Muscat, Arina.id – Angkatan Laut Oman menyelamatkan 25 awak kapal dagang berbendera Panama yang terbakar setelah menjadi sasaran serangan di kawasan perairan Timur Tengah. Insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz setelah Iran melaporkan penghentian operasi tiga kapal tanker minyak yang melintas di jalur tersebut.
Pusat Keamanan Maritim Oman menyatakan, Angkatan Laut Oman melakukan operasi evakuasi terhadap seluruh awak kapal RITI setelah kapal tersebut menjadi sasaran serangan yang memicu kebakaran.
“Angkatan Laut Muscat melaksanakan operasi evakuasi terhadap 25 awak kapal dagang RITI berbendera Panama setelah kapal tersebut menjadi sasaran serangan yang menyebabkan kebakaran di atas kapal,” demikian pernyataan Pusat Keamanan Maritim Oman dikutip dari channelstv.com, Sabtu (31/10/2026).
Seluruh awak kapal kemudian mendapatkan penanganan medis. Namun, otoritas Oman tidak memberikan perincian lebih lanjut mengenai kondisi para awak maupun penyebab pasti kebakaran.
Situs pelacakan kapal MarineTraffic mengidentifikasi RITI sebagai kapal tanker minyak mentah.
Insiden tersebut terjadi ketika lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih terganggu akibat konflik Timur Tengah yang pecah pada 28 Februari 2026 setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Iran membatasi lalu lintas maritim di selat tersebut sejak konflik berlangsung. Padahal, jalur perairan strategis itu biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, mengatakan pasukan AS telah membersihkan jalur pelayaran utama yang diakui secara internasional di Selat Hormuz dari ranjau laut Iran.
Dalam video yang dirilis pada Jumat (30/10/2026), Cooper menyatakan pasukan AS masih berada di kawasan tersebut untuk memastikan jalur pelayaran utama tetap aman dan bebas dari ranjau.
Ia juga mengatakan telah mengunjungi lebih dari 50.000 personel militer AS yang bertugas di kawasan Timur Tengah. Cooper mengulangi pernyataan sebelumnya bahwa Washington telah membantu negara-negara Teluk mengekspor lebih dari 1,5 miliar barel minyak mentah melalui Selat Hormuz sejak musim panas.
Sementara itu, Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal yang berada sekitar 40 mil laut atau 74 kilometer di selatan Pulau Lavan, Iran, terkena proyektil yang belum diketahui jenisnya pada Jumat. Insiden tersebut menyebabkan kebakaran di atas kapal.
“Awak kapal dilaporkan selamat dan sejauh ini tidak ada dampak lingkungan yang dilaporkan,” demikian pernyataan UKMTO melalui media sosial X.
Iran Hentikan Tiga Kapal Tanker
Di tengah insiden tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menghentikan tiga kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz setelah mengalami sejumlah insiden atau diduga menabrak ranjau laut.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut dua kapal tanker yang melintas di bagian timur dan barat Selat Hormuz dihentikan setelah mengalami insiden di perairan selatan selat tersebut.
Iran menuding kapal-kapal itu berusaha melintasi jalur yang tidak diizinkan. Teheran mewajibkan seluruh kapal menggunakan jalur pelayaran yang telah ditentukan serta berkoordinasi dengan angkatan bersenjatanya.
IRGC juga menuduh kapal-kapal tanker tersebut mematikan sistem navigasi dan penentuan posisi sebelum mencoba keluar melalui jalur yang dianggap tidak sah, dengan dukungan militer AS.
Namun, IRGC tidak menjelaskan secara terperinci jenis insiden yang dialami kedua kapal tersebut. Sehari sebelumnya, angkatan bersenjata Iran menyatakan sedikitnya empat kapal tanker berhenti di kawasan itu setelah menabrak ranjau laut.
Dalam pernyataan berikutnya, IRGC menyebut sebuah kapal tanker superbesar yang membawa dua juta barel minyak berhenti setelah terjadi ledakan akibat menabrak ranjau laut ketika melintasi jalur yang tidak diizinkan.
IRGC mengklaim insiden tersebut merupakan kapal tanker ketiga yang meledak dan terbakar pada hari yang sama akibat mencoba melintasi jalur tersebut.
Sebagai respons terhadap pembatasan pelayaran oleh Iran, Amerika Serikat memberlakukan blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kebijakan tersebut semakin membatasi kemampuan Teheran mengekspor minyak dan menjalankan aktivitas perdagangan.
Editor: Kendi Setiawan
