Arina.id — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan serangan terbuka terhadap Wali Kota New York, Zohran Mamdani dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kamis (24/9/2026).
Dalam pidato sekitar 40 menit itu, Netanyahu menuduh Mamdani bersikap antisemit dan menyebarkan informasi yang menurutnya keliru mengenai Israel. Netanyahu juga menuduh Mamdani mendukung Hamas dan mengatakan kondisi warga Yahudi di New York memburuk sejak Mamdani menjabat sebagai wali kota.
"Anda mencoba menghentikan saya datang ke sini. Anda mencoba membungkam saya. Anda tidak bisa membungkam saya," kata Netanyahu dalam pidatonya, merujuk pada sikap Mamdani terkait rencana penegakan surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap dirinya.
Netanyahu juga menyinggung istri Mamdani, Rama Duwaji, terkait aktivitasnya di media sosial mengenai konflik Israel-Palestina.
Serangan terhadap Mamdani menjadi salah satu bagian menonjol dalam pidato Netanyahu. Selain wali kota New York itu, Netanyahu juga menyerang Hamas, Iran, Qatar, Turki, serta negara-negara dan tokoh yang menurutnya menyebarkan tuduhan terhadap Israel terkait perang di Gaza.
Berawal dari persoalan surat perintah ICC
Hubungan Netanyahu dan Mamdani memanas setelah wali kota New York itu menyatakan dukungannya terhadap surat perintah penangkapan yang dikeluarkan ICC terhadap Netanyahu pada November 2024.
Dalam kampanye pemilihan Wali Kota New York, Mamdani sempat berjanji akan menegakkan surat perintah tersebut jika Netanyahu datang ke New York.
Namun, pada Juli 2026, pemerintahan Mamdani menyatakan bahwa pemerintah kota tidak memiliki kewenangan hukum independen untuk menangkap Netanyahu berdasarkan surat perintah ICC.
Mamdani kemudian meminta pemerintah federal AS mengambil tindakan jika Netanyahu datang ke Amerika Serikat. Ia tetap menyebut Netanyahu sebagai pihak yang menjadi subjek surat perintah ICC atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada November 2024. Surat tersebut berkaitan dengan dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam konflik Gaza.
Dalam pernyataan setelah pidato Netanyahu di PBB, Mamdani kembali menyinggung surat perintah tersebut.
Ia menilai Netanyahu menggunakan forum PBB untuk menyampaikan tuduhan terhadap dirinya, tetapi mengatakan hal itu tidak mengubah status Netanyahu sebagai pihak yang dicari ICC.
Mamdani jadi Sasaran Politik Netanyahu
Serangan Netanyahu terhadap Mamdani juga muncul di tengah persiapan pemilihan parlemen Israel yang akan datang.
Netanyahu menghadapi persaingan politik yang ketat di dalam negeri. Partai Likud, yang dipimpinnya, sebelumnya juga menjadikan Mamdani sebagai sasaran dalam materi kampanye politik di Israel.
Pada Agustus, Partai Likud memasang papan reklame di Tel Aviv yang menampilkan Mamdani bersama sejumlah pemimpin Timur Tengah yang menjadi lawan politik Israel, termasuk pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan pemimpin Hizbullah Lebanon Naim Qassem.
Materi tersebut menggambarkan mereka sebagai pihak yang menginginkan kekalahan Netanyahu dalam pemilu Israel.
Netanyahu kemudian kembali menyerang Mamdani melalui media sosial. Ia mengunggah video yang dibuat dengan kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan Mamdani sedang merayakan kemungkinan kekalahan Netanyahu bersama sejumlah tokoh Timur Tengah.
Video tersebut pada akhirnya menggambarkan Netanyahu mengalahkan lawan-lawan politiknya. Pesan penutupnya menyerukan agar para pendukung Netanyahu tidak membiarkan lawan politiknya menang.
Mamdani Balik Menyerang
Mamdani menanggapi pidato Netanyahu dengan mempertahankan kritiknya terhadap kebijakan Israel di Gaza.
Dalam pernyataannya, Mamdani menuduh Netanyahu menggunakan pidato di PBB untuk mengalihkan perhatian dari tuduhan kejahatan yang dihadapi pemerintah Israel.
Namun, persoalan kewenangan menangkap Netanyahu sebenarnya telah diperjelas oleh pemerintahan Mamdani pada Juli.
Setelah melakukan kajian hukum, pemerintah kota menyimpulkan bahwa New York tidak memiliki kewenangan independen untuk melaksanakan surat perintah penangkapan ICC terhadap Netanyahu. Karena itu, Mamdani meminta pemerintah federal AS yang mengambil tindakan apabila Netanyahu kembali mengunjungi Amerika Serikat.
Sikap tersebut membuat perseteruan antara keduanya tidak lagi hanya berkaitan dengan politik New York, tetapi berkembang menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai kebijakan Israel di Gaza, kewenangan ICC, serta hubungan AS-Israel.
Netanyahu Menghadapi Tekanan Politik
Pidato Netanyahu di PBB berlangsung ketika pemerintahannya menghadapi tekanan politik dan kritik internasional terkait perang Gaza.
Sejumlah delegasi negara meninggalkan ruang sidang ketika Netanyahu mulai berpidato. Di luar markas PBB, demonstrasi juga berlangsung dan berujung pada penangkapan lebih dari 100 orang.
Netanyahu tetap membela operasi militer Israel dan menolak tuduhan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza. Ia menyebut tuduhan tersebut sebagai kebohongan dan menegaskan bahwa Israel bertindak untuk mempertahankan diri.
Di sisi lain, Mamdani mempertahankan sikapnya bahwa dugaan pelanggaran hukum internasional harus diproses melalui mekanisme hukum internasional.
Perseteruan keduanya kini menjadi salah satu simbol perdebatan politik yang semakin tajam di Amerika Serikat mengenai Israel, Palestina, antisemitisme, dan peran ICC dalam menangani dugaan kejahatan internasional.
Editor: Muhammad Zunus
