Rupiah Melemah ke Rp18.085 di Tengah Gejolak Harga Minyak dan Konflik Houthi

Rupiah Melemah ke Rp18.085 di Tengah Gejolak Harga Minyak dan Konflik Houthi

Jakarta, Arina.id—Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (26/10/2026). Tekanan terhadap mata uang domestik terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot yang dikutip Jakarta Mail, rupiah pada pukul 09.01 WIB berada di level Rp18.085 per dolar AS. Posisi tersebut melemah lima poin atau 0,03 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp18.080 per dolar AS.

Sementara itu, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) menunjukkan rupiah berada di level Rp18.069 per dolar AS pada Jumat (23/10/2026), melemah 22 poin dibandingkan kurs Kamis (22/10/2026) sebesar Rp18.047 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga minyak yang terjadi bersamaan dengan lonjakan harga pangan memberikan tekanan ganda terhadap perekonomian nasional.

“Karenanya, kombinasi tersebut berdampak terhadap APBN dan kekhawatiran fiskal,” kata Ibrahim dalam keteranganya kepada Arina.id di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Tekanan tersebut muncul ketika Indonesia masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi.

Akibatnya, kenaikan harga minyak internasional berpotensi meningkatkan biaya impor sekaligus memperbesar kebutuhan anggaran untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan kompensasi energi.

Harga Minyak Tambah Beban APBN

Sebagai negara pengimpor minyak bersih atau net oil importer, Indonesia rentan terhadap perubahan harga minyak mentah dunia. Ketika harga minyak melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), beban belanja energi pemerintah berpotensi meningkat.

Kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dapat memperbesar kebutuhan subsidi dan kompensasi apabila pemerintah mempertahankan harga energi domestik agar tidak langsung mengikuti kenaikan harga internasional.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah menghadapi pilihan kebijakan yang tidak mudah. Mempertahankan harga energi dapat menambah tekanan terhadap anggaran, sedangkan penyesuaian harga berisiko mendorong inflasi dan meningkatkan beban pengeluaran masyarakat.

"Kenaikan harga energi juga dapat merambat ke sektor transportasi, produksi, dan distribusi barang. Jika biaya operasional meningkat, pelaku usaha berpotensi meneruskan sebagian kenaikan biaya tersebut kepada konsumen melalui harga barang dan jasa," katanya.

Tekanan harga minyak yang disertai kenaikan harga pangan dapat semakin membebani rumah tangga. Masyarakat berpendapatan rendah dan menengah ke bawah berisiko paling terdampak karena sebagian besar pengeluaran mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok.

"Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan subsidi dan kompensasi energi dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk membiayai program pembangunan dan belanja prioritas lainnya," ungkap Ibrahim.

Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Dalam risetnya, ia memproyeksikan nilai tukar rupiah berada pada rentang Rp18.080 hingga Rp18.130 per dolar AS.

Proyeksi tersebut sejalan dengan kekhawatiran terhadap meningkatnya kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi ketika harga minyak dunia naik.

Ketika biaya impor energi meningkat, kebutuhan pembayaran dalam dolar AS juga berpotensi bertambah.

"Apabila permintaan valuta asing meningkat dan tidak diimbangi pasokan yang memadai, tekanan terhadap rupiah dapat semakin besar," tegasnya.

Pelemahan rupiah selanjutnya berisiko meningkatkan biaya pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri dalam denominasi dolar AS apabila dihitung dalam mata uang domestik.

"Biaya impor bahan baku dan barang konsumsi juga dapat meningkat, bergantung pada struktur biaya serta kebijakan harga masing-masing pelaku usaha," paparnya.

Kondisi tersebut, kata Ibrahim, dapat menambah tantangan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Namun, pergerakan rupiah tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk penguatan dolar AS, aliran modal, kebijakan moneter, dan perkembangan ekonomi global.

Konflik Houthi Picu Kekhawatiran Pasokan Energi

Kekhawatiran terhadap pasokan energi global turut meningkat seiring eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.

Reuters melaporkan pada 22 Oktober 2026 bahwa Saudi Aramco memerintahkan pegawainya meninggalkan kantor pusat perusahaan di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh. Langkah tersebut berlangsung ketika pertempuran dengan kelompok Houthi semakin intensif. Reuters menyebut alasan spesifik perintah evakuasi itu belum dijelaskan secara resmi oleh perusahaan.

Ketegangan tersebut menambah perhatian pasar terhadap keamanan fasilitas energi Arab Saudi, salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Gangguan terhadap fasilitas produksi, pengolahan, maupun distribusi minyak berpotensi memengaruhi pasokan dan harga energi internasional.

Perkembangan konflik juga berkaitan dengan Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis di pintu masuk Laut Merah. Kawasan tersebut menjadi salah satu jalur penting perdagangan internasional, termasuk pengiriman energi dan barang.

Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu berpotensi meningkatkan biaya pengiriman, premi asuransi kapal, serta waktu distribusi. Jika eskalasi konflik berlanjut dan mengganggu pasokan, tekanan terhadap harga minyak dunia dapat bertambah.

Pada perdagangan awal Senin (26/10/2026), harga minyak justru tercatat turun setelah mendekati level tertinggi dalam hampir enam bulan pada akhir pekan sebelumnya.

Reuters melaporkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,60 menjadi US$101,67 per barel, sedangkan Brent turun US$1,56 menjadi US$115,16 per barel. Meski terkoreksi, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan masih membayangi pasar.


Editor: Suci
logo