Amerika Saja Tidak Berdaya Menangani Pembunuhan Sembilan Warganya oleh Tentara Israel

Amerika Saja Tidak Berdaya Menangani Pembunuhan Sembilan Warganya oleh Tentara Israel

Arina.id— Pembunuhan sembilan warga negara Amerika Serikat (AS) di permukiman warga Israel belum ada titik kejelasan sampai sekarang. Apakah kasus tersebut bakal dibawa ke tuntutan pidana atau sanksi tertentu dari AS. Namun yang pasti Washington juga belum terlihat memberi tekanan serius kepada Tel Aviv. 

Salah satu korban pembunuhan bernama Sayfollah Musallet, warga negara AS yang dipukuli hingga tewas oleh pemukim Israel di Tepi Barat. Kini keluarganya menuntut keadilan. Mereka ingin Washington melakukan penyelidikan sendiri atas insiden tersebut untuk memastikan kejelasan duduk perkara kasus. 

Pemuda kelahiran Florida berusia 20 tahun tersebut merupakan warga AS kesembilan yang dibunuh oleh pemukim atau tentara Israel sejak 2022. Kasus-kasus sebelumnya belum pernah berujung pada tuntutan pidana atau sanksi AS terhadap para pelaku.

Seperti dilaporkan Al Jazeera, kurangnya respons inilah yang disebut oleh para pendukungnya sebagai “bentuk impunitas”, di mana Washington menuntut penyelidikan tanpa memberikan tekanan signifikan kepada Israel agar menghadirkan keadilan bagi keluarga korban. 

Dalam kasus Musallet, pemerintahan Presiden Donald Trump seharusnya mendesak Israel untuk menyelidiki pembunuhan tersebut secara menyeluruh dan jelas. "Harus ada pertanggungjawaban atas tindakan kriminal dan teroris ini," kata Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Israel, dalam sebuah pernyataan, Selasa, 14 Juli 2025.

Akan tetapi pada kenyataannya, sampai sekarang tidak jelas apakah AS telah mengambil tindakan lebih lanjut untuk mencari keadilan setelah pemukulan fatal tersebut. Para kritikus menilai "pola impunitas" ini sebagian berasal dari ikatan historis yang erat antara AS dan Israel. 

Pemerintahan presidensial AS secara berturut-turut telah menegaskan dukungan "tak tergoyahkan" mereka terhadap Israel, dan AS memberikan bantuan militer miliaran dolar kepada negeri Zionis tersebut setiap tahunnya. Kedekatan Amerika itu membuat para kritikus tersebut ragu apakah AS bisa menyelesaikan kasus dengan tuntas.
 


Editor: Muhammad Zunus
logo