Arina.id — Iran kembali menegaskan sikapnya untuk tetap melanjutkan program pengayaan uranium, meski sejumlah fasilitas nuklirnya mengalami kerusakan parah akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada perang 12 hari yang terjadi bulan lalu.
Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara eksklusif dengan Fox News yang ditayangkan pada Senin (21/7).
“Sekarang memang terhenti karena kerusakannya sangat serius dan berat. Namun jelas, kami tidak bisa menyerah pada program pengayaan ini. Ini adalah pencapaian ilmuwan kami, dan lebih dari itu, sudah menjadi soal kebanggaan nasional,” ujar Araghchi.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, di mana upaya internasional untuk menghidupkan kembali Kesepakatan Nuklir Iran 2015 (JCPOA) masih menghadapi kebuntuan.
Meski bersikeras mempertahankan program nuklirnya, Araghchi menyebut bahwa Teheran tetap terbuka untuk berdialog dengan Washington, asalkan pembicaraan dilakukan secara adil dan berdasarkan prinsip win-win solution.
“Jika mereka (AS) datang dengan tujuan mencari solusi terbaik, saya siap untuk terlibat dalam pembicaraan,” katanya.
Lebih lanjut, Araghchi menegaskan bahwa Iran bersedia melakukan langkah-langkah kepercayaan untuk membuktikan bahwa program nuklir Iran bersifat damai dan tidak ditujukan untuk senjata nuklir.
“Kami siap menunjukkan bahwa program ini akan tetap damai selamanya. Iran tidak akan pernah mengejar senjata nuklir. Sebagai gantinya, kami harap sanksi-sanksi terhadap Iran dicabut,” tambahnya.
Dalam wawancara berdurasi 16 menit yang ditayangkan oleh Fox News, Araghchi menyampaikan bahwa masih ada jalan menuju diplomasi.
“Ada solusi yang bisa dinegosiasikan untuk program nuklir kami. Kami pernah melakukannya di masa lalu, dan kami siap melakukannya lagi,” pungkasnya.
Keputusan Trump untuk menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan tersebut diambil setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menuduh Iran menjalankan “program nuklir rahasia”.
Iran selama ini secara konsisten menyatakan bahwa program pengayaan nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil.
Amerika Serikat dan Iran sempat terlibat dalam perundingan pada bulan Mei lalu untuk mencapai kesepakatan baru, namun negosiasi tersebut gagal setelah Israel melancarkan serangan bom mendadak ke sejumlah wilayah di Iran pada 13 Juni, dengan target fasilitas militer dan nuklir.
Lebih dari 900 orang tewas di Iran, dan sedikitnya 28 orang tewas di Israel sebelum gencatan senjata diberlakukan pada 24 Juni.
Editor: Muhammad Zunus
