Arina.id - Melambungnya harga cabai di Tanah Air dirasakan merata di semua lapisan masyarakat. Bagaimanapun, cabai merupakan salah satu bahan pangan penting bagi masyarakat Indonesia yang memang bisa dibilang doyan pedas.
Bank Indonesia (BI) sampai turun tangan mendorong penguatan pasokan dan kelancaran distribusi cabai agar tidak terjadi gejolak pasar. Bank Sentral mendorong distribusi secara terintegrasi untuk meredam tekanan harga komoditas yang dipengaruhi keterbatasan pasokan dari sentra produksi akibat gangguan cuaca.
"Tekanan harga cabai perlu diantisipasi karena gangguan produksi berpotensi berlanjut pada masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Aswin Gantina, seperti dikutip dari Antara, Selasa 13 Oktober 2026.
Sebelumnya, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional melansir daftar harga kebutuhan bahan pangan, di mana harga rata-rata cabai rawit merah mencapai Rp132.850 per kilogram. Adapun harga telur ayam ras Rp32.150 per kilogram. Kemudian harga bawang merah ukuran sedang Rp46.300 per kilogram dan bawang putih ukuran sedang Rp43.150 per kilogram.
PIHPS juga mencatat harga cabai merah besar mencapai Rp80.800 per kilogram, cabai merah keriting Rp112.450 per kilogram, serta cabai rawit hijau Rp118.950 per kilogram.
Aswin menjelaskan, kondisi saat ini terutama berkaitan dengan meningkatnya risiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan kerusakan hasil panen yang dapat memengaruhi ketersediaan pasokan cabai di pasaran.
Menurut dia, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu memperkuat pemantauan harga, pasokan, dan proyeksi panen secara berkala, termasuk mengidentifikasi wilayah surplus dan defisit serta potensi gangguan produksi di daerah pemasok untuk meredam tekanan harga.
Selain itu, optimalisasi Kerja Sama Antardaerah (KAD) perlu diarahkan pada realisasi transaksi dan kepastian volume pasokan cabai dari daerah surplus, baik di dalam maupun luar Jawa Tengah, dengan melibatkan BUMD pangan, kelompok tani, distributor, dan pelaku usaha.
"Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) juga perlu dilakukan secara terarah, khususnya di wilayah dengan tekanan harga tertinggi, disertai fasilitasi distribusi pangan untuk menekan biaya angkut dari sentra produksi," katanya.
Menurut dia, koordinasi dengan pelaku distribusi dan pengelola pasar turut perlu diperkuat untuk memastikan kelancaran arus pasokan sekaligus mengidentifikasi hambatan distribusi dan tata niaga yang berpotensi memperbesar tekanan harga.
Sebagai bagian dari TPID, kata dia, KPwBI Purwokerto terus bersinergi dengan organisasi perangkat daerah dan instansi terkait untuk menjaga stabilitas harga pangan melalui penguatan koordinasi pengendalian inflasi, kelancaran distribusi, serta peningkatan produktivitas klaster pangan.
Ia mengatakan sepanjang Januari-September 2026, KPwBI Purwokerto mendukung pelaksanaan lebih dari 70 titik kegiatan GPM, operasi pasar, dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta 18 kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).
"Kami juga memfasilitasi penguatan KAD melalui penandatanganan perjanjian kerja sama antarkabupaten di Banyumas Raya (Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara) pada 10 Juni 2026, yang ditindaklanjuti dengan penjajakan kerja sama antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B)," katanya.
Dari sisi produksi, kata dia,pendampingan klaster pangan berbasis Good Agricultural Practices (GAP) di Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, meningkatkan produktivitas cabai dari 8,9 ton per hektare menjadi 10 ton per hektare hingga Agustus 2026.
Sementara itu, produktivitas demplot klaster cabai yang dikembangkan di pesantren meningkat dari 0,5 ton per hektare menjadi 3 ton per hektare hingga Juni 2026. "Pemantauan berkala dilakukan di tiga pondok pesantren di Banyumas Raya, yakni Pondok Pesantren Nuururrohman, Al Ijtihad, dan Darul Ulum," katanya.
Guna mendukung efisiensi budi daya dan mitigasi risiko El Nino, kata dia, BI Purwokerto turut memberikan bantuan sarana pertanian berupa mesin cultivator, handsprayer, traktor tangan, dan sensor tanah.
Selain itu, lanjut dia, bantuan pipanisasi irigasi diberikan untuk memperkuat ketersediaan air bagi budidaya cabai dalam menghadapi risiko kekeringan. "Kami juga mendukung penyediaan kendaraan angkut hasil panen guna meningkatkan efisiensi pengangkutan cabai dari sentra produksi ke pasar," kata Aswin.
Editor: Muhammad Taufiq
