Apa yang Tersisa dari 12 Hari Perang Israel–Iran?

Apa yang Tersisa dari 12 Hari Perang Israel–Iran?

Arina.id—Kekhawatiran meletusnya Perang Dunia III sempat mengemuka setelah Israel mendapat bantuan langsung dari Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada Sabtu (21/6/2025) malam. 

Seperti diketahui kekuatan nuklir Iran membawa kekhawatiran bagi negara-negara dunia. Amerika Serikat (AS) beberapa kali ingin berunding dengan Iran tetapi ditolak mentah-mentah.

Perang 12 hari bermula ketika pada Jumat (13/6/2025) Israel mengirimkan serangan udara ke Iran. Ibu Kota Iran, Teheran ikut jadi sasaran serangan. Serangan berikutnya menyasar fasilitas nuklir Iran, bandara hingga menewaskan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Hossein Salami, panglima tertinggu Korps Garda Revolusi Islam, Mohammad Bagheri, Kepala staf Angkatan Bersenjata Iran dan ilmuan nuklir Mohammad Mehdi Tehranchi dan Fereydoun Abbasi dan enam ilmuwan lainnya.

Serangan operasi bernama Rising Lion yang menyasar jantung program nuklir itu membuat Iran marah dan melakukan serangan balik dengan meluncurkan operasi True Promise 3 ke Tel Aviv, Haifa, dan Yerussalem.

Menurut Israel Defence Forces (IDF), Iran meluncurkan sekitar 550 rudal balistik dan 1.000 pesawat nirawak ke Israel selama perang. Alasan Israel menyerang Iran lantaran Iran dianggap sebagai kekuatan di belakang Hamas, Houthi, Hizbullah yang menyerang Israel.

Kedua, program pengembangan nuklir Iran yang dikhawatirkan digunakan untuk menyerang Israel sebagaimana pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai perundingan kesepakatan terkait pengayaan uranium di Iran.

Perang itu berubah ke fase yang berpotensi lebih bergejolak ketika Amerika Serikat menyerang tiga lokasi nuklir di Iran yakni Natanz, Fordo, dan Isfahan. Serangan dengan nama sandi operasi Made Night Hammer menggerakan 125 pesawat termasuk pembom siluman B2 dan rudal jelajah Tomahak diklaim oleh Presiden Donald Trump sebagai upaya untuk membatasi kemampuan nuklir Iran dan memaksa negara itu mengakhiri "perang 12 hari” dengan Israel. 

Ali Akbar Velayati, seorang penasihat pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan Amerika telah menyerang jantung dunia Islam dan harus menunggu konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki.

Serangan itu juga mendapat kecaman keras dari negara lain. Kementerian Luar Negeri Rusia mengutuk keras serangan AS terhadap Iran.

"Keputusan yang tidak bertanggung jawab untuk menjadikan wilayah negara berdaulat sebagai sasaran serangan rudal dan bom, apa pun argumen yang diajukan, secara mencolok melanggar hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata kementerian tersebut dalam pernyataannya dikutip Al Jazeera.

Beberapa jam setelah aksi pengeboman AS, Iran meluncurkan rentetan rudal yang menghantam sebagian Tel Aviv dan Haifa di Israel. Setidaknya 86 orang terluka. Pada saat itu pula, pemerintah Iran berjanji menutup Selat Hormuz. 

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran yang paling penting bagi lalu lintas pasokan minyak dunia. Selat yang terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman itu memungkinkan sekitar 20 persen dari konsumsi minyak harian dunia melewatinya, atau sekitar 20 juta barel. 

Pada hari Senin (23/6/2025) Iran menembakkan rudal ke pangkalan udara AS terbesar di Timur Tengah, Al Udeid di Qatar. Tak ada korban jiwa dalam operasi yang dijuluki Bashaer Al-Fatah namun Presiden Trump langsung mengumumkan bahwa Iran dan Israel sepakat gencatan senjata total dan menyeluruh.

"Selamat kepada semuanya! Telah disetujui sepenuhnya oleh dan antara Israel dan Iran bahwa akan ada gencatan senjata yang menyeluruh dan total (dalam waktu sekitar 6 jam dari sekarang, ketika Israel dan Iran telah mereda dan menyelesaikan misi terakhir mereka yang sedang berlangsung!), selama 12 jam, di mana pada saat itu perang akan dianggap berakhir!" tulis Trump di Truth Social dikutip The Guardian, Selasa (24/6/2025).

