Dari Cuek hingga Merasa Terancam, Ini Empat Level Kesadaran Diri Perspektif Jeff Cooper

Dari Cuek hingga Merasa Terancam, Ini Empat Level Kesadaran Diri Perspektif Jeff Cooper

Jakarta, Arina.id – Mengapa ada orang yang terlalu santai menghadapi hidup, sementara yang lain terus-menerus diliputi kecemasan tentang masa depan?

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz menjelaskan fenomena tersebut melalui empat level kesadaran yakni putih, kuning, oranye, dan merah.

Keempatnya menggambarkan tingkat kewaspadaan seseorang dalam menyikapi keadaan, mulai dari sikap terlalu cuek hingga merasa selalu berada dalam ancaman.

Menurut Fahruddin Faiz, pemahaman terhadap level kesadaran tersebut dapat menjadi bahan introspeksi untuk mengetahui bagaimana seseorang menyikapi keadaan, mengenali kebutuhan diri, serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan.

“Coba nanti kalian pakai ini untuk meneliti teman-temanmu, dirimu sendiri. Generasi hari ini,” ujarnya saat menjelaskan konsep tersebut sebagaimana dalam tayangan Ruang Sinau diakses Sabtu (17/10/2026).

Dalam konsep yang diperkenalkan Jeff Cooper melalui bukunya Principles of Personal Defense, tingkat kesadaran digambarkan menggunakan simbol warna. Fahruddin menjelaskan bahwa setiap warna menunjukkan kondisi kewaspadaan yang berbeda.

Kesadaran Putih: Santai tetapi Tidak Siap
Fahruddin Faiz menjelaskan, level putih menggambarkan seseorang yang merasa rileks, tetapi tidak memiliki kesadaran dan persiapan yang memadai untuk menghadapi situasi yang mungkin terjadi.

Ia mencontohkan orang yang menjalani aktivitas sehari-hari tanpa mempertimbangkan tanggung jawab atau kebutuhan yang harus diselesaikan. Seseorang bisa saja terus menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan atau berkumpul bersama teman, tetapi baru menyadari tugas yang belum dikerjakan ketika tenggat waktu sudah dekat.

“Jadi rileks, tapi tidak punya kesadaran dan tidak siap menghadapi apa pun. Kalau ada apa-apa, kaget, tidak siap,” jelasnya.

Menurut Fahruddin Faiz, sikap terlalu santai tanpa mengenali kebutuhan diri dapat membuat seseorang kewalahan ketika harus menghadapi tanggung jawab. Karena itu, ketenangan perlu disertai kesadaran terhadap keadaan dan kesiapan mengambil tindakan.

Kesadaran Kuning: Santai tetapi Tetap Waspada
Level berikutnya adalah kesadaran kuning. Pada tahap ini, seseorang tetap menjalani kehidupan dengan santai, tetapi mampu mengenali situasi di sekitarnya dan memahami hal-hal yang perlu dipersiapkan.

Ia menilai level kuning sebagai gambaran sikap yang lebih ideal karena seseorang tidak harus terus-menerus merasa khawatir untuk dapat bersikap waspada.

Ia mencontohkan seseorang yang bersedia pergi bersama teman, tetapi tetap memperhitungkan waktu karena memiliki tugas yang harus diselesaikan. Dengan begitu, aktivitas bersantai tidak membuatnya mengabaikan tanggung jawab.

“Dia santai, tapi bukan berarti sembrono. Dia tahu,” tuturnya.

Sikap waspada juga ditunjukkan melalui kemampuan memperhatikan keadaan sekitar dan mengetahui langkah yang dapat diambil apabila terjadi sesuatu. Dengan demikian, seseorang dapat menikmati aktivitasnya tanpa kehilangan kesadaran terhadap situasi yang dihadapi.

Kesadaran Oranye: Kewaspadaan Berlebihan
Berbeda dari level kuning, kesadaran oranye menggambarkan kondisi ketika seseorang mulai mudah cemas dan merasa ada sesuatu yang tidak beres, meskipun belum tentu terdapat ancaman nyata.

Fahruddin menjelaskan, orang pada level ini cenderung terus memikirkan kemungkinan buruk dan mempersiapkan diri secara berlebihan. Kekhawatiran tersebut dapat muncul dalam berbagai hal, termasuk ketakutan terhadap masa depan.

“Selalu merasa ini mesti ada yang salah, ada yang kurang. Ini khawatir terus, cemas terus,” katanya.

Dalam kehidupan generasi muda, kecemasan itu dapat berkaitan dengan masa depan pendidikan, pekerjaan, karier, hingga persoalan jodoh. Jika tidak dikelola dengan baik, kewaspadaan yang semestinya membantu seseorang mempersiapkan diri justru dapat membuatnya terus-menerus merasa gelisah.

Kesadaran Merah: Merasa Terancam
Pada level merah, seseorang tidak hanya mengalami kecemasan, tetapi juga merasa dirinya terus berada dalam ancaman. Kondisi ini dapat membuat seseorang sulit merasa aman dan ragu untuk melakukan berbagai aktivitas.

Fahruddin menggambarkan respons pada level tersebut melalui tiga tindakan, yakni melawan, melarikan diri, atau bersembunyi (fight, flight, and hide).

“Orang ini tidak sekadar cemas, tapi merasa selalu terancam sampai level tidak berani melakukan apa-apa,” jelasnya.

Ia menambahkan, respons untuk menyelamatkan diri memang terkadang diperlukan dalam situasi tertentu. Namun, jika perasaan terancam mendominasi kehidupan sehari-hari, seseorang dapat kehilangan kenyamanan dan keberanian untuk menjalani aktivitasnya.

Menjadikan Level Kesadaran sebagai Bahan Introspeksi
Fahruddin Faiz menegaskan bahwa penjelasan mengenai empat level kesadaran tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi diri.

Seseorang perlu melihat apakah selama ini terlalu santai hingga mengabaikan tanggung jawab, mampu bersikap tenang sekaligus waspada, terlalu sering diliputi kecemasan, atau justru merasa terancam ketika hendak melakukan sesuatu.

Ia juga mengajak generasi muda menggunakan konsep tersebut untuk mengamati kecenderungan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika menghadapi ketidakpastian masa depan.

“Coba nanti kalian pakai ini untuk meneliti teman-temanmu, dirimu sendiri. Generasi hari ini,” ujarnya.

Melalui pemahaman tersebut, generasi muda diharapkan mampu mengenali pola responsnya terhadap berbagai situasi. Dengan demikian, mereka dapat membangun kesadaran diri, mempersiapkan tanggung jawab, dan menjaga kewaspadaan tanpa terjebak dalam kecemasan berlebihan.


Editor: Kendi Setiawan
logo