Rakyat Iran berkabung. Presiden Ebrahim Raisi meninggal dunia dalam kecelakaan tragis helikopter yang ditumpanginya jatuh di Azerbaijan pada 19 Mei 2024. Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian dan enam orang penumpang serta awak pesawat berada di dalam helikopter yang jatuh bersama Raisi.
Jasad Raisi dan delapan orang lainnya serta puing-puing helikopter nahas tersebut ditemukan oleh tim penyelamat lima belas jam setelah helikopter hilang kontak. Televisi pemerintah Iran melaporkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di antara penumpang helikopter yang membawa Presiden Ebrahim Raisi dan pejabat lainnya.
Penyebab kecelakaan, menurut pernyataan otoritas pemerintah Iran sejauh ini, karena cuaca buruk--awan menggantung rendah dan suhu lebih dingin dari rata-rata di wilayah tersebut serta kabut. Namun berkembang pula beragam spekulasi bahwa kecelakaan tersebut ulah sabotase intelijen Israel.
Meski bukti-bukti dan keterangan otoritas Iran sejauh ini mengonfirmasi penyebab kecelakaan karena cuaca buruk, dugaan sabotase oleh Israel terus berkembang mengingat hubungan kedua negara sejak lama buruk, ditambah lagi ketegangan menyusul perang antara Israel dengan Hamas sejak awal Oktober 2023. Mengemuka pula tudingan bahwa Amerika Serikat dan negara-negara Barat berkontribusi atas kecelakaan tersebut.
Tragedi setelah dari wilayah perbatasan
Helikopter yang ditumpangi Raisi dan rombongan, sebelum kecelakaan itu, tengah dalam perjalanan tugas ke perbatasan guna meresmikan sebuah proyek bendungan Qiz-Qalasi bersama Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev.
Helikopter itu—satu dari tiga helikopter yang melakukan perjalanan dalam konvoi—terjebak cuaca buruk dan kabut tebal sehingga helikopter tersebut harus melakukan “pendaratan darurat”, menurut laporan awal media setempat.
Namun belakangan diketahui helikopter Raisi jatuh di wilayah perbatasan Azerbaijan dengan Iran, tepatnya di 100 kilometer kota Tabriz, dekat sebuah desa bernama Tavil. Penemuan awal dilaporkan media Turki, Anadolu, setelah drone Turki yang dikirim ke Iran menemukan titik panas di pegunungan itu.
Karena kondisi cuaca buruk dan kabut tebal di daerah tersebut, helikopter penyelamat tidak dapat terbang, dan tim melakukan pencarian darat di daerah tersebut. Juru bicara Layanan Darurat Iran mengatakan delapan ambulans dikirim ke wilayah tersebut karena kabut tebal membuat upaya penyelamatan udara tidak mungkin dilakukan.
Sebenarnya, menurut kantor berita Iran, IRNA, seorang korban sempat hidup selama satu jam sebelum meninggal dunia. Ia adalah Ayatollah Mohammad Ali Al-e Hashem, seorang imam, imam salat Jumat Tabriz, dan perwakilan pemimpin tertinggi Iran untuk Azerbaijan Timur.
Hashem, kata Kepala Badan Krisis Iran Mohammad Hassan Nami, Selasa, "Bahkan melakukan percakapan telepon dengan Tuan Gholam-Hossein Esmaeili, kepala Kantor Kepresidenan". Namun, Hashem tak mampu bertahan.
"Semua jenazah dapat dikenali dan telah dipindahkan ke Organisasi Kedokteran Legal," kata Nami, menambahkan, "meskipun ada luka bakar."
Cuaca, sabotase, atau pesawat usang?
Kepala staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Mohammad Bagheri segera memerintahkan penyelidikan terhadap penyebab kecelakaan helikopter yang menewaskan Ebrahim Raisi dan rombongannya.
Bagheri, sebagaimana dilansir dari IRNA, menugaskan delegasi tingkat tinggi untuk menyelidiki secara menyeluruh kecelakaan helikopter itu. Delegasi dipimpin oleh Brigadir Ali Abdollahi dan telah berangkat ke lokasi kecelakaan untuk memulai penyelidikan. Hasil penyelidikan akan diumumkan kemudian setelah misi tuntas dilaksanakan.
Sejauh ini masalah cuaca disebut sebagai penyebab utama kecelakaan tragis tersebut. Menteri Dalam Negeri Iran Ahmad Vahidi mengatakan memang cuaca berkabut tebal ketika helikopter Raisi mengudara menuju kota Tabriz.
Sejumlah analisis dikemukakan untuk menjelaskan betapa cuaca dapat benar-benar mengganggu penerbangan. Simon Sparkes, pilot uji helikopter militer dan ahli penerbangan, misalnya, mengatakan kepada The National, Senin, dalam kondisi cuaca buruk, pilot memiliki pilihan untuk menghindari dengan memutar arah atau mendarat secara darurat.
Risiko sangat tinggi ketika helikopter terbang dengan visibilitas rendah melalui medan pegunungan, ketika angin kencang memberikan tekanan tambahan. Dikelilingi oleh pegunungan tinggi dan terbang di atas lembah dapat membingungkan seorang pilot dan menavigasi melalui medan seperti itu sangat melelahkan secara mental dan fisik.
"Masuk ke dalam awan atau kabut secara tidak sengaja," kata Sparkes, "adalah salah satu penyebab utama kecelakaan helikopter secara global."
