Arina.id - Jalur Gaza luluh lantak dibombardir militer Israel. Korban tewas mencapai 58 ribu orang dan puluhan ribu lainnya sekarat akibat luka-luka sejak gempuran sedadu negeri Zionis dimulai pada 27 Oktber 2023 lalu itu. Ironisnya, perempuan, anak-anak hingga balita menjadi korban dalam "genosida" tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sampai kewalahan menangani pasien korban perang di Gaza ini. Mereka mendesak lebih banyak negara untuk menerima dan merawat pasien korban perang, menyusul evakuasi medis sekelompok pasien yang sebagian besar anak-anak ke Yordania kemarin, Rabu malam 16 Juli 2025.
Beberapa hari lalu, di tengah gencatan senjata intensitas serangan militer Israel juga tidak mereda. Pasukan Netanyahu itu menyerang wilayah Gaza Selatan hingga menyebabkan puluhan orang tewas. Israel juga sempat mengultimatum warga di sana agar segera mengevakuasi diri sebelum kembali membombardir wilayah tersebut.
Dikutip dari ANTARA, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengunggah keluhan dan curhatan terkait korban perang di Gaza ini. Ia menuliskan, "Organisasi Kesehatan Dunia mengawasi evakuasi medis 35 pasien, kebanyakan anak-anak, dari Gaza ke Yordania. Evakuasi itu didampingi 72 anggota keluarga."
"Kami berterima kasih kepada Pemerintah Yordania atas dukungan dan penyediaan perawatan khusus yang berkelanjutan bagi pasien kritis. Lebih dari 10.000 orang di Gaza masih membutuhkan evakuasi medis," kata Tedros menambahkan.
"Kami mendesak negara-negara lainnya agar menerima pasien untuk evakuasi medis - nyawa mereka bergantung pada itu. Terlalu banyak (pasien) yang menunggu," katanya.
Badan PBB itu kembali menyerukan perluasan koridor medis, termasuk dimulainya kembali jalur rujukan reguler ke rumah sakit di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, yang sudah ada sebelum perang. Menurut dia, dengan tingkat evakuasi saat ini, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk mengevakuasi seluruh pasien Gaza yang membutuhkan perawatan.
WHO menyatakan bahwa serangan udara dan krisis pasokan medis, makanan, air, dan bahan bakar di Gaza "hampir membuat kewalahan" sistem perawatan kesehatan yang memang sudah kekurangan sumber daya, dengan banyak rumah sakit tidak beroperasi dan fasilitas lainnya hampir tidak dapat digunakan.
Editor: Muhammad Taufiq
