Memudarnya Tato Para Pembangkang

Memudarnya Tato Para Pembangkang

Arina.id - "Kashmir mencekam sebenarnya sudah biasa. Kalau Kashmir tenang itu tidak biasa...!" Saya teringat kalimat satir itu ketika ngobrol bareng Moazum, jurnalis Kashmir pada Juni 2018 silam dalam sebuah forum pertemuan jurnalis di Kota Kathmandu, Nepal. Kami kebetulan tinggal di hotel yang sama. Namun setelah pertemuan itu kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Saya kehilangan kontaknya.

Lalu tiba-tiba saja ketika membaca kabar pemberitaan dari Kashmir, terutama di tengah konflik India-Pakistan, tiba-tiba ingatan saya terlempar ke persuaan saya dengan Moazum delapan tahun silam. Kashmir sekarang menjadi sorotan dunia lagi, menjadi sentral isu perseteruan dua negara: Pakistan vs India. Saya jadi teringat ketika Moazum menceritakan jalan pembangkangan para pemuda Kashmir yang ingin merdeka begitu kuat namun berkelok: ingin punya negara sendiri namun ogah doyong disetir Pakistan maupun India.  

Sejak berpuluh tahun silam, wilayah Kashmir di lembah Himalaya yang dikenal subur itu memang terus diperebutkan tiga negara: Pakistan, India dan China. Namun paling epik tentu berbagai konflik yang melibatkan Pakistan dan India. Konflik kedua negara telah memakan banyak korban jiwa di sana. Saat itu, kepada Moazum, saya menyinggung kasus tewasnya Editor Koran Rising Kashmir, Sujjat Bukhari, setelah kepalanya ditembak dalam perjalanan iftar (buka puasa) akhir Ramadan 2018. Saya bertanya siapa sebenarnya yang bermain dalam konflik Kashmir? Dua tangan Moazum diangkat--menunjukkan isyarat tidak tahu. 

Ia menjelaskan yang pasti konflik di Kashmir sudah berlangsung lama, sebelum dia lahir. Sejak Inggris minggat dari India, komunitas hindu membentuk India, sementara komunitas muslim membentuk Pakistan. Kashmir, wilayah tidak bertuan akhirnya menjadi rebutan. Namun 85 persen warga Kashmir beragama Islam menginginkan kemerdekaan sendiri. Akan tetapi keinginan tersebut menjadi rumit ketika kemudian muncul militan-militan muslim lokal, militan pro-Pakistan, kelompok Ikhwanul Muslimin, lalu tentara India, dan kelompok-kelompok kecil lainnya. 

Militan-militan itu saling culik dan bunuh dalam beberapa momentum. "Sabotase sudah biasa, sudah tiga hari saya tidak tidur," katanya saat itu sambil menceritakan kalau ada juga kelompok-kelompok pemuda Kashmir yang berjuang dengan caranya sendiri, ingin lepas dari konflik yang tidak berkesudahan tersebut. Namun, agaknya perjalanan Khasmir sebagai negara merdeka masih jauh. Warga di wilayah itu sepertinya memang "ditakdirkan" terus di pusaran huru-hara tiga negara. Entah sampai kapan.

Lalu 2025 sekarang ini, konflik kembali pecah, India dan Pakistan kembali saling teror. Saya mengikuti peristiwa demi peristiwanya lewat pemberitaan media. Serangan bom menewaskan puluhan orang di wilayah Jammu yang dikuasai India. Segera saja serangan direspons New Delhi dengan menuduh Islamabad sebagai dalangnya. Lalu kedua penguasa negeri itu saling kecam, saling ancam, disusul saling serang mengerahkan armada bersenjata. Kashmir pun kembali menjadi palagan perang kedua negara.

Beberapa wilayah di Kashmir menjadi zona demiliterisasi. Tentara India dan Pakistan masuk ke sana. Hal tersebut tentu membuat situasi mencekam, warga juga ketakutan. Kemarin, saya baca laporan dua kontributor Aljazeera: Mehroob Mushtaq dan Numan Bhat yang menceritakan betapa ketakutannya warga Kashmir sekarang ini. Tindakan represif tentara India dan beberapa kelompok milisi di sana begitu nyata hingga membuat anak-anak muda gelisah.

