Bagaimana agar NU Tetap Relevan dengan Kepentingan Publik?

Bagaimana agar NU Tetap Relevan dengan Kepentingan Publik?

Jakarta, Arina.id—Dalam dua tahun terakhir Nahdlatul Ulama (NU) dianggap tidak lagi sejalan dengan kepentingan publik terutama saat NU menerima konsesi tambang dan program-program pemerintah.

Penulis Biografi Gus Dur, Prof Greg Barton menilai kritik terhadap NU bukan hal baru. Sejak NU didirikan pada tahun 1926 selalu ada yang mengkritik NU. Namun, dalam isu tambang, situasinya rumit karena ada peluang sekaligus risiko. 

Menurutnya, jika NU menerima konsesi tambang akan membuka peluang kemandirian NU, tetapi juga berisiko disalahgunakan oleh pihak tertentu termasuk yang tidak menyukai NU. 

"Saya tidak bilang NU tidak boleh dikritik. Justru itu bagian penting dari internal renewal (pembaruan internal) di dalam NU. Setiap generasi harus siap menerima kritik, tapi dengan cara yang seimbang,” kata Barton dalam wawancara eksklusif Menjadi Indonesia yang tayang di Youtube NU Online.

Namun, agar NU tetap relevan dengan kepentingan publik, Greg Barton mengatakan NU harus berani menyampaikan kebenaran (speak truth), melakukan pembaruan berkelanjutan (continual on going renewal), regenerasi intelektual (intellectual reproduction) dan sistem pendidikan agama yang luas setara dengan pendidikan umum.

"Itu merupakan tugas NU," ujarnya.

Barton berharap NU sebagai ormas tidak  melupakan asal usulnya sebagai geralan kebangkitan ulama. Peran paling sentral dalam kebangkitan ulama berada di pesantren. 

"Mereka adalah cendekiawan yang berperan penting bagi generasi mendatang, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun akhlak,”ucapnya.

Ia mengkhawatirkan, jika pesantren tutup dalam lima tahun ke depan bagaimana nasib Islam Indonesia dan Islam Nusantara, sementara peran NU begitu penting bagi Indonesia.

"Kebangkitan ulama tidak mungkin terjadi tanpa sistem pesantren yang diperhatikan, terlebih pesantren terus mengalami perubahan dinamis dan revolusioner,” jelasnya.


Editor: Kendi Setiawan
logo