Korsel-AS Gelar Latihan Militer Gabungan Skala Besar, Korut Meradang

Korsel-AS Gelar Latihan Militer Gabungan Skala Besar, Korut Meradang

Arina.id -- Pemerintah Korea Utara (Korut) meradang atas digelarnya latihan militer gabungan skala besar antara Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat. Pihak Korut mengecam aktivitas tersebut sebagai tindakan provokatif.

Hal tersebut dikabarkan oleh kantor berita resmi Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA) pada Senin (10/3/2025), yang kemudian dikutip Antaranews.

“Tindakan provokatif berbahaya dan memicu situasi genting di semenanjung Korea," jelas KCNA, mengutip sebuah pernyataan pers yang dirilis oleh Departemen Pers dan Informasi Kementerian Luar Negeri Korea Utara.

Sedangkan menurut kantor berita Yonhap, Korsel-AS memulai latihan militer gabungan tahunan yang dinamai "Perisai Kebebasan" (Freedom Shield), mulai hari Senin, 10 Maret 2025.

Latihan militer ini diagendakan berlangsung dalam tempo 11 hari. Diisi dengan latihan simulasi komputer dan latihan militer di lapangan. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kinerja pasukan militer dari kedua negara.

Sementara itu pada Kamis (6/3/2025) pekan lalu, pihak Angkatan Udara Korea Selatan sempat melakukan insiden memalukan ketika pilot pesawat tempur mereka salah menjatuhkan bom artileri di kawasan sipil.

Ada 2 pesawat tipe KF-16 yang dilaporkan salah menjatuhkan bom MK-82, hingga menimpa wilayah di luar target. Hingga salah satu bom jatuh di wilayah sipil Desa Nogok, brlokasi sekira 26 mil dari Seoul.

Dikabarkan oleh surat kabar Chosun Ilbo, akibat insiden tersebut setidaknya 5 rumah rusak dan menyebabkan hingga 15 orang cedera. Kemudian sebuah gudang, gereja, rumah kaca, dan truk juga dilaporkan mengalami kerusakan.

Hasil penyeldikan sementara yang disebutkan oleh kantor berita Yonhap, menjelaskan bahwa sang pilot jet tempur telah salah memasukkan titik koordinat target bom. Sang pilot tersebut mengabaikan prosedur verivikasi 3 langkah sebelum memutuskan menjatuhkan bom.

"Pilot pesawat pertama seharusnya memeriksa ulang target setidaknya 3 kali selama proses menjalankan tugas, namun tidak dilaksanakan," terang pihak Angkatan Udara Korsel, seperti dilaporkan oleh Yonhap.

Pilot pesawat jet pertama disebut gagal menyadari kesalahan saat memasukkan koordinat ke dalam sistem perencanaan misi, lalu tidak memeriksa pesawat setelah perangkat transfer data penerbangan yang dipasang jelang lepas landas.

Pilot pertama mengabaikan perubahan kecil rute penerbangan, dan mulai menjatuhkan bom tanpa melakukan verifikasi koordinat.

Kemudian pilot jet kedua diketahui memasukkan koordinat yang benar. Akan tetapi lantaran latihan yang digelar adalah operasi serangan serentak, ia lantas mengikuti tindakan pesawat pertama.

 


Editor: A. Sentosa
logo