Jakarta, Arina.id – Belakangan di kalangan masyarakat mulai muncul ketakutan-ketakutan bahwa teknologi akan mengalahkan manusia. Muncul juga kekhawatiran bahwa manusia nanti akan dikendalikan oleh teknologi.
Pandangan semacam ini mungkin muncul karena banyak di film-film yang masyarakat tonton adalah film-film futuristik yang menyampaikan tentang robot-robot yang menguasai manusia. Selain itu tak sedikit hal yang belakangan terbukti terutama di dunia pekerjaan bahwa teknologi banyak menggantikan fungsi manusia.
Jadi apakah benar ketakutan itu bahwa satu hari kelak teknologi akan mengalahkan manusia? Apakah betul satu hari manusia akan dikalahkan oleh teknologi.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Stella Christie menanggapi kegelisahan masyarakat ini. Dia mengatakan sebenarnya, jika dilihat keadaan sekarang, dalam beberapa bidang manusia sudah kalah. Misalnya kalau kita lihat tentang memori atau ingatan tentu saja artificial intelligence (AI) jauh lebih ingat daripada manusia yang sering lupa dan tidak bisa mengingat seluruhnya secara satu per satu.
Demikian juga jika melihat dari segi tabungan pengetahu, apa yang ada dalam otak manusia, karena ada yang terlupa dan kita bisa diingat semuanya. Dari sisi itu jelas lebih sedikit secara jumlah daripada internet dan chat GPT.
Namun jika ada pertanyaan apakah manusia akan kalah? "Saya rasa jawabannya 100 persen tidak karena teknologi itu adalah alat. Kalau kita pintar-pintar menggunakan alat itu kita tidak akan kalah. Tapi tentu saja kalau kitanya tidak bisa menggunakan alat itu ya kita akan kalah, kita dikalahkan oleh alat itu,” kata Prof Stella dalam perbincangan program Kick Andy Episode Otak Versus AI.
Dalam soal memori, kata Prof Stella, manusia memang kalah, tetapi sebenarnya itulah yang jadi kelebihan. Sebabnya, tidak semua hal harus diingat.
"Justru ada bagusnya kalau kita lupa beberapa hal yang enggak penting-penting, Dari ilmu psikologi sebenarnya orang yang mengalami depresi itu ingatannya lebih tepat daripada yang normal. Karena itulah kenapa banyak juga mengingat segala sesuatu itu sebenarnya tidak tidak sehat juga untuk pikiran,” beber Prof Stella.
Melupakan beberapa hal itu ternyata sangat penting supaya manusia bisa mengabstraksi pola-pola dari kehidupan ini.
Prof Stella lalu meminta Andy F Noya yang tengah mewawancarainya untuk memejamkan mata dan menyebutkan apa yang ada di dalam ruangan mereka wawancara.
“Ada orang. Ada Mbak Stella. Ada bangku dua putih. Ada kamera sejumlah orang ada logo, ada lampu studio. Ada lantai yang mengkilat,” jawab Andy.
“Oke kurang lebih itulah. Nah sebenarnya kalau kita lihat banyak lagi, masih ada banyak lagi ya. Sepatunya Bang Andy. Bajunya Bang Andy. Bang Andy sendiri. Ada meja di situ. Ada buku-buku ya. Kan ada banyak lagi. Tapi kita tidak mengingat semuanya itu. Kita justru mengingat atau mengabstraksikan yang sangat penting-pentingnya,” kata Prof Stella.
“Sehingga kita kalau ke studio satu lag, eh kira-kira tahu apa yang ada di studio itu pasti ada orangnya ada mengkameran. Nah itulah menjadikan abstraksi pola-pola. Wah kalau studio itu kira-kira apa yang ada di situ. Kalau semuanya diingat kita tidak mempunyai pola karena sebenarnya banyak yang terjadi di dunia itu banyak persamaannya dari pola-pola,” lanjut Prof Stella.
Jika manusia melihat pola-pola tersebut, mereka akan lebih mudah melihat dan melakukan pemecahan-pemecahan masalah di dunia.
Andy lalu mengungkapkan bahwa kekhawatiran lain yang muncul di masyarakat adalah ketergantungan manusia pada teknologi. Jika kita ambil contoh AI dan ChatGPT, yang kini banyak dibicarakan di Indonesia, ada ketakutan bahwa jika anak-anak terlalu bergantung pada teknologi ini, mereka tidak akan menggunakan otak mereka untuk berpikir kritis dan kreatif.
"Hal yang sama juga terjadi di dunia kerja. Ketergantungan yang tinggi pada teknologi bisa membuat kita tidak bisa berpikir secara mandiri. Apakah ketakutan ini beralasan atau berlebihan?" tanya Andy.
Prof Stella mengatakan hal itu memang perlu diwaspadai. Ketergantungan yang berlebihan bisa membuat manusia tidak bisa menyelesaikan masalah ketika teknologi tersebut tidak ada.
"Namun, kita juga perlu bertanya, kenapa kita bisa bergantung pada teknologi? Dari mana asalnya ketergantungan ini, dan bagaimana cara menguranginya atau bahkan mencegahnya sejak awal? Ini adalah pertanyaan penting yang perlu kita pikirkan," ujar Prof Stella.
Editor: Kendi Setiawan
