Serang Gaza Lagi, Israel Dituding Khianati Perjanjian Damai

Serang Gaza Lagi, Israel Dituding Khianati Perjanjian Damai

Arina.id - Belum sepekan perjanjian damai antara Israel dengan Hamas diteken di Mesir beberapa hari lalu, wilayah Gaza Palestina kembali membara. Pasukan Zionis kembali menyerang di tengah perjanjian damai hingga menyebabkan korban tidak sedikit.

Situasi ini sudah diprediksi sebelumnya, bahwa melihat jejak konflik ke belakang, Israel bakal mengkhianati gencatan senjata seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya. Presiden Turki Recep Tayeb Erdogan salah satu yang meragukan perdamaian bakal lama bila melihat rekam jejak Israel yang acap kali melanggar gencatan.

Dan Minggu kemarin, 19 Oktober 2025, prediksi itu terjadi. Serdadu Netanyahu kembali menyerang Gaza. Seperti dikutip dari berbagai sumber, salah satunya media Israel, KAN, serangan tersebut dilancarkan setelah terjadi baku tembak dengan kelompok perlawanan Palestina.

Channel 12 melaporkan klaim pihak Israel, serangan itu terjadi setelah kendaraan militer Israel menjadi sasaran para pejuang Hamas. Namun Hamas menolak disebut sebagai pemicunya. Mereka balik menuduh Israel yang melanggar perjanjian setelah memblokade jalur Rafah.

"Jelas melanggar syarat perjanjian gencatan senjata dan mengabaikan komitmen yang telah disepakati dengan para pihak yang menjadi penengah dan penjamin kesepakatan," demikian pernyataan Hamas sehari sebelumnya, Sabtu 18 Oktober 2025.

Jawaban Hamas itu merespons tuduhan Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat (AS) yang mengatakan pihaknya telah memberi tahu negara-negara penjamin kesepakatan damai di Gaza tentang pelanggaran yang akan segera dilakukan oleh Hamas.

"Hamas menolak tuduhan Deplu AS itu dan dengan tegas membantah klaim tentang adanya ‘serangan yang akan segera terjadi’ atau ‘pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata’," kata Hamas dalam pernyataannya.

Dalam pernyataannya, Deplu AS juga memperingatkan kemungkinan untuk melakukan langkah-langkah melindungi penduduk di wilayah kantong Palestina itu.

"Amerika Serikat telah memberi tahu negara-negara penjamin perjanjian perdamaian Gaza tentang laporan kredibel yang menunjukkan adanya pelanggaran gencatan senjata yang akan segera dilakukan oleh Hamas terhadap warga Gaza," kata pernyataan itu.

Padahal, kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera antara Israel dan Hamas dicapai pekan lalu, berdasarkan rencana perdamaian yang diajukan Presiden AS Donald Trump.

Fase pertama kesepakatan itu mencakup pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina. Fase berikutnya adalah rekonstruksi Gaza dan pembentukan pemerintahan baru di wilayah tanpa melibatkan Hamas.

Sejak Oktober 2023, perang genosida yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 68.100 orang dan melukai 170.200 lainnya, menurut otoritas kesehatan setempat.

Sebelumnya pada Sabtu, otoritas Gaza menyatakan bahwa Israel telah 47 kali melanggar gencatan senjata, yang menewaskan 38 orang dan melukai 143 lainnya.

Deklarasi gencatan senjata di Gaza ditandatangani pada 13 Oktober oleh Presiden AS Donald Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Hamas diharuskan membebaskan 20 sandera yang masih hidup yang mereka tahan sejak 7 Oktober 2023. Sebagai imbalan, Israel membebaskan 1.718 tahanan Palestina asal Gaza dan 250 tahanan Palestina lain yang ditahan di penjara-penjara Israel.


Editor: Muhammad Taufiq
logo