Jakarta, Arina.id—Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan Gerakan Pesantren Cakap AI. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) bekerjasama dengan Microsoft Elevate.
Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU), KH. Hodri Arief menyampaikan bahwa program pelatihan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bagi pesantren menargetkan 40.000 guru pesantren di seluruh Indonesia.
"Prioritas utama 40 ribu guru tetapi santri senior bisa ikut nanti yang mendaftarkan dari pihak pesantren," kata Kiai Hodri ditemui di Gedung PBNU, Kamis (22/1/2026).
Sementara untuk distribusi peserta akan diupayakan merata berdasarkan jumlah pesantren di setiap zona, meskipun tidak diberlakukan pembatasan yang terlalu ketat.
"Kita berusaha untuk meratakan sesuai jumlah pesantren tiap zona tetapi tentu tidak membatasi secara ketat. Karena target kita sebanyak mungkin guru pesantren mendapatkan manfaat belajar AI," jelasnya.
Pelatihan AI akan dilaksanakan secara daring (online) karena dinilai lebih efektif dan menjangkau lebih luas. Selain itu, akan disediakan opsi hybrid dengan kapasitas 150 peserta untuk pelatihan luring (offline).
Program ini dijadwalkan dimulai pada minggu pertama Februari 2026 dan ditargetkan selesai pada bulan Maret 2026.
"Acara mulai minggu pertama februari diharapkan bulan Maret sudah selesai 40 ribu guru," jelasnya.
KH. Hodri Arief berharap, para guru pesantren dapat memanfaatkan AI untuk kepentingan belajar dan mengajar, sehingga cakupan sumber pembelajaran menjadi lebih luas dan selaras dengan perkembangan zaman.
Ia mengatakan bahwa di sebagian pesantren, penggunaan internet masih diwaspadai, bahkan ada yang melarang sama sekali. Sementara di pesantren lain yang sudah terbuka terhadap teknologi, penggunaan AI masih belum optimal, sehingga sering kali santri lebih cepat menguasai AI dibandingkan para gurunya.
"Kita akan melaksamakan campaign dan strategj kita akan masjk pesantren yang berpengaruh sehingga akan menajdi lokomotif transformasi pesantren," jelasnya.
Elevate Skills Director Microsoft Indonesia, Arief Suseno, menegaskan bahwa tujuan utama program tersebut adalah meningkatkan produktivitas serta mendorong terciptanya nilai ekonomi baru bagi Indonesia.
"Kita ingin memastikan bahwa setiap siap menghadapi era kerja yang semakin kolaboratif antara manusia dan juga AI," jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan tantangan utama saat ini adalah menghadapi dunia yang terus berubah dengan percepatan yang semakin tinggi.
"Betapa masa depan bagi kita ini semakin menekan, masa depan rasanya menjadi lebih cepat datangnya menekan kita semua untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi," pungkasnya.
Editor: Kendi Setiawan
