SBSN Jadi Penopang Keuangan Syariah Indonesia, Pemerintah Perkuat dengan Sukuk Hijau

SBSN Jadi Penopang Keuangan Syariah Indonesia, Pemerintah Perkuat dengan Sukuk Hijau

Arina.id - Aset keuangan syariah Indonesia telah meningkat mencapai 54,42 persen. Ke depan, porsi tersebut akan terus ditingkatkan. Demikian disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Ia menjelaskan, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk selama ini menjadi penopang aset keuangan syariah di dalam negeri. Sehingga posisinya menjadi penting untuk memperkuat keuangan negara.

"Jujur saja, yang menggelembungkan aset itu adalah instrumen keuangan negara. Sukuk di Indonesia didominasi oleh sukuknya negara. Korporasi mungkin perlu untuk didorong lebih banyak lagi," ujar Sri Mulyani, Rabu 13 Agustus 2025.

Menurut Sri Mulyani, pemerintah telah menerbitkan SBSN senilai USD 7,7 miliar di pasar internasional dan Rp84,7 triliun di pasar domestik. Demikian kata Sri Mulyain dalam kegiatan Sarasehan Nasional Ekonomi Syariah Refleksi Kemerdekaan RI 2025 di Jakarta.

Di kutip dari Antara, pemerintah juga turut menerbitkan sukuk hijau (green sukuk) sebagai dukungan untuk keberlanjutan. "Karena Islam juga bicara tentang keberlanjutan, kita mengeluarkan sukuk hijau," ujarnya.

Menkeu menyebut green sukuk yang diterbitkan mampu meningkatkan peringkat Indonesia dalam keuangan syariah global. ia berharap semakin banyak investor retail yang membeli SBSN. 

Sebab, ia melanjutkan, obligasi ini digunakan untuk membangun berbagai proyek infrastruktur layanan umum, seperti perguruan tinggi, sekolah, hingga rumah sakit. Selain sukuk, instrumen berbasis wakaf seperti Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) ritel juga menjadi pendorong pertumbuhan aset keuangan syariah nasional.

Instrumen itu, kata Sri Mulyani, mendapatkan penghargaan dari Islamic Development Bank (IsDB) sebagai pembiayaan sosial inovatif berbasis wakaf.

Menkeu pun menyampaikan program Presiden Prabowo Subianto mengenai hilirisasi juga bisa mendongkrak keuangan syariah nasional, mengingat ekonomi syariah umumnya membutuhkan aset yang tangible sebagai underlying asset. "Kalau semua itu distrukturkan secara syariah, saya yakin kita akan melejit nomor satu di dunia," tuturnya.


Editor: Muhammad Taufiq
logo