Di daerah pegunungan, menurutnya, pilot harus terbang sangat tinggi untuk keamanan dan mungkin saja cuaca atau ketinggian gunung melampaui kemampuan helikopter. "Selain itu, tanpa oksigen, helikopter tidak dapat terbang di atas 10.000 kaki karena [akan mengalami] hipoksia," ujarnya.
Analisis serupa diajukan Paul Beaver, pakar penerbangan dan mantan pilot helikopter. tutupan awan, kabut, dan suhu rendah, menurutnya, pasti berkontribusi terhadap jatuhnya pesawat presiden Iran. "Tidak seperti pesawat sayap tetap, helikopter tidak dapat dengan mudah terbang di atas cuaca [buruk]," katanya.
Meski demikian, spekulasi liar juga tak dapat dihindarkan. Sebagaimana dilaporkan surat kabar online Sri Lanka Guardian, akun media sosial dari kelompok tentara bayaran Rusia, Wagner Group, mencurigai kecelakaan tragis yang dialami Raisi merupakan sabotase Israel. Spekulasi dikaitkan juga dengan fakta bahwa helikopter Raisi kecelakaan setelah kembali dari upacara pembukaan bendungan bersama Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev. Azerbaijan dikenal sebagai negara pro-Israel karena memasok minyak untuk rezim Zionis.
Pernyataan akun Wagner Group, saat Raisi dan rombongannya belum dipastikan meninggal dunia, menambahkan bahwa jika Raisi tewas dalam kecelakaan, hampir pasti hal itu akan dianggap sebagai tindakan sabotase oleh badan intelijen Israel. Sebelumnya, ketika televisi pemerintah Iran melaporkan tidak ada laporan mengenai korban atau cedera dalam kecelakaan tersebut, lembaga penyiaran Israel, mengutip sumber-sumber Barat yang tidak disebutkan namanya, mengatakan Raisi tidak selamat.
Aktivis politik komunis asal Amerika Serikat, Jackson Hinkle, bahkan terang-terangan menuding Israel di balik kecelakaan helikopter Raisi. Dia mencurigai sabotase yang dilakukan badan intelijen Israel, Mossad.
"Mossad, itu bukan kecelakaan," tulis Hinkle dalam unggahannya dalam platform pesan elektronik Telegram, sebagaimana dikutip Mehr News Agency. Kecurigaan Hinkle juga berdasarkan insiden yang terjadi hanya melibatkan satu dari tiga helikopter yang berada dalam rombongan kenegaraan Iran.
"Mengapa butuh waktu berjam-jam untuk menemukan lokasi jatuhnya pesawat dan mengapa Israel mengklaim mereka tahu Presiden Iran meninggal sebelum ada konfirmasi dari Iran?" kata Hinkle, mengajukan argumen atas kecurigaannya.
Israel menyatakan tidak terlibat dalam kematian Raisi, menurut pemberitaan dari kantor berita Reuters pada Senin yang mengutip seorang pejabat Israel. "Bukan kami," kata pejabat Israel itu seperti dikutip oleh Reuters.
Menurut analis Yossi Melman, dalam artikelnya di surat kabar Haaretz, Selasa, siapa pun yang terlibat atau mempelajari hubungan Iran-Israel dan isu-isu strategis regional tahu bahwa hal ini hampir pasti merupakan sebuah kecelakaan; Israel tidak terlibat, apalagi ada agen yang menyabotase helikopter tersebut.
Argumen berbeda menyebut ada faktor masalah teknis helikopter yang ditumpangi Raisi. Raisi memakai helikopter tua produksi Amerika Serikat jenis Bell 212, menurut seorang analis militer Cedric Leighton.
Helikopter jenis Bell 212 yang ditumpangi Raisi, menurut Leighton, dikutip dari CNN, kali pertama diperkenalkan pada periode terakhir pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 1976 dalam bentuk komersial dan sudah ada sebelumnya di militer AS.
Leighton tidak menolak analisis bahwa kecelakaan helikopter Raisi karena cuaca buruk. Tetapi, menurutnya, helikopter yang sudah usang itu juga berkontribusi. Helikopter tersebut diperkirakan sudah beroperasi sejak 1960, sebelum Revolusi Iran pecah.
Bell 212, dilansir dari CNN Indonesia, merupakan salah satu jenis dari helikopter buatan Bell Textron yang memiliki spesialisasi di bidang kebutuhan militer. Umumnya, helikopter itu digunakan untuk keperluan angkut militer maupun kebutuhan darurat otoritas berwenang.
Namun, helikopter yang ditunggangi Raisi dan sejumlah pejabat Iran merupakan model yang sudah usang. Mereka juga memutuskan untuk memodifikasi helikopter itu agar bisa menampung penumpang hingga 12 orang.
Helikopter buatan Bell milik Iran juga memiliki keterkaitan terhadap sanksi yang diterima Iran dari Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat. Menurut laporan HFW, sanksi yang diterima oleh Iran berdampak terhadap pemeliharaan dan peningkatan armada pesawat militer hingga komersial. Alhasil, Iran memiliki armada yang tua dengan usia rata-rata mencapai lebih dari 25 tahun.
Sanksi yang berlaku, tulis CNN, disebut sebagai salah satu pangkal perkara dari beberapa kecelakaan helikopter di Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Editor: Muhammad Zunus
