Banjarnegara, Arina.id – Ramadhan di pesantren selalu menghadirkan nuansa yang khas. Sejak waktu sahur hingga larut malam, hari-hari para santri selalu dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur’an, setoran hafalan, kajian kitab, hingga shalat berjamaah yang selalu penuh shaf-nya.
Namun pada hari itu, Minggu, mengawali bulan Maret 2026, santriwan-santriwati Pondok Pesantren Modern Tahfidzul Qur’an Andalusia Banjarnegara, Jawa Tengah, diberi kesempatan untuk belajar literasi digital.
Melalui pelatihan bertajuk Santri Gen-Z Memproduksi Konten Media, Gerakan Santri Menulis (GSM) 2026 di Gedung Cengho, selama sehari penuh, peserta belajar membuat konten positif. Mereka juga dibekali dasar-dasar jurnalistik, seperti memahami struktur 5W+1H, menyusun lead yang kuat, menentukan angle berita, hingga teknik wawancara sederhana.
Pada sesi praktik, santri diminta menulis berita pendek seputar aktivitas Ramadhan di pesantren, lalu mempresentasikannya. Ada yang masih kaku merangkai kalimat, ada pula yang mulai berani bermain dengan gaya feature. Mereka langsung praktik dan berdiskusi, dibimbing sejumlah mentor dan praktisi sebuah media terbesar di Jawa Tengah.
Etika bermedsos
Tak hanya itu, materi produksi konten juga membahas etika bermedia sosial, pentingnya verifikasi informasi, serta cara membuat caption yang komunikatif tanpa sensasi berlebihan.
Beberapa contoh konten keliru dipaparkan untuk dikritisi bersama. Suasana pun hangat oleh riuh tawa para santri.
Tasya, santri putri asal Bukateja Purbalingga, mengungkapkan, pelatihan ini mengubah cara pandangnya terhadap media sosial.
“Sekarang kami paham kalau menulis itu bisa jadi bagian dari dakwah. Sekarang lebih hati-hati sebelum posting dan ingin membuat konten yang bermanfaat,” tuturnya.
Sementara itu, Fatih, santri asal Tegal, merasa tertantang untuk terus belajar. Pelatihan ini banyak membawa ilmu baru yang membuka wawasannya.
“Ternyata membuat berita itu ada tekniknya. Kami diajari cek fakta dan tidak asal membagikan informasi. Ini penting sekali untuk kami sebagai generasi muda,” katanya.
Santri cakap teknologi
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Banjarnegara, Sagiyo, yang hadir membersamai peserta berpendapat, di era digital dewasa ini, ruang belajar di pesantren tak lagi sebatas masjid dan kelas. Santri generasi Z harus mampu menyeimbangkan ilmu agama dan kecakapan teknologi.
“Santri hari ini tidak cukup hanya pandai dan alim, tetapi juga harus mampu membuat konten yang membawa kebaikan,” ujarnya.
Senada dengan iitu, Kepala Kantor Kementerian Agama Banjarnegara, Sukarno, turut mengingatkan pentingnya prinsip tabayyun. Di tengah derasnya arus informasi, santri diharapkan menjadi penjernih kabar bohong. Jejak digital, kata dia, akan berdampak panjang bagi masa depan.
“Ayo kita menjadikan gawai bukan sebagai alat hiburan semata, melainkan sarana dakwah yang mencerahkan,” ajak Sukarno.
Relevan dengan dunia pesantren
Pembina Pondok Pesantren Andalusia Banjarnegara, Ustadz Anwasy Mahfudz Al Hafidz, mengaku sangat bersyukur para santrinya berkesempatan belajar literasi digital.
Menurutnya, pelatihan ini menyatu dengan kehidupan religius pesantren yang dipenuhi disiplin ibadah. Ini merupakan ikhtiar besar untuk membentuk santri yang siap berdakwah di ruang publik modern,
“Ini sebuah perpaduan nilai Qur’ani dan kecakapan digital. Kalian masih muda, perjalanan masih panjang. Isilah waktu dengan ilmu dan amal,” pesannya kepada para santri, sembari mengutip sabda Rasulullah Saw,“Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim” (menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim).
Semangat itu menemukan maknanya, melalui ikhtiar menjadi santri Qur’ani yang tak hanya fasih melafalkan ayat suci, tetapi juga piawai merangkai kata, cakap membuat konten kreatif, serta menyebarkan kebajikan di jagat digital.
Editor: Kendi Setiawan
