Banjir di India Timur Laut Tewaskan Hampir 100 Orang

Banjir di India Timur Laut Tewaskan Hampir 100 Orang

Assam, Arina.id — Banjir di wilayah timur laut India telah menewaskan hampir 100 orang, berdasarkan pembaruan data korban resmi pada Jumat (7/8/2026). Desa-desa di negara bagian Assam bahkan tertimbun lumpur setelah wilayah tersebut dilanda salah satu banjir terparah dalam beberapa tahun terakhir.

Sedikitnya 97 orang tewas akibat banjir di Assam, yang telah berdampak terhadap hampir 170.000 penduduk. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara setelah sungai-sungai yang meluap merendam rumah dan lahan pertanian.

Air banjir juga menenggelamkan lebih dari 14.000 hektare lahan pertanian, atau hampir satu setengah kali luas wilayah Paris.

Laporan AFP menyebutkan sejumlah rumah yang terendam hingga separuh bagian, pepohonan yang tumbang, serta kendaraan yang tertimbun lumpur di Distrik Sivasagar, salah satu wilayah yang terdampak paling parah.

Bocah 13 Tahun Tewas Saat Menyelamatkan Anjing
Kepala Menteri Assam Himanta Biswa Sarma pada Jumat membagikan video saat dirinya menghibur orang tua seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang meninggal ketika berusaha menyelamatkan anjing peliharaannya dari derasnya arus banjir.

“Tidak ada orang tua yang seharusnya mengalami kehilangan anaknya,” tulis Sarma dalam unggahannya.

Menteri Kesehatan India J.P. Nadda yang mengunjungi wilayah terdampak banjir pada Kamis mengatakan, skala kerusakan yang terjadi sangat besar sehingga pemulihan kondisi normal membutuhkan waktu.

“Desa demi desa terendam,” kata Nadda kepada wartawan.

Banjir Rutin Melanda Assam sat Musim Hujan
Seperti sebagian besar wilayah anak benua India, banjir merupakan bencana yang kerap terjadi di Assam selama musim monsun yang berlangsung dari Juni hingga September.

Sungai Brahmaputra, sungai terbesar di India, bersama banyak anak sungainya, kerap meluap selama periode hujan lebat dan menyebabkan banjir di berbagai wilayah Assam.

Namun, para ahli menilai perubahan iklim yang diperparah pembangunan yang tidak terencana meningkatkan frekuensi, intensitas, dan dampak bencana banjir di kawasan tersebut.

Warga dan pejabat setempat juga menuding aktivitas penambangan batu bara ilegal di negara bagian tetangga, Nagaland, turut memperburuk kondisi banjir. Mereka menyebut aktivitas tersebut menyebabkan banjir meluas hingga ke wilayah yang sebelumnya tidak termasuk kawasan yang rawan terendam.

Himanta Biswa Sarma mengatakan akan membawa persoalan tersebut kepada pemerintah pusat di New Delhi.

Kelompok advokasi Climate Trends menyatakan peningkatan keparahan banjir di Assam dipengaruhi oleh interaksi antara pemanasan global, perubahan dinamika sungai, dan meningkatnya paparan masyarakat terhadap risiko bencana.

Menurut kelompok tersebut, kombinasi berbagai faktor itu membuat banjir semakin sering terjadi, lebih kompleks, serta menimbulkan kerugian yang semakin besar.


Editor: Kendi Setiawan
logo