Paus Leo Prihatin Bencana Kelaparan Akut di Gaza, Negosiasi Israel-Hamas Gagal Total

Paus Leo Prihatin Bencana Kelaparan Akut di Gaza, Negosiasi Israel-Hamas Gagal Total

Arina.id - Krisis kemanusiaan serius tengah dialami warga Gaza Palestina sekarang ini. Bencana kelaparan parah mengancam mereka, orang tua, bayi, anak-anak serta perempuan di tengah perang melawan penjajahan Zionis Israel.

Bencana kelaparan yang sudah diperingatkan dunia internasional itu terus menuai keprihatinan dunia. Pemimpin tertinggi Katolik, Paus Leo XIV, mengeluarkan peringatan keras terkait krisis kemanusiaan yang sangat serius di Jalur Gaza itu. Ia menyerukan bencana diatasi segera.

Paus mengatakan warga Gaza kini dihancurkan oleh kelaparan dan terus menghadapi kekerasan serta kematian. Ia mengikuti isu-isu di Palestina dengan keprihatinan mendalam terhadap nasib warga di sana.

"Saya mengikuti dengan keprihatinan mendalam situasi kemanusiaan yang sangat serius di Gaza, di mana penduduk sipil dihancurkan oleh kelaparan dan terus terpapar kekerasan dan kematian," ujarnya dikutip dari Vatikan News.

Pernyataan Paus tersebut muncul di tengah meningkatnya kemarahan global atas kondisi bencana di wilayah kantong yang terkepung tersebut, di mana lembaga-lembaga bantuan melaporkan pengungsian massal, kelaparan, dan meningkatnya angka kematian anak akibat pembatasan akses makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan oleh Israel selama berbulan-bulan.

Paus Leo kembali mendesak gencatan senjata secara, menyerukan pembebasan semua sandera, dan akses tanpa hambatan bagi bantuan kemanusiaan. Ia menekankan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang melekat dalam dirinya yang dianugerahkan oleh Tuhan.

Ia pun menyerukan para pemimpin politik dan semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk mengakui martabat tersebut dan menghentikan segala tindakan yang melanggarnya.

Sebelumnya, sejak serangan Israel pada 7 Oktober 2023, sampai sekarang total korban tewas mencapai 60.000 warga Palestina dengan sebagian besar korbannya adalah perempuan dan anak-anak. Pengeboman tanpa henti telah menghancurkan wilayah kantong tersebut dan menyebabkan krisis pangan sangat parah.

Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Kepala Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang dilancarkan terhadap wilayah kantong tersebut.

Trump minta Israel segera tentukan sikap

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Israel harus mengambil keputusan terkait langkah selanjutnya di Gaza, setelah upaya perundingan gencatan senjata gagal. Israel dan Hamas sama-sama tidak mau melunak dalam negosiasi. "Mereka (Hamas) tidak mau mengembalikan para sandera, jadi Israel harus mengambil keputusan," ujarnya.

"Saya tahu apa yang akan saya lakukan, tapi saya rasa tidak tepat jika saya mengatakannya. Tapi Israel akan harus mengambil keputusan," kata Trump kepada wartawan saat tampil bersama Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di Skotlandia. Ia menekankan kesepakatan dengan Hamas mungkin bisa tercapai jika jumlah sandera berkurang. 

Akan tetapi, begitu Hamas menyerahkan sandera, itu tanda bahwa Israel akan melenyapkan mereka. "Begitu mereka menyerahkan sandera, mereka merasa itu akhir dari mereka," katanya. Dalam situasi itu, sikap keduanya benar-benar alot sampai akhirnya negosiasi gagal.

Trump mengeklaim bahwa Amerika Serikat memberi 60 juta dolar AS (Rp9,8 triliun) dua minggu lalu untuk bantuan makanan ke Gaza, sembari mengeluh: "Tidak ada yang mengakui itu; tidak ada yang membicarakannya. Rasanya agak buruk saat Anda memberi bantuan, tapi negara lain tidak memberi apa pun."

Trump mengatakan tanpa bantuan dari AS, orang-orang di Gaza akan kelaparan dan menuduh Hamas mencuri dan mengeklaim: "Banyak makanan itu dicuri oleh Hamas… mereka mencurinya, lalu menjualnya."

Ia mengatakan AS akan mengirim lebih banyak bantuan ke Gaza dan mendesak negara lain untuk melakukan hal yang sama, sembari menambahkan bahwa situasi di Gaza bukan hanya masalah Amerika Serikat, melainkan masalah internasional.

Sebelumnya, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, mengumumkan bahwa delegasi AS akan kembali ke Washington, setelah respons Hamas menunjukkan kurangnya keinginan untuk mencapai gencatan senjata di Gaza. AS kini akan mempertimbangkan "opsi alternatif" untuk mengamankan para sandera dan menstabilkan situasi di Gaza.

Sejak 2 Maret 2025, Israel membatalkan implementasi kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan dengan Hamas, sambil menutup perlintasan Gaza dan memblokir ratusan truk bantuan masuk ke wilayah kantong yang terkepung tersebut.

Menolak tekanan internasional untuk gencatan senjata, Israel melanjutkan kampanye militernya yang mematikan di Gaza sejak akhir 2023. Kematian akibat kelaparan meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir akibat blokade selama berbulan-bulan dan distribusi bantuan yang buruk oleh lembaga kontroversial Gaza Humanitarian Foundation (GHF).


Editor: Muhammad Taufiq
logo