Arina.id - Dua negara Islam bertetangga, Afghanistan dan Pakistan terlibat bentrokan. Konflik ini terjadi ketika masyarakat muslim dunia sedang menikmati kedamaian bulan suci Ramadan. Tensi ketegangan kedua negara meninggi dua hari lalu, Kamis 26 Februari 2026.
Otoritas Taliban Afghanistan menyerang posisi militer Pakistan di sepanjang perbatasan mereka sebagai tanggapan atas serangan udara Pakistan pekan sebelumnya. Sementara pihak Pakistan menyatakan pasukannya telah membalas serangan di perbatasan tersebut.
Kantor media korps militer Afghanistan di wilayah timur mengatakan, "bentrokan hebat" dimulai pada Kamis malam sebagai tanggapan atas serangan udara baru-baru ini yang dilakukan oleh pasukan Pakistan di provinsi Nangarhar dan Paktia.
"Sebagai tanggapan atas provokasi dan pelanggaran berulang kali oleh kalangan militer Pakistan, operasi ofensif skala besar telah diluncurkan terhadap posisi dan instalasi militer Pakistan di sepanjang Garis Durand," demikian seperti dikutip dari unggahan akun Juru Bicara Pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid di Platform X.
Baru-baru ini hubungan kedua negara tetangga tersebut memang memburuk di wilayah perbatasan sepanjang 2.611 km (1.622 mil) yang dikenal sebagai Garis Durand. Lokasi penyeberangan tersebut sebagian besar ditutup sejak pertempuran mematikan pada Oktober 2025 lalu yang menewaskan lebih dari 70 orang di kedua belah pihak.
Dikutip dari Aljazeera, seorang sumber militer Afghanistan mengatakan bahwa 10 tentara Pakistan tewas dan 13 pos terdepan direbut dalam serangan pada Kamis tersebut. Adapun Pakistan mengatakan telah membunuh setidaknya 70 pejuang yang kemudian dibantah oleh Afghanistan dengan mengatakan bahwa warga sipil juga tewas, termasuk wanita dan anak-anak.
Pakistan memberikan tanggapannya
Sementara itu, Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan mengatakan pasukannya telah memberikan "tanggapan segera dan efektif" terhadap tembakan Taliban di beberapa sektor di provinsi Khyber Pakhtunkhwa.
"Pasukan rezim Taliban sedang menerima balasan setimpal di sektor Chitral, Khyber, Mohmand, Kurram, dan Bajaur. Laporan awal mengkonfirmasi banyaknya korban di pihak Afghanistan dengan banyak pos dan peralatan yang hancur," kata kementerian tersebut.
Mosharraf Zaidi, juru bicara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, membantah dengan mengatakan tidak ada pos terdepan Pakistan yang direbut atau dirusak. Balasan pasukan Pakistan, kata dia, telah menimbulkan kerugian besar di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan sebagai tanggapan terhadap agresi Taliban yang tidak beralasan.
Dia tidak mengomentari klaim Afghanistan bahwa 10 tentara tewas. Akan tetapi secara terpisah, sebuah sumber keamanan Pakistan mengatakan bahwa sejumlah tentara Afghanistan melarikan diri dari tiga lokasi yang menjadi sasaran tembakan Pakistan.
Isu keamanan menjadi inti dari ketegangan perbatasan baru-baru ini, di mana Pakistan menuduh Afghanistan melindungi kelompok-kelompok bersenjata yang dipimpin oleh Taliban Pakistan (TTP) di wilayahnya.
Taliban Pakistan muncul pada 2007 di distrik-distrik kesukuan Pakistan dan berbeda dari Taliban di Afghanistan. Tetapi mereka ini memiliki ikatan ideologis, sosial, dan linguistik yang mendalam dengan kelompok tersebut.
Pearl Pandya, analis senior Asia Selatan di Armed Conflict Location & Event Data yang berbasis di AS, sebuah lembaga pemantau konflik independen dan tidak memihak, mengatakan bahwa "perbatasan yang longgar" dengan Afghanistan memberikan tempat berlindung yang aman bagi para pejuang untuk mundur ketika menghadapi tekanan militer.
"Namun, Taliban Afghanistan tampaknya tidak mau menindak TTP secara serius, sebagian karena adanya kedekatan sebelumnya antara kedua kelompok tersebut, tetapi juga karena takut militan TTP membelot ke saingan utamanya, Negara Islam Provinsi Khorasan," tambahnya.
Pandya mengatakan, pada 2025 merupakan salah satu tahun paling penuh kekerasan selama lebih dari satu dekade, dengan ACLED mencatat lebih dari 1.000 insiden kekerasan melibatkan Taliban Pakistan di seluruh Pakistan. Tren untuk tahun 2026 tampaknya "setara" atau "sedikit lebih tinggi" dibandingkan periode sama tahun lalu.
"Tanpa tindakan keras yang serius terhadap TTP oleh Afghanistan, eskalasi lebih lanjut tampaknya tak terhindarkan," kata Pandya. Namun Taliban Afghanistan membantah tuduhan Pakistan bahwa negara itu melindungi kelompok tersebut.
Editor: Muhammad Taufiq
