Netanyahu Apresiasi Pidato Prabowo, Hamas Siap Lepas Gaza

Netanyahu Apresiasi Pidato Prabowo, Hamas Siap Lepas Gaza

Arina.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyoroti pidato Presiden Indonesia Prabowo Subianto yang berapi-api dalam sesi debat umum ke-80 di PBB. Prabowo mengatakan akan mengakui Israel kalau Palestina juga diakui sebagai negara merdeka.

Netanyahu kemudian juga meminta dunia juga harus menghormati kekhawatiran keamanan Israel. Hal ini, kata Netanyahu, merupakan pertanda dari hal-hal yang akan datang. Dikutip dari Channel 124news, Netanyahu mengaku mencatat kata-kata Prabowo.

"Dan saya mencatat, seperti halnya Anda juga pasti mencatat, kata-kata yang penuh semangat yang disampaikan di sini oleh Presiden Indonesia. Ini adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Dan ini juga merupakan pertanda tentang apa yang bisa terjadi di masa depan," ucap Netanyahu.

Dalam beberapa tahun mendatang, Timur Tengah akan terlihat sangat berbeda. Banyak dari mereka yang berperang melawan Israel hari ini akan lenyap besok. Para pembawa damai yang berani akan menggantikan mereka. Terutama di Iran, yang rakyatnya yang telah lama menderita akan Membuat Iran Hebat Kembali.

Merespons pernyataan Netanyahu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia Sugiono, memberikan tanggapannya. "Itu posisinya dia, saya jangan ditanya," kata Menlu Sugiono kepada wartawan di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Antara, Jumat 26 September 2025.

Menlu kembali menegaskan bahwa visi apa pun terkait Israel, harus dimulai dari pengakuan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.

"Jadi, visi apa pun itu harus dimulai dari situ. Kita tidak akan berbicara yang lain-lain selain pertama ya ada recognition terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Palestina dan itu yang akan kita lakukan," kata Menlu menegaskan.

Sebelumnya, selain menyoroti pidato Prabowo, Netanyahu juga mengklaim bahwa para pemimpin Arab dan Muslim yang berpikiran maju mengetahui bahwa jika bekerja sama dengan Israel akan memberi mereka akses pada teknologi-teknologi mutakhir dari Israel, termasuk di bidang kedokteran, sains, pertanian, air, pertahanan, kecerdasan buatan, dan banyak bidang lainnya.

"Saya percaya bahwa dalam beberapa tahun ke depan, Timur Tengah akan terlihat sangat berbeda. Banyak dari mereka yang hari ini memerangi Israel, akan lenyap besok. Para pembawa damai yang berani akan menggantikan mereka," ucapnya.

Dalam pidatonya, Netanyahu juga membantah tuduhan terhadap Israel yang dengan sengaja membuat rakyat Gaza kelaparan dengan mengklaim bahwa Israel justru secara sengaja memberi makan rakyat Gaza.

Sejak perang dimulai, katanya, Israel telah memasukkan lebih dari 2 juta ton makanan ke Gaza setiap harinya atau setara dengan satu ton telur untuk setiap pria, wanita, dan anak-anak di Gaza, hampir 3.000 kalori per orang per hari.

"Jika ada warga Gaza yang tidak mendapat cukup makanan, itu karena Hamas yang mencurinya. Hamas mencuri, mengimpor, dan menjualnya dengan harga yang sangat tinggi," klaim Netanyahu.

Bertentangan dengan klaim Netanyahu, Kementerian Kesehatan Gaza pada awal September mencatat jumlah korban meninggal akibat malnutrisi di Jalur Gaza akibat blokade Israel terus bertambah menjadi 404 orang, termasuk 141 anak.

"Dalam 24 jam terakhir Kementerian Kesehatan Gaza telah mencatat lima kematian akibat kelaparan dan malnutrisi, salah satunya adalah anak-anak. Dengan demikian, total korban jiwa menjadi 404, termasuk 141 anak," demikian pernyataan tersebut.

Sepanjang Agustus 2025, sebanyak 185 orang meninggal akibat kelaparan di Gaza, rekor tertinggi dalam sebulan sejak pengepungan oleh Zionis diperketat mulai Maret tahun ini. Saat ini terdapat 43.000 balita dan lebih dari 55.000 ibu hamil dan menyusui menderita malnutrisi, menurut otoritas setempat.

Hamas siap melepas cengkeraman di Gaza

Sementara itu Hamas menyatakan bersedia menyerahkan pemerintahan di Jalur Gaza, namun menegaskan bahwa mereka tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rakyat Palestina.

"Kami siap tidak memerintah Gaza, kami tidak keberatan," kata pejabat senior Hamas, Ghazi Hamad, dalam wawancara dengan CNN sambil menambahkan bahwa eksistensi Hamas di dalam struktur rakyat Palestina tidak bisa diabaikan.

Seperti dilaporkan Anadolu, sejak menguasai Gaza dari Otoritas Palestina (PA) yang dipimpin Fatah pada 14 Juni 2007, Hamas telah menjalankan pemerintahan hingga perang Gaza pecah pada Oktober 2023.

Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mempresentasikan rencana 21 poin kepada para pemimpin Arab dan Muslim di sela Sidang Umum PBB ke-80 di New York, sebagai bagian dari pengaturan pasca-perang untuk Gaza.

Menurut laporan Israel Channel 12, rencana Trump antara lain mencakup pembentukan pemerintahan Gaza tanpa Hamas, pembentukan pasukan keamanan gabungan Palestina dan negara-negara Arab-Muslim, serta pendanaan Arab-Islam untuk rekonstruksi, dengan keterlibatan terbatas dari PA. 


Editor: Muhammad Taufiq
logo