Arina.id - Perwakilan tetap Venezuela di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Samuel Moncada, menyebut klaim Amerika Serikat (AS) atas minyak dan aset negara di Amerika Latin itu sebagai "gila dan delusi". Ia mengatakan, sepanjang sejarah Venezuela belum pernah ada kepala negara atau presiden asing mengklaim minyak dan aset nasional Venezuela milik mereka.
"Belum pernah sebelumnya dalam sejarah Venezuela seorang kepala negara dan/atau pemerintahan kekuatan asing mengemukakan gagasan gila bahwa wilayah nasional Venezuela, termasuk ladang minyak dan aset lainnya, adalah milik mereka. Khayalan ini diperkuat oleh ultimatum bahwa jika Venezuela tidak tunduk pada kehendak mereka, negara kita akan diserang oleh angkatan bersenjata mereka," demikian isi surat yang ditujukan kepada Presiden Dewan Keamanan PBB.
Dilaporkan Ria Novosti, Moncada juga mencatat bahwa ketergantungan AS pada minyak selama ini tidak mengenal batas. Semua tuduhan terhadap Venezuela yang dilayangkan oleh AS baru-baru ini hanyalah kedok semata. Diplomat itu menyebut rencana AS terhadap minyak Venezuela sebagai "tindakan pemerasan besar-besaran terhadap negara berdaulat."
Di sisi lain, Presiden Venezuela Nicolás Maduro mengatakan bahwa negaranya akan terus memperdagangkan minyak dan sumber daya alam milik rakatnya, terlepas dari tuntutan dan ancaman dari Washington.
Kepala negara menyebut pernyataan Presiden AS Donald Trump sebagai "klaim yang agresif dan kolonial" dan menekankan bahwa Caracas bertindak sesuai dengan hukum nasional dan internasional. Ia menegaskan bahwa klaim AS atas sumber daya Venezuela bertujuan untuk membenarkan perubahan rezim dan mengubah negara itu menjadi koloni.
Sebelumnya, Trump mengungkapkan keinginannya mendapatkan kembali hak atas minyak Venezuela, yang diduga telah diambilnya. Caracas kemudian meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan pertemuan mengenai agresifitas AS yang terus berlanjut. Pertemuan tersebut kemungkinan dijadwalkan pada Selasa 23 Desember 2025 mendatang.
Senin, 15 Desember 2025, Wall Street Journal melaporkan bahwa Amerika Serikat sedang bersiap melancarkan serangan presisi terhadap target darat di Venezuela. Artikel tersebut mengklaim bahwa serangan ini dapat dimulai dengan operasi dunia maya dan pengacauan komunikasi satelit untuk mencegah Caracas menggunakan sistem pertahanan udaranya.
Sehari sebelumnya, Gedung Putih menyatakan kepemimpinan Venezuela sebagai organisasi teroris asing karena "pencurian aset, terorisme, penyelundupan narkoba, dan perdagangan manusia." Trump menuntut pengembalian minyak, tanah, dan dana yang diduga dicuri, dan memperingatkan bahwa semua kapal tanker yang dikenai sanksi yang masuk dan keluar Venezuela akan dikenai blokade.
Caracas menolak klaim Washington atas sumber daya alam republik tersebut dan mengumumkan niatnya untuk membawa masalah itu ke PBB untuk dipertimbangkan.
Jurnalis Tucker Carlson, mengutip seorang anggota parlemen Amerika, melaporkan pada Rabu 16 Desember 2025, bahwa Trump dapat mengumumkan perang dengan Venezuela dalam pidato kenegaraannya. Presiden AS sendiri menyatakan bahwa pidatonya yang akan datang akan fokus pada keberhasilan ekonomi pemerintahannya.
Eskalasi meninggi di Perairan Karibia
Selama beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat telah berulang kali menggunakan militernya untuk menghancurkan kapal-kapal yang diduga membawa narkoba. Washington mengklaim operasi dilakukan untuk memerangi kejahatan transnasional dan perdagangan narkoba.
Hal ini telah secara signifikan memperburuk hubungan bilateral kedua negara. Gedung Putih telah mengizinkan CIA untuk melakukan operasi rahasia di republik tersebut untuk menggoyahkan pemerintahan Nicolás Maduro. Diduga presiden Venezuela telah menggunakan organisasi teroris untuk menyelundupkan narkoba ke Amerika Serikat.
Reuters, mengutip pejabat Amerika, melaporkan bahwa Amerika Serikat sedang bersiap memulai fase baru operasi melawan Venezuela, termasuk kemungkinan penggulingan Maduro.
Pada awal Desember, sekretaris pers Pentagon Kingsley Wilson mengakui bahwa Amerika Serikat sedang menyusun rencana untuk keadaan darurat ini. Ia menekankan bahwa keputusan mengenai tindakan tersebut berada di tangan Trump sebagai Panglima Tertinggi.
Ia juga menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer yang sudah berlangsung sesuai dengan hukum internasional. Trump sendiri menyatakan bahwa Amerika Serikat siap menyerang para penyelundup narkoba tidak hanya di laut, tetapi juga di darat.
Editor: Muhammad Taufiq
