Napak Tilas Hari Santri di Pati Kenang Perjuangan Gus Hasyim Mahfudh

Napak Tilas Hari Santri di Pati Kenang Perjuangan Gus Hasyim Mahfudh

Pati, Arina.id — Raungan mesin puluhan sepeda motor dan mobil memecah suasana jalanan dari Gedung MWCNU Sukolilo menuju Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Dharma, Pati, Jawa Tengah, Rabu (21/10/2026) siang. Di bawah kibaran bendera organisasi yang terpasang di jendela mobil dan setang kendaraan, iring-iringan pawai napak tilas melaju dengan tertib.

Ratusan peserta yang terdiri atas jajaran pengurus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati, badan otonom NU, serta santri dari berbagai pesantren dan madrasah se-Kabupaten Pati mengikuti kegiatan tersebut. Mereka menelusuri kembali jejak perjuangan seorang pemuda asal Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, yang gugur pada usia 20 tahun demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia adalah Muhammad Hasyim Mahfudh.

Pawai kendaraan yang diinisiasi PCNU Kabupaten Pati itu digelar untuk menyambut Hari Santri 2026. Di balik iring-iringan sepeda motor dan mobil, nama Gus Hasyim kembali mengingatkan masyarakat Pati pada sosok pejuang muda yang jasanya patut dikenang, meski namanya belum banyak dikenal dalam catatan sejarah nasional.

Lahir pada 1929 di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Muhammad Hasyim Mahfudh tumbuh dalam lingkungan pesantren yang lekat dengan semangat perjuangan. Ia merupakan putra sulung pasangan KH Mahfudh Salam dan Nyai Badiah, sekaligus kakak dari ulama besar Indonesia, KH MA Sahal Mahfudh.

Semangat perjuangan Gus Hasyim tumbuh dari lingkungan keluarga. Ayahnya, KH Mahfudh Salam, dikenal sebagai pejuang yang menentang penjajahan dan gugur di Penjara Ambarawa pada 17 Februari 1944. Setelah sang ayah wafat, Gus Hasyim dan adik-adiknya diasuh oleh pamannya, KH Abdullah Zen Salam, yang dikenal dengan sapaan Mbah Doellah.

Ketika Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, semangat perjuangan di kalangan santri semakin menguat. Gus Hasyim turut mengambil bagian dalam perjuangan dengan memimpin barisan pemuda dan santri yang bergabung dalam Laskar Hizbullah serta berjuang bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Gus Hasyim dikenal sebagai pejuang yang memiliki kemampuan taktis di medan gerilya pada masa Agresi Militer Belanda I dan II. Ia disebut terlibat dalam serangan mendadak terhadap pasukan Belanda, pengambilan amunisi di jalur patroli, serta pendistribusian senjata secara sembunyi-sembunyi kepada pejuang republik.

Aktivitas perjuangannya membuat Gus Hasyim menjadi incaran militer Belanda. Pada penghujung 1949, persembunyiannya di sebuah surau di wilayah Sukolilo, Pati, terendus oleh pasukan patroli Belanda.

Sore itu, seusai salat Asar berjemaah bersama dua santrinya, Abdul Manan dan Sholeh, serta seorang prajurit TNI bernama Harun, Gus Hasyim masih duduk bersila untuk berdoa.

Tiba-tiba, pasukan Belanda menyergap surau tersebut. Pasukan bersenjata lengkap menerobos masuk dan melepaskan tembakan ke arah mereka. Gus Hasyim gugur dalam serangan itu pada usia 20 tahun.

Semula, jenazahnya dimakamkan di Sukolilo. Beberapa tahun kemudian, atas izin keluarga, makamnya dipindahkan ke TMP Giri Dharma, Pati, dan kini tercatat di makam nomor 95. Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, jasadnya masih utuh ketika proses pemindahan makam dilakukan.

Puluhan tahun setelah peristiwa tersebut, jejak perjuangan Gus Hasyim kembali dikenang melalui pawai napak tilas yang diikuti para santri dan pengurus NU. Setibanya di TMP Giri Dharma, para peserta menuju pusara nomor 95 untuk memanjatkan doa dan melakukan tabur bunga.

Ketua PCNU Pati, KH Yusuf Hasyim, mengatakan perjuangan Gus Hasyim Mahfudh dapat menjadi teladan bagi generasi muda NU, terutama dalam menumbuhkan semangat pengabdian kepada bangsa.

“Beliau adalah pahlawan santri kita di Kabupaten Pati. Kami berharap para santri dapat meneladani semangat beliau bahwa sejak usia muda kita sudah harus berkontribusi untuk NKRI. Kontribusi saat ini tidak lagi harus dengan perang fisik, melainkan melalui aksi nyata,” ujar KH Yusuf Hasyim.

Penjabat sementara (Plt.) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, juga mengingatkan agar peringatan Hari Santri dan napak tilas tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Menurutnya, perjuangan Gus Hasyim perlu menjadi inspirasi bagi para santri untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan berkontribusi bagi masa depan bangsa.

“Kehidupan di dunia ini tidak kekal, maka ukirlah cerita dan warisan yang indah. Hal itu sudah dibuktikan oleh Gus Hasyim Mahfudh. Mari jadikan momen ini awal bagi para santri di Pati untuk terus meningkatkan ilmu dan dakwah. Kita ingin mengabarkan bahwa santri Pati itu hebat dan luar biasa,” tegas Chandra.

Peringatan Hari Santri 2026 di Kabupaten Pati menjadi momentum untuk mengenang pengorbanan para pejuang dari kalangan santri. Melalui napak tilas perjuangan Gus Hasyim Mahfudh, generasi muda diajak memahami bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini lahir dari perjuangan panjang, pengorbanan, dan doa para pendahulu.

Semangat perjuangan itu kini dapat diteruskan melalui pendidikan, dakwah, pengabdian kepada masyarakat, serta kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.


Editor: Kendi Setiawan
logo