljazeera, media-media Iran melaporkan rumah Kharazi di Teheran menjadi sasaran serangan udara. Pejabat tersebut dirawat di rumah sakit dengan luka serius.
“Kami telah melihat apa yang tampak seperti upaya pembunuhan terhadap mantan menteri luar negeri, Kamal Kharazi… Kami tidak tahu mengapa dia menjadi sasaran. Dia terluka parah, dan istrinya tewas,” kata Mohamed Vall dari Al-Jazeera.
Vall mengatakan, serangan udara ini dilaporkan terjadi hampir di seluruh Iran, termasuk di Teheran, Isfahan, dan Shiraz. Empat orang dilaporkan tewas di Larestan, di Iran selatan.
Juru bicara Kementerian Kesehatan setempat, Hossein Kermanpour, mengatakan serangan tersebut menargetkan Institut Pasteur Iran, sebuah pusat penelitian medis yang didirikan pada tahun 1920, dan menyebabkan kerusakan parah.
Dalam sebuah unggahan di X, Kermanpour menyebut serangan terhadap "pilar kesehatan global yang berusia seabad" di Teheran sebagai "serangan langsung terhadap keamanan kesehatan internasional".
Sementara itu, juru bicara komando gabungan angkatan bersenjata mengatakan Teheran akan terus melanjutkan perang di Timur Tengah sampai AS dan Israel menghadapi "penyesalan permanen dan penyerahan diri", seperti yang dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Tasnim.
Ebrahim Zolfaghari, juru bicara markas besar pusat Khatam al-Anbiya, mengatakan bahwa penilaian AS dan Israel terhadap kemampuan militer Iran "tidak lengkap" dan bahwa Teheran akan meningkatkan aksi militernya, dengan serangan yang "lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih merusak" yang akan dilancarkan terhadap musuh-musuhnya.
Ancaman tersebut menyusul komentar Presiden AS Donald Trump bahwa Washington akan menyerang Iran "dengan sangat keras" dalam beberapa minggu, meskipun Iran "pada dasarnya telah hancur" dan AS berada di jalur yang tepat untuk mencapai tujuan militernya.
Menanggapi pidato Trump, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa Teheran “tidak akan menolerir siklus kejam perang, negosiasi, gencatan senjata, dan kemudian mengulangi pola yang sama.”
“Ini adalah perang tidak adil yang dipaksakan kepada rakyat Iran. Kita tidak punya pilihan selain melawan dengan keras,” tambahnya.
Lebih dari 2.000 orang tewas di Iran sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan pada 28 Februari. Setidaknya 24 orang tewas di Israel, serta 13 tentara AS di wilayah tersebut.
Sementara itu sedikitnya empat warga Israel terluka di Bnei Brak, sebelah timur Tel Aviv, menyusul serangan rudal Iran pada Rabu malam. Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel pada hari Kamis mengeluarkan beberapa peringatan tentang serangan roket yang akan datang, dan menyarankan masyarakat untuk berlindung.
'Tidak ada ruang untuk diplomasi'
Pekan lalu, beberapa laporan media mengutip Kharazi yang mengatakan Iran belum menutup semua jalur negosiasi dan terbuka untuk kemungkinan pembicaraan tidak langsung. Meskipun, kata dia, dalam sebuah wawancara dengan CNN bulan lalu, ia mengatakan bahwa "tidak melihat ruang untuk diplomasi" dengan AS.
“Trump telah menipu orang lain dan tidak menepati janjinya, dan kami mengalami hal ini dalam dua kali negosiasi – bahwa saat kami sedang bernegosiasi, mereka menyerang kami,” kata Kharazi kepada CNN.
Vall dari Al Jazeera mengatakan bahwa meskipun motif pasti dari upaya pembunuhan tersebut belum jelas, Kharazi dikenal sebagai kepala Dewan Strategis untuk Hubungan Luar Negeri dan mantan penasihat mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei , yang dibunuh oleh AS dan Israel pada hari pertama perang.
“Israel dan Amerika belum bertanggung jawab atas operasi ini, tetapi ini adalah hal yang menimbulkan kekhawatiran,” kata Vall.
“Pihak Iran telah memperingatkan bahwa setiap pembunuhan lebih lanjut di negara itu berarti mereka akan membalas dendam terhadap lebih banyak kepentingan Amerika, khususnya perusahaan dan fasilitas teknologi dan kecerdasan buatan di kawasan tersebut, karena mereka berpikir perusahaan-perusahaan tersebut membantu dalam pembunuhan yang ditargetkan di Iran.”
Dalam perang terbaru mereka terhadap Iran, militer AS dan Israel telah membunuh para ilmuwan nuklir Iran , serta tokoh-tokoh senior pemerintah, termasuk pejabat keamanan Iran Ali Larijani dan komandan pasukan Basij internal Iran, Gholamreza Soleimani.
Iran membalas setiap serangan
Sehari sebelumnya, Rabu 1 April 2026, Iran telah membalas serangan gabungan AS-Israel sebelumnya dengan menembakkan 10 rudal balistik ke Israel Tengah. Serangan balasan Teheran ini disebut-sebut yang paling besar sejak awal perang pada 28 Februari 2026 lalu. Demikian dilaporkan media Israel.
Middle East Monitor melaporkan, sirene berbunyi di seluruh Israel tengah saat rudal-rudal tersebut terdeteksi. Tim penyelamat juga segera menanggapi laporan dampak di beberapa daerah, yang kemungkinan disebabkan oleh puing-puing bom berjatuhan.
Satu rudal dilaporkan membawa "hulu ledak kluster," yang menyebarkan bom-bom kecil di wilayah tersebut. Harian Yedioth Ahronoth, media Israel, menambahkan bahwa warga mendengar ledakan di seluruh Israel tengah, sementara sirene diaktifkan di Tel Aviv, Shephelah, dan daerah sekitarnya.
Peluncuran tambahan kemudian dilaporkan terjadi di Israel tengah, utara, dan wilayah Yerusalem. Namun seperti biasanya, media-media Israel tidak akan melaporkan berapa jumlah korban jiwa akibat serangan Iran tersebut.
Editor: Muhammad Taufiq
