Kembali Gempur Lebanon, Israel Benar-benar Pemicu Utama Krisis Timur Tengah

Kembali Gempur Lebanon, Israel Benar-benar Pemicu Utama Krisis Timur Tengah

Arina.id - Israel kembali menggempur Lebanon kemarin, Sabtu 16 Mei 2026. Menurut laporan media setempat, sedikitnya tujuh orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka akibat serangan artileri dan serangan udara tersebut. Padahal kedua belah pihak meneken perjanjian memperpanjang gencatan senjata.

Artileri Israel menargetkan sekitar persimpangan Srebbine di distrik Bint Jbeil di provinsi Nabatieh, menewaskan satu orang dan melukai satu orang lainnya, demikian dilaporkan Kantor Berita Nasional (NNA).

Pesawat tempur Israel juga melakukan serangan di Kota Jebal al-Botm di distrik Tyre dan daerah Housh di sebelah timur Kota Tyre, menurut laporan tersebut. Dalam serangan terpisah, sejumlah orang dilaporkan mengalami luka-luka setelah serangan Israel menargetkan sebuah rumah di kawasan tersebut.

NNA juga melaporkan serangan udara Israel di lingkungan al-Saha di Kota Habboush di distrik Nabatieh menewaskan sepasang suami istri setelah rumah mereka menjadi sasaran dan hancur. Sebuah pesawat tempur Israel menghantam sebuah rumah di kota Tebnine, menewaskan mantan walikota Aitaroun dan anggota dewan kota saat ini, Haidar Mawasi, lapor NNA.

Sebelumnya, badan tersebut melaporkan bahwa serangan terhadap Tebnine menyebabkan cedera dan kerusakan yang luas.

Dalam serangan terpisah, seorang wanita dan putranya, yang merupakan paramedis di unit darurat Asosiasi Pramuka Islam Risala, tewas setelah serangan udara Israel menargetkan sebuah rumah di kota Tayr Felsay di distrik Tyre.

Menurut laporan tersebut, lima orang lainnya terluka dalam serangan itu dan dilarikan ke rumah sakit di Tyre. Tim penyelamat terus menyingkirkan puing-puing dari bangunan yang menjadi sasaran dan menemukan jenazah tambahan, tambah NNA.

Secara terpisah, tim penyelamat menemukan jenazah satu orang yang tewas di kota Abbassiyeh setelah serangan Israel yang menargetkan alun-alun kota di distrik Tyre.

Sebelumnya pada hari Sabtu, tentara Israel menargetkan hampir 100 wilayah di Lebanon selatan dan mengeluarkan peringatan evakuasi bagi penduduk sembilan desa dan kota menjelang serangan yang direncanakan.

Perkembangan ini terjadi satu hari setelah AS mengumumkan perpanjangan perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama 45 hari mulai 17 Mei, menyusul pembicaraan antara kedua pihak di Washington pada 14 dan 15 Mei.

Sejak 2 Maret, serangan Israel terhadap Lebanon telah menewaskan hampir 3.000 orang, melukai hampir 9.000 orang, dan menyebabkan lebih dari 1,6 juta orang mengungsi — sekitar seperlima dari populasi negara itu, menurut pejabat Lebanon.

Di tempat lain, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut Zionis Israel sebagai salah satu pemicu utama krisis di Timur Tengah. "Provokasi Israel yang hingga kini masih berlangsung menjadi salah satu alasan utama krisis ini muncul," kata Erdogan kepada wartawan sepulang dari kunjungan kenegaraan ke Kazakhstan.

Erdogan mengatakan Israel berulang kali unjuk kekuatan yang bertujuan menggoyahkan seluruh kawasan demi kepentingan sendiri. Ankara meyakini bahwa penting untuk terutama "menetralisir provokasi Israel" kemudian berupaya membangun perdamaian berkelanjutan di Kawasan Timur Tengah, katanya.

Ia juga menekankan bahwa isu apa pun di kawasan harus diselesaikan oleh para pemain regional tanpa campur tangan pihak luar. Turki akan terus berupaya mencegah eskalasi lebih lanjut dan memperkuat stabilitas di Timur Tengah, tambahnya.

Lebih lanjut, sang Presiden juga mendesak negara-negara di kawasan untuk melupakan keuntungan politik jangka pendek demi kepentingan negara mereka sendiri dibanding negara asing atau perusahaan multinasional.


Editor: Muhammad Taufiq
logo