Namun hal itu sempat dibantah oleh Iran. "Sampai saat ini, tidak ada kesepakatan mengenai gencatan senjata atau penghentian operasi militer," ujar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dalam postingannya di akun X miliknya, @araghchi.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan bahwa Iran melakukan pelanggaran karena masih meluncurkan rudal setelah gencatan senjata berlaku. Dua rudal Iran diklaim telah ditembakkan hingga memicu sirene di utara Israel meski Iran membantahnya.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz pun lantas menyatakan akan menanggapi dengan serius pelanggaran yang dilakukan Iran. Hal ini membuat marah Trump. Trump menyebut dua negara berperang sangat lama dan keras sehingga mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Pada Selasa (24/6/2025), Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan gencatan senjata dengan Israel untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 12 hari.

"Hari ini, setelah perlawanan heroik bangsa kita yang hebat, yang tekadnya membuat sejarah, kita menyaksikan terbentuknya gencatan senjata dan berakhirnya perang 12 hari," kata Pezeshkian dalam sebuah pesan yang disiarkan oleh kantor berita resmi IRNA.

Sementara itu Kepala Staf Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir mengatakan akan kembali fokus melawan kelompok militan Palestina Hamas di Gaza setelah gencatan senjata dengan Iran.

"Kini fokusnya kembali ke Gaza - untuk membawa pulang para sandera dan membubarkan rezim Hamas," katanya dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari AFP.

Jumlah Korban dan Kerugian Finansial

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran mengatakan 627 orang tewas di Iran selama perang 12 hari. Iran juga melaporkan sebanyak 4.870 orang mengalami luka-luka. Sekitar 86,1 persen korban meninggal di tempat kejadian, sementara 13,9 persen meninggal karena luka-luka di rumah sakit. 28 ilmuwan Iran termasuk 12 ahli nuklir, dan dua spesialis AI juga menjadi korban.

Sementara Time of Israel melaporkan terdapat 28 korban jiwa dan lebih dari 3.000 orang luka akibat rentetan balasan serangan dari Iran dan 9.000 orang telah mengungsi dari rumah.

Perang yang berlangsung selama 12 hari ini tidak hanya menimbulkan krisis kemanusiaan, tetapi juga berdampak pada kerugian ekonomi bagi Israel dan Iran. Konflik di kawasan Timur Tengah ini turut memicu gangguan terhadap perdagangan global, lonjakan harga minyak yang signifikan, serta berujung pada pengalihan rute penerbangan internasional.

Israel bahkan menyatakan bahwa kerugian yang dialami dua kali lipat dari kerugian yang terjadi akibat pertempuran dengan Hamas.

Dilaporkan oleh Finansial Exprees, Israel mengeluarkan sekitar 5 miliar dolar AS atau sekitar 81,6 triliun dalam minggu pertamanya berkonflik dengan Iran. Biaya sehari-hari selama pertempuran mencapai sekitar 725 juta dolar AS. 

Menurut The Wall Street Journal, hanya untuk sistem pertahanan rudal saja, biaya dapat berkisar antara 10 hingga 200 juta dolar AS dalam waktu satu hari.

Total kerugian ekonomi diperkirakan antara 11,5 hingga 17,8 miliar dolar AS. Angka ini terdiri dari pengeluaran untuk kebutuhan militer, kerusakan infrastruktur, dan intercept lebih dari 400 rudal Iran.

Di sisi lain, Amerika Serikat mengalami kerugian sekitar 1 hingga 2 miliar dolar akibat serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Iran pun merasakan dampak serupa dengan kerugian ekonomi yang cukup besar.

Menurut TRT Global, seorang analis militer bernama Krieg melaporkan bahwa kerugian mencapai antara 24 hingga 25 miliar dolar AS karena serangan Israel yang mengenai 21 dari 31 provinsi Iran, termasuk bandara, situs nuklir, lokasi militer, serta infrastruktur energi. Total kerugian tersebut setara dengan 9,2 persen dari PDB Iran yang diperkirakan sebesar 380 miliar dolar AS.


Editor: Muhammad Zunus
logo