Jakarta, Arina.id - Motif dari gagasan Presiden Amerika Donald Trump dan Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu merelokasi warga Gaza Palestina pelan-pelan terlihat. Ada sesuatu yang janggal di balik rencana tersebut.
Trump dalam beberapa kesempatan menekankan kalau Amerika ingin masuk ke Gaza denggan alasan ingin menyelamatkan kehidupan masyarakat di sana. Trump mengatakan berencana membangun real estate atau semacam perumahan bagi warga Gaza.
Namun ada syaratnya. Warga Gaza yang berhak menempati real estate nanti harus masuk ke dalam rencananya. Artinya Amerika dan Israel yang menentukan siapa akal menempati rumah tersebut.
Trump misalnya menjelaskan, warga Palestina yang meninggalkan Gaza di bawah rencananya untuk menguasai ​wilayah yang terkepung itu tidak akan memiliki hak untuk kembali ke daerah kantong tersebut.
Trump, yang sebelumnya telah menimbulkan kemarahan global atas rencananya untuk merelokasi warga Palestina keluar dari Gaza, kembali membuat pernyataan kontroversial pada Senin dalam wawancara dengan Fox News.
"Apakah warga Palestina akan memiliki hak untuk kembali?" tanya Bret Baier dari Fox News, yang mewawancarai Trump terkait rencananya untuk Gaza.
"Tidak, mereka tidak akan memilikinya," jawab Trump, mengklaim bahwa warga Palestina akan mendapatkan perumahan yang jauh lebih baik, Rabu (12/02/2025).
Seperti dikutip dari ANTARA, Trump juga mengklaim bahwa ia berencana membangun tempat permanen bagi warga Palestina, karena menurutnya Gaza saat ini tidak layak huni dan butuh bertahun-tahun sebelum bisa dihuni kembali.
Trump menggambarkan rencananya untuk Gaza sebagai pengembangan real estat untuk masa depan, dengan mengatakan ia bermaksud untuk membangun komunitas yang indah bagi 1,9 juta warga Palestina, di mana ia sendiri akan menjadi pemilik properti tersebut.
Presiden AS itu pertama kali mengungkapkan rencana kepemilikan Gaza dalam konferensi pers bersama Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu di Washington pekan lalu.
Warga Palestina dengan tegas menolak rencana tersebut dengan menyatakan mereka tidak akan pernah meninggalkan tanah mereka.
Negara-negara di seluruh dunia, termasuk di Asia Barat, juga menolak rencana tersebut, dengan beberapa di antaranya menyebutnya sebagai bentuk pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina.
Gagasan merelokasi warga Gaza terus dikecam
Kali ini giliran Dewan Menteri Arab Saudi yang mengecam keras pernyataan ekstremis Israel baru-baru ini yang menyarankan pengusiran rakyat Palestina dari tanah mereka.
Selama sidang yang dipimpin Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) di Riyadh pada Selasa 11 Februari 2025, kabinet Arab Saudi kembali menegaskan tentang pentingnya perjuangan rakyat Palestina bagi Kerajaan Arab Saudi.
Dewan tersebut juga menekankan bahwa perdamaian yang langgeng hanya dapat dicapai melalui penerimaan hidup saling berdampingan secara damai berdasarkan solusi dua negara (two state solution)
Arab Saudi secara konsisten mendukung hak-hak rakyat Palestina dan menyerukan sebuah resolusi yang adil atas konflik Timur Tengah, yang sejalan dengan upaya-upaya internasional untuk meningkatkan stabilitas dan keamanan di kawasan tersebut.
Editor: Muhammad Taufiq
