Cerita Tersembunyi Saat Khofifah dan Mahfud MD Setop Gus Dur Mundur dari PKB

Cerita Tersembunyi Saat Khofifah dan Mahfud MD Setop Gus Dur Mundur dari PKB

Jakarta, Arina.id - Menjelang haul ke-15 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selalu ada cerita tersembunyi terkuak dari orang-orang terdekatnya. Seperti cerita yang diungkap Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur terpilih dan Mahfud MD, mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam)  berikut ini.

Dalam konten Ruang Sahabat di akun Youtube Mahfud MD Official,  keduanya menceritakan bagaimana kisah mereka melindungi Gus Dur dari pernyataan-pernyataan kontroversial yang berdampak besar. Salah satu cerita yang dilontarkan Khofifah dalam podcast itu yakni ketika dirinya pernah membakar surat pengunduran diri Gus Dur dari Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tanpa pengetahuan PKB. 

Kejadian itu terjadi pada 2001, selepas Gus Dur tak lagi menjabat sebagai presiden RI. Saat itu Gus Dur akan berangkat ke Baltimore Amerika Serikat untuk mendapatkan perawatan. Khofifah yang merupakan kepercayaan Gus Dur ikut mengantarnya ke ruang VIP Bandara Soekarno-Hatta. Selepas mengantar Gus Dur, ia menerima pesan dari seseorang agar menemuinya.

"Setelah dari Soetta, sore kita melepas Gus Dur, kemudian saya datang ke orang yang membawa surat. Saya rasa yang menulis orang lain tapi yang tanda tangan Gus Dur. Sebetulnya Gus Dur sudah mengundurkan diri waktu itu," kata Khofifah mengungkap peristiwa 20 tahun silam. 

Usai membaca isi surat tersebut, Khofifah memutuskan meminjam korek api kepada orang yang ditemuinya itu lalu membakar surat pengunduran diri Gus Dur dari PKB. Hal itu ia lakukan demi kebaikan bersama. 

"Saya berdua sama bapak itu, saya bilang untuk kebaikan semuanya, saya minta korek api dan saya bakar surat itu," lanjut Khofifah.

Percikan dari kertas-kertas itu kemudian dikuburkan dalam tanah di dalam vas bunga. Khofifah berpikir jika pengunduran diri Gus Dur diketahui banyak orang, otomatis PKB bisa bubar. Sebab Gus Dur adalah pendiri sekaligus pemilik PKB.

"Jadi sebelum berangkat ke Amerika, Gus Dur sudah membuat surat pengunduran diri dari dewan syuro. Tapi kan di struktur PKB dewan syuro ini penguasa tertinggi, Gus Dur kalau saya menyebut bukan hanya founder tetapi owner. Kalau dia mundur, sudah bubar ini partai," ucapnya. 

Niat Gus Dur mengundurkan diri dari PKB juga dikonfirmasi Mahfud MD yang kala itu tengah berkiprah menjadi Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta setelah berhenti menjadi Menteri Pertahanan. Usai lengser dari PKB, Gus Dur meminta Mahfud MD untuk masuk PKB. 

"Waktu itu kan Gus Dur mau mundur sebenarnya, alasan Gus Dur mundur karena secara psikologis PKB ini tidak enak punya presiden pernah jatuh, masa mau memimpin. Gus Dur bilang, Pak Mahfud masuk saja ke PKB," kata Mahfud mengulang percakapan bersama Gus Dur kala itu.

Mahfud mulanya menolak karena dia adalah seorang guru besar ketika masuk partai maka harus melepaskan kariernya. Tak lama, Gus Dur yang saat itu berada di Amerika menelpon Mahfud untuk masuk PKB. Ia berkenan masuk PKB dengan syarat Gus Dur tidak boleh mundur dari PKB.

"Waktu itu sudah mau keluar dan sudah banyak juga diceritakan di internal PKB. Gus Dur kala itu pulang dari Amerika aktif lagi menjadi ketua dewan syuro," ujarnya.

Mahfud MD bersama AS Hikam, dan Marzuki Usman masuk jajaran pengurus PKB sementara Khofifah lebih dahulu masuk di internal dari sana mereka berjuang habis-habisan menemani Gus Dur. 

"Saya aktif sebagai wakil ketua umum PKB, Khofifah sebagai ketua badan pemenangan pemilu. Kami bekerja siang malam agar PKB bangkit lagi," tuturnya. 

Mendampingi Gus Dur di tengah ketegangan

Khofifah menceritakan pengalaman mereka mendampingi Gus Dur yang dikenal pemberani dan sering kali memiliki pemikiran out of the box. Lantaran itulah ia kerap membuat pernyataan-pernyataan kontroversial, sehingga butuh tim yang bisa mengawal perjalanan dan bisa mengimplementasikan ide-ide besar tersebut.

Apalagi dalam beberapa hal, pemikiran Gus Dur yang out of the box itu sering kali tidak memperhitungkan risiko jangka pendek dan panjang. "Maka apa yang sering kami lakukan, bagaimana bisa relatif menjaga Gus Dur dari kemungkinan kontradiktif yang bisa menimbulkan hal-hal yang tidak kami harapkan," jelasnya. 

Pagi-pagi buta, kata Khofifah, mereka selalu menemani Gus Dur dalam kegiatan subuhnya. Gus Dur sering berjalan kaki tujuh putaran di sekitar rumahnya setelah salat subuh, sambil mengutip syair-syair dari Abu Nawas yang selalu dihafalnya meski dalam kondisi tidak sepenuhnya sehat. 

"Gus Dur seringkali tidak menghitung risiko jangka pendek dan panjang, dan itulah mengapa kami selalu mendampinginya untuk memastikan bahwa semua informasi yang keluar dari Gus Dur aman," kata Khofifah.

Mahfud MD, yang juga berbicara tentang pengalaman serupa, Gus Dur seringkali membuat pernyataan mengejutkan yang dapat memicu kegaduhan di masyarakat. Salah satunya ketika mengeluarkan dekrit presiden hingga menciptakan kehebohan di kalangan para politisi. 

"Agar tidak ada informasi menyesatkan, selalu tiba-tiba belum terverifikasi jadi kami bergantian menjaga Gus Dur setiap subuh. Begitu lah tugas kami, kami menghalau informasi yang tiba-tiba muncul, kita sharing dengan jalan bareng," tuturnya.

Mahfud juga mengungkapkan bagaimana Gus Dur, setelah salat subuh, sering berkeliling dan bertemu dengan banyak orang, bahkan tokoh-tokoh yang sebelumnya sulit dijangkau. 

"Pada saat itu, orang-orang yang tidak boleh masuk ke istana, tiba-tiba bisa ditemui Gus Dur setelah mereka menelpon beliau," ujarnya menambahkan.

Meskipun berada di tengah situasi penuh ketegangan, baik Khofifah maupun Mahfud mengatakan bahwa mereka tetap mendampingi Gus Dur hingga detik-detik terakhir masa kepresidenannya. 

"Kami menjaga Gus Dur habis-habisan, termasuk dalam situasi panas menjelang kejatuhannya," ujar Mahfud.


Editor: Muhammad Taufiq
logo