Jakarta, Arina.id — Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei 2025 menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan Indonesia. Ini menjadi ajang refleksi dan evaluasi terhadap capaian serta tantangan pendidikan nasional, termasuk pendidikan keagamaan.
Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) mengambil bagian dalam transformasi pendidikan melalui penyelenggaraan Ujian Masuk PTKIN (UM-PTKIN) 2025 yang berlangsung secara terpadu dan serentak.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama RI, Prof Arskal Salim menegaskan pentingnya digitalisasi dalam tata kelola pendidikan tinggi keagamaan.
"Jika kita melaksanakannya dengan cermat dan prosedur yang rapi, maka pendidikan keagamaan akan tetap mampu menjawab tantangan zaman, termasuk di era kemajuan teknologi informasi," ujarnya dalam Media Gathering UM-PTKIN 2025 di Jakarta pada Jumat (2/5/2025).
Menurut Arskal, digitalisasi menjadi salah satu program prioritas Menteri Agama dalam Asta Prioritas 2024, terutama dalam membangun sistem seleksi yang transparan, akuntabel, dan inklusif.
"Semua dilakukan secara digital, bukan hanya seleksi, tapi juga dalam membangun sistem pendidikan yang menyeluruh dan dapat diakses lebih luas oleh calon mahasiswa dari seluruh pelosok negeri," katanya.
UM-PTKIN 2025 akan dilaksanakan secara luring di titik-titik lokasi ujian yang dipilih oleh peserta, menggunakan aplikasi Sistem Seleksi Elektronik (SSE). Langkah ini dinilai sebagai upaya meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan tinggi Islam demi masa depan bangsa yang lebih cerah.
Ketua Panitia Nasional UM-PTKIN, Prof. Masnun, mengungkapkan bahwa kuota penerimaan tahun ini sebanyak 90.000 orang, namun panitia menargetkan dapat menjaring lebih dari 100.000 peserta.
"InsyaAllah, jika melihat animo pada jalur SPAN-PTKIN sebelumnya, target ini sangat mungkin dicapai," ujarnya optimis.
Adapun pendaftaran UM-PTKIN dibuka mulai 22 April hingga 28 Mei 2025. Seleksi ini dapat diikuti oleh lulusan MA/MAK/SMA/SMK/SPM/PDF/PKPPS atau sederajat tahun 2023, 2024, dan 2025.
Peningkatan jumlah pendaftar pada jalur Seleksi Prestasi Akademik Nasional (SPAN-PTKIN) sebelumnya menjadi sinyal positif terhadap kepercayaan publik terhadap PTKIN sebagai lembaga pendidikan tinggi yang kredibel.
Kementerian Agama berkomitmen menjaga kualitas layanan publik melalui pengembangan program dan inovasi pendidikan yang relevan dengan zaman. UM-PTKIN bukan sekadar mekanisme seleksi, melainkan simbol transformasi pendidikan Islam yang akuntabel dan berdaya saing global.
"Bersama PTKIN, kita tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga membentuk karakter, memperkuat akhlak, dan menyiapkan diri menjadi warga dunia yang toleran, cerdas, dan bertanggung jawab,”tandasnya.
Koordinator Pokja Sistem Seleksi Elektronik (SSE) UM-PTKIN 2025 Haris Setiaji menjelaskan melakukan pendaftaran menjelang penutupan sangat berisiko. Karena kepadatan traffic.
"Sebaiknya segera melakukan pendaftaran saat ini," ungkapnya.
Haris mengatakan setiap kampus memiliki kapasitas peserta ujian sendiri-sendiri. Jadi calon pelamar sebaiknya segera mendaftar. Supaya bisa memilih kampus lokasi ujian yang terdekat. Misalnya di UIN Jakarta, memiliki kapasitas sekitar 12 ribu peserta. Jika kehabisan kuota, pelamar bisa memilih lokasi ujian di UIN Banten atau UIN Cirebon.
"Bayangkan kalau di satu pulau hanya ada satu UIN," tandasnya.
Editor: Kendi Setiawan
