Tak Gubris Ultimatum Trump, Iran Balas Tutup Total Selat Hormuz

Tak Gubris Ultimatum Trump, Iran Balas Tutup Total Selat Hormuz

Jakarta, Arina.id—Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, jika tidak, jaringan listrik Teheran akan padam. 

Ultimatum Trump itu langsung dibalas keras oleh Iran. Pemerintah Teheran menyatakan Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya jika Amerika benar-benar menyerang fasilitas energi mereka.

Komando militer utama Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, pada Minggu (22/3) memperingatkan bahwa pembangkit listrik di negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan Amerika Serikat (AS) akan dianggap sebagai target yang sah apabila AS menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran.

"Selat Hormuz belum sepenuhnya ditutup dan masih berada di bawah pengawasan cerdas Iran, dengan transit-transit yang tidak berbahaya terus berlanjut di bawah regulasi khusus guna memastikan keamanan dan kepentingan nasional," ungkap pernyataan tersebut dilansir Aljazeera.

Jika ancaman AS dilaksanakan, Iran akan segera mengambil beberapa tindakan balasan, termasuk penutupan total Selat Hormuz hingga fasilitas-fasilitas Iran yang rusak dibangun kembali, sebut pernyataan itu.

Langkah-langkah lainnya mencakup serangan skala besar terhadap infrastruktur listrik, energi, dan komunikasi Israel, serangan terhadap perusahaan-perusahaan regional yang memiliki hubungan dengan modal AS, serta penargetan fasilitas pembangkit listrik di negara-negara lain.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi kebijakan rute khusus tersebut setelah melakukan pembicaraan dengan pihak pemerintah Jepang.

Jalur perairan tersebut sebenarnya tidak ditutup sepenuhnya dan pihak keamanan Iran siap memfasilitasi perjalanan kapal-kapal dari negara yang tidak ikut menyerang wilayahnya.

"Kami belum menutup selat tersebut. Menurut pendapat kami, selat itu terbuka. Selat itu hanya ditutup untuk kapal-kapal milik musuh kami, negara-negara yang menyerang kami. Untuk negara lain, kapal dapat melewati selat tersebut," ujar Araghchi dalam wawancara dengan Kyodo.

Sejak AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari, Iran disebut secara efektif menutup Selat Hormuz sebagai pembalasan. Sekitar 20% minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati selat tersebut, dan negara-negara yang bergantung pada jalur pelayaran tersebut berupaya mencari rute alternatif dan memanfaatkan cadangan.

Terhambatnya pasokan dari Teluk telah menyebabkan harga bahan bakar melonjak di seluruh dunia, mengancam pemerintah dengan inflasi yang meluas semakin lama perang berlanjut.

Dilansir AFP, Minggu (22/3), Donald Trump memberi Iran tenggat waktu 48 jam untuk membuka Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran atau menghadapi penghancuran infrastruktur energinya.

"Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz, dalam waktu 48 jam dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dengan yang terbesar terlebih dahulu," tulis Trump di platform Truth Social miliknya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pembatasan hanya diberlakukan terhadap kapal dari negara-negara yang terlibat dalam serangan terhadap Iran dan pihaknya akan membantu kapal dari negara lain yang tidak ikut dalam konflik.

Sementara itu, militer Iran menyatakan akan menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi milik AS dan rezim di kawasan jika Trump menyerang pembangkit listrik mereka.

Ultimatum Trump ini muncul beberapa jam setelah dua rudal Iran menghantam wilayah selatan Israel, melukai lebih dari 100 orang dalam serangan paling merusak sejak perang dimulai.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah akan membalas “di semua front.” Serangan tersebut, yang berhasil menembus sistem pertahanan rudal Israel, merusak fasad bangunan permukiman dan menciptakan kawah besar di tanah.


Editor: Suci
logo