Arina.id — Perubahan iklim perlu ditetapkan sebagai darurat kesehatan global agar pemerintah mengambil langkah terpadu menghadapi ancaman kesehatan yang kian memburuk. Desakan ini disampaikan dalam laporan terbaru Lancet Countdown on Health and Climate Change, yang mengaitkan gelombang panas dengan sekitar tiga juta kematian di seluruh dunia pada 2016–2023.
Laporan melibatkan 146 peneliti dari 30 negara. Kajian tersebut mengevaluasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP31 pada November mendatang.
Direktur Eksekutif Lancet Countdown, Marina Romanello, mengatakan sekitar tiga juta kematian terkait cuaca panas terjadi secara global selama delapan tahun sejak Perjanjian Paris diadopsi pada 2015.
“Jumlah itu kira-kira setara dengan seluruh populasi [negara] Wales yang musnah dalam kurun delapan tahun akibat gelombang panas,” kata Romanello dalam konferensi pers, sebagaimana dilaporkan AFP.
Ia menyebut sekitar 68 persen kematian tersebut secara langsung disebabkan oleh perubahan iklim.
Romanello mengatakan status darurat kesehatan global diperlukan agar pemerintah tidak hanya bereaksi setelah bencana terjadi. Menurut dia, dunia membutuhkan respons jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatan dan mengurangi risiko keadaan darurat.
Profesor Ollie Jay dari Universitas Sydney menjelaskan bahwa peneliti memperkirakan dampak perubahan iklim dengan membandingkan kematian terkait panas yang tercatat dengan jumlah kematian yang diperkirakan terjadi tanpa pemanasan akibat aktivitas manusia.
Metode itu membantu mengidentifikasi dampak kesehatan yang dapat dikaitkan dengan perubahan iklim, bukan sekadar menghitung seluruh kematian saat cuaca panas.
Jay juga menyoroti peningkatan intensitas dan frekuensi panas ekstrem. Pada 2025, kekeringan ekstrem dilaporkan melanda lebih dari separuh permukaan daratan dunia selama sedikitnya satu bulan.
Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap kesehatan masyarakat, terutama ketika suhu tinggi bertepatan dengan kekeringan dan terbatasnya akses terhadap air serta layanan kesehatan.
Kerugian Ekonomi Tembus1 Triliun Dolar
Dampak perubahan iklim juga terlihat pada perekonomian. Menurut laporan Lancet, penurunan produktivitas pekerja akibat pemanasan global menyebabkan kerugian ekonomi dunia lebih dari US$1 triliun per tahun selama tiga tahun terakhir.
Asia Tenggara dan Afrika mengalami tekanan terbesar, dengan kerugian masing-masing setara 3,9 persen PDB dan 3,2 persen PDB. Sebagai perbandingan, kerugian diperkirakan mencapai 0,2 persen PDB di Eropa dan 1,5 persen di Amerika.
Di sisi lain, laporan itu mencatat sejumlah perkembangan positif. Sejak 2016, sebanyak 56 dari 194 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyesuaikan sistem kesehatan dan peringatan dini untuk menghadapi peristiwa ekstrem.
Investasi energi bersih mencapai US$2,1 triliun pada 2025, dua kali lipat investasi bahan bakar fosil. Namun, bahan bakar fosil masih menyumbang sekitar 80 persen pasokan energi global.
Polusi udara dari bahan bakar fosil diperkirakan menyebabkan 2,73 juta kematian setiap tahun. Sebaliknya, penurunan polusi dari sumber tersebut di sedikitnya 77 negara membantu mencegah sekitar 323.000 kematian sejak 2016.
Laporan tersebut juga menyoroti kesenjangan pendanaan penelitian kesehatan terkait iklim. Meski pendanaan meningkat tujuh kali lipat menjadi US$316 juta pada 2024, sekitar 84 persen dana mengalir kepada peneliti di negara-negara kaya.
Ketimpangan ini menjadi perhatian karena negara berpendapatan rendah menghadapi risiko kesehatan akibat perubahan iklim yang besar, tetapi memiliki sumber daya terbatas untuk meresponsnya.
Romanello memperingatkan bahwa ketidakstabilan geopolitik dalam dua tahun terakhir telah mengalihkan perhatian dunia dari perubahan iklim dan dampaknya terhadap kesehatan. Menurut dia, penundaan tindakan akan memperburuk risiko bagi masyarakat.
Laporan Lancet menegaskan bahwa perubahan iklim perlu ditangani sebagai bagian dari kebijakan kesehatan publik, bukan hanya agenda lingkungan. Tanpa pencegahan jangka panjang, gelombang panas, penurunan produktivitas, dan polusi udara akan terus meningkatkan beban kesehatan serta ekonomi dunia.
Editor: Muhammad Zunus
