Kelelahan Welas Asih, Hilangnya Kepekaan karena Terus Menyaksikan Penderitaan

Kelelahan Welas Asih, Hilangnya Kepekaan karena Terus Menyaksikan Penderitaan

Jakarta, Arina.id – Akademisi Fahruddin Faiz menjelaskan fenomena kelelahan moral (moral fatigue) yang dapat dialami seseorang akibat terlalu sering terpapar berbagai persoalan dan penderitaan di sekitarnya.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kehilangan kepekaan, mengalami kelelahan emosional, hingga berkurang semangatnya untuk peduli terhadap lingkungan.

Dalam kajian filsafatnya, Fahruddin menjelaskan salah satu bentuk kelelahan moral melalui konsep compassion fatigue atau kelelahan welas asih yang dikembangkan Charles Figley.

Menurutnya, compassion fatigue terjadi ketika seseorang terus-menerus menyaksikan penderitaan orang lain. Pada awalnya, kondisi tersebut dapat membangkitkan rasa empati dan keinginan untuk membantu. Namun, paparan yang berulang dapat membuat seseorang terbiasa hingga kehilangan kepekaan.

"Kenapa compassion fatigue ini bagian dari moral fatigue? Karena kelelahan terjadi ketika kita terus-menerus terpapar penderitaan orang. Sementara kita ingin membantu mereka, lama-lama rasanya menjadi biasa," jelas Fahruddin Faiz dalam tayangan Ruang Sinau diakses Rabu (4/11/2026).

Ia mencontohkan fenomena tersebut melalui perubahan respons seseorang terhadap peristiwa yang awalnya dianggap mengejutkan. Sesuatu yang semula mengundang perhatian dan reaksi emosional, lama-kelamaan dapat dianggap sebagai hal biasa karena terlalu sering disaksikan.

Faiz menggambarkan perbedaan respons masyarakat terhadap perilaku sosial di lingkungan yang berbeda. Di sebuah kampung, misalnya, laki-laki dan perempuan yang berjalan berdua di tengah kampung bisa menjadi bahan pembicaraan warga. Namun, di Yogyakarta, pemandangan serupa mungkin sudah dianggap biasa karena sering dijumpai.

"Awalnya mungkin setiap kali melihat ada pasangan yang berduaan, kita langsung beristigfar. Kita bertanya-tanya, bagaimana anak-anak ini? Tetapi, lama-kelamaan rasanya biasa saja. Bahkan, kita malah mencari-cari, biasanya mereka ada di sini," tuturnya.

Menurut Fahruddin, perubahan respons tersebut menunjukkan bagaimana manusia memiliki batas pembiasaan terhadap sesuatu. Peristiwa yang awalnya dianggap berat atau mengejutkan dapat kehilangan daya kejut ketika terus-menerus terjadi.

"Manusia itu punya titik pembiasaannya sendiri. Sesuatu yang berat dilakukan berulang-ulang bisa menjadi ringan. Hal yang sama terjadi pada sesuatu yang buruk. Awalnya mungkin menghebohkan, tetapi lama-lama menjadi biasa," katanya.

Ia mencontohkan pemberitaan kasus korupsi yang terus muncul di ruang publik. Intensitas pemberitaan yang berulang dapat membuat masyarakat semakin terbiasa, bahkan tidak lagi memberikan reaksi sebesar ketika pertama kali mendengarnya.

 


Editor: Kendi Setiawan
logo