Mehroob dan Numan menceritakan reportase mereka di sebuah klinik laser yang tenang di Kota Srinagar, Kashmir. Kota yang tenang itu sekarang berada di bawah kendali militer India. Di klinik laser itu ada Sameer Wani, pemuda setempat yang duduk dengan lengan terentang, matanya mengikuti tinta yang memudar di kulitnya. Ada jejak kata "Azadi" yang berarti kebebasan dalam bahasa Urdu--di mana dulunya merupakan simbol pemberontakan atau pembangkangan terhadap kekuasaan India--perlahan menghilang di bawah sengatan laser. Apa yang dulunya merupakan tanda pembangkangan telah menjadi beban yang tidak ingin dipikul lagi.

Dulu, sebagai simbol pembangkangan terhadap India, para pemuda Kashmir memang membuat tato Azadi, ada juga tato senjata, pada lengannya. Tato simbol kebebasan itu selama bertahun-tahun diwariskan dari generasi ke generasi. Namun sekarang ribuan orang menghapusnya di tengah bayang-bayang ketakutan yang semakin dalam akibat pengawasan yang semakin ketat para serdadu India. 

Ketika Sameer, lelaki 28 tahun tersebut melihat tato di lengannya menghilang, pikirannya melayang ke suatu hari yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Ia sedang mengendarai sepeda motor bersama seorang teman ketika pasukan keamanan India menghentikan mereka di sebuah pos pemeriksaan. Selama penggeledahan, salah satu petugas menunjuk pada tato di lengannya dan bertanya, "Apa ini?" Jantung Sameer berdebar kencang. 

"Saya beruntung pasukan India tidak bisa membaca bahasa Urdu," katanya kepada Al Jazeera, suaranya diwarnai oleh kenangan itu. "Hampir saja. Saat itu saya tahu bahwa tato ini dapat membuat saya mendapat masalah serius." 

Walaupun saat Sameer masih muda, tato tersebut ibarat 'jimat' atau tanda kekuatan simbol perlawanan terhadap sesuatu. Selama bertahun-tahun, tato-tato tersebut melambangkan pembangkangan terhadap pemerintah India. Namun kini tato tersebut seperti kutukan yang memiliki konsekuensi serius terhadap nasib mereka, terutama jika ketahuan oleh tentara-tentara India.

Pengalaman serupa disampaikan Arsalan, pemuda 19 tahun asal Kota Pulwama yang baru-baru ini memesan sesi penghapusan tato. Ia tidak menyebutkan nama belakangnya karena takut terhadap tindakan balasan dari pihak berwenang. "Orang-orang dengan tato yang terlihat – terutama yang menunjukkan afiliasi politik di masa lalu – tiba-tiba khawatir mereka akan diprofil, diinterogasi – atau lebih buruk lagi," katanya. 

Meskipun begitu, budaya tato di Kashmir tidak memudar. Studio tato masih ramai, terutama dengan pengunjung remaja berusia antara 22 hingga 40 tahunan. Banyak di antaranya mereka yang menunggu berjam-jam untuk mendapatkan tato. Namun tren telah bergeser. Sekarang ini alih-alih tato politik atau agama, orang-orang lebih menyukai desain minimalis, pola yang terinspirasi alam, nama atau kutipan-kutipan bermakna dalam font yang bergaya. Walhasil, tato yang semula digandrungi sebagai simbol pembangkangan, kini telah memudar.

Beberapa warga Kashmir yang mencoba menghapus tato mengatakan kalau trend tersebut merupakan evolusi dan pertumbuhan pribadi mereka. "Bagi saya, itu tentang menjadi berani," ujar Irfan Yaqoob dari distrik Baramulla.

Yaqoob menghapus tato nama pemberontak yang terbunuh di lengan kirinya saat masih remaja. "Dulu, tato itu terasa seperti simbol keberanian. Namun sekarang, saat saya melihatnya, saya menyadari betapa saya telah berubah. Hidup telah berubah, begitu pula saya. Saya memiliki keluarga, pekerjaan, dan prioritas yang berbeda. Saya tidak ingin masa lalu saya mendefinisikan saya atau menimbulkan masalah di masa sekarang. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk menghapusnya."


Editor: Muhammad Taufiq
logo