Jakarta, Arina.id – Akademisi dan pengkaji filsafat Fahruddin Faiz mengajak masyarakat memandang patah hati dari perspektif spiritual. Menurutnya, pengalaman tersebut tidak selalu harus dimaknai sebagai penderitaan, tetapi dapat menjadi momentum untuk menyadari keberadaan Allah dan kembali kepada-Nya.
Fahruddin menjelaskan pandangan Maulana Jalaluddin Rumi yang terkenal dengan ungkapan, “Biarkan hatimu pecah agar dia terbuka.” Menurutnya, ungkapan tersebut menggambarkan bahwa luka dan patah hati dapat membuka ruang batin manusia untuk menyadari sesuatu yang lebih hakiki.
“Allah itu mencintai orang yang patah hati,” ujar Fahruddin saat menjelaskan pemikiran Rumi dalam tayagan Ruang Sinau diakses Selasa (6/10/2026).
Ia menerangkan, terdapat sejumlah hadis yang memiliki makna bahwa Allah bersama orang-orang yang lemah, terpinggirkan, dan mengalami kesengsaraan. Karena itu, orang yang sedang patah hati dapat melihat pengalaman tersebut dari sisi berbeda.
“Jadi kalau sedang patah hati, alhamdulillah, berarti sekarang aku dicintai oleh Allah,” katanya.
Menurut Fahruddin, Rumi menggambarkan kondisi tersebut melalui perumpamaan air yang berada di dalam kendi tanah liat. Ketika kendi dipecahkan, air di dalamnya akan mengalir dan pada akhirnya kembali menyatu dengan sumber asalnya.
“Engkau menginginkan sedikit air dalam kendi tanah liat, tetapi kemudian engkau memecahkannya. Air itu akan bergabung kembali dengan danau dari mana dia berasal,” jelasnya mengutip perumpamaan Rumi.
Fahruddin mengatakan, manusia sering kali terlalu berfokus pada keinginan, hasrat, dan ambisi pribadi. Ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi, manusia mengalami kekecewaan yang kemudian dirasakan sebagai patah hati.
Namun, menurut dia, kondisi tersebut justru dapat menjadi kesempatan bagi jiwa untuk kembali kepada sesuatu yang lebih hakiki.
“Ketika hati kita patah, mengalirlah air menuju yang sejati. Sebenarnya ketika hati kita patah itu jiwa kita terbuka jalan untuk kembali ke yang hakiki,” jelasnya.
Ia menilai ego manusia sering kali menjadi penghalang untuk menjalani proses tersebut. Ketika seseorang ditinggalkan pasangan, misalnya, energi terbesar yang dikeluarkan justru untuk mendapatkan pasangan tersebut kembali.
“Kita lupa bahwa ada proses yang lebih ideal, yaitu kembali kepada Allah,” katanya.
Melatih Ego
Fahruddin menjelaskan, dalam pandangan Rumi, latihan spiritual melalui tasawuf, suluk, maupun tradisi tirakat pada dasarnya merupakan proses melatih ego manusia.
Tujuannya agar manusia mampu melepaskan keterikatan terhadap keinginan pribadi dan mengarahkan perjalanan batinnya kepada Allah.
“Tujuan utama latihan-latihan spiritual dalam tradisi mana pun, baik Timur maupun Barat, adalah untuk memungkinkan kita mengatasi keberatan yang diajukan oleh ego sehingga kita dapat melanjutkan perjalanan kita ke samudra persatuan,” tuturnya.
Ia kembali menggunakan ilustrasi air dalam kendi untuk menjelaskan perjalanan batin manusia. Air yang berada di dalam kendi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Ketika kendi pecah, air tersebut keluar dan mengalir menuju sumbernya.
Menurut Fahruddin, manusia sering kali berusaha mempertahankan “air” tersebut agar tetap berada dalam kendinya karena ingin memenuhi kepentingannya sendiri. Padahal, dalam perspektif Rumi, aliran air menuju sumbernya merupakan perjalanan menuju sesuatu yang lebih hakiki.
“Jadi, biarkan hatimu pecah. Berarti sekarang saatnya kamu kembali ke ranah ilahiah. Justru sekarang terbuka jalan,” ujarnya.
Sebaliknya, jika hati tidak pernah mengalami patah atau luka, manusia dapat terus larut dalam pemenuhan nafsu, hasrat, dan ambisi duniawi.
“Kalau hatimu tidak pecah, kamu tetap akan memanjakan nafsu, hasrat, ambisi duniawimu. Begitu pecah, sekarang kamu sadar dengan yang lebih sejati,” katanya.
Karena itu, Fahruddin menilai patah hati tidak selalu menjadi pengalaman yang harus dihindari. Dalam perspektif spiritual Rumi, patah hati dapat menjadi titik balik untuk menyadari bahwa kehidupan memiliki tujuan yang lebih hakiki.
“Patah hati itu penting ternyata untuk menyadarkan kita bahwa dalam hidup ini ada yang lebih hakiki dan perjalanan kita menuju ke sana,” ungkapnya.
Ia kemudian mengutip ungkapan lain yang menggambarkan makna luka dalam perjalanan spiritual manusia, yakni bahwa luka dapat menjadi jalan masuknya cahaya ke dalam jiwa.
“Luka adalah jalan cahaya yang memasuki jiwa,” ujarnya.
Menurut Fahruddin, luka dan patah hati dapat membuka kesadaran manusia terhadap sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat. Rekahan dalam hati menjadi ruang bagi seseorang untuk menerima cahaya dan menyadari kedekatannya dengan Allah.
“Itu mengapa Allah itu dekat dengan orang-orang yang hatinya patah, hatinya luka menghadapi penderitaan hidup. Karena berarti di situ ada rekahan yang cahaya bisa masuk,” pungkasnya.
Editor: Kendi Setiawan
