ABG Australia Ancam Ulangi Tragedi Christchurch, Pembantaian 51 Jemaah Masjid

ABG Australia Ancam Ulangi Tragedi Christchurch, Pembantaian 51 Jemaah Masjid

Arina.id - Seorang anak baru gede (ABG) di Australia tertangkap mengunggah status ancaman berbahaya pada akun official sebuah masjid di Kota Sydney. ABG berusia 16 tahun itu kemudian ditangkap dan sekarang sedang diselidiki oleh otoritas keamanan setempat terkait ancaman kekerasan lewat media sosial.

ABG yang tidak disebutkan namanya tersebut menulis komentar di bawah unggahan akun Instagram (IG) Masjid Edmondson Park di Kota Sydney pada Senin, 03 Maret 2025, ketika muslim di sana sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Ia menargetkan masjid tersebut dan mengancam bakal melakukan "Christchurch 2.0".

Kata "Christchurch 2.0" sendiri merujuk pada peristiwa kelam pembantaian 51 jemaah di dua masjid Kota Christchurch Selandia Baru oleh seorang pria Australia pada 15 Maret 2019 silam. Sebanyak 51 jemaah tewas dan 40 orang lainnya terluka saat Salat Jumat akibat diberondong peluru. 

Remaja tersebut ditangkap di Eaton wilayah sebelah barat daya Australia Barat. Ia juga mau bekerja sama dengan polisi dalam penyelidikan mereka. Demikian disampaikan pejabat kepolisian Australia Barat dalam sebuah pernyataan pada Selasa malam, 04 Maret 2025, seperti dilaporkan SBSNews.

Dalam pernyataan sebelumnya pada Selasa, Polisi New South Wales (NSW) mengatakan telah memulai penyelidikan setelah adanya ancaman ke sebuah pusat keagamaan di Edmondson Park. "Tidak ada ancaman yang sedang berlangsung terhadap masyarakat, dan penyelidikan awal menunjukkan bahwa sumber ancaman tersebut berasal dari luar negara bagian," tambah pernyataan tersebut.

Sejak dibuka menjelang bulan suci Ramadan pada Jumat lalu, ratusan jemaah telah mengunjungi masjid tersebut -- Australian Islamic House. "Kami sangat prihatin," kata Presiden lembaga itu, Mazhar Hadid, dalam sebuah pernyataan, sambil mendesak pihak berwenang untuk menangani ancaman ini secara serius.

Aliansi Warga Australia untuk Muslim serta Dewan Imam Nasional Australia menyatakan bahwa mereka "sangat terkejut dan sangat prihatin" terhadap keselamatan serta kesejahteraan umat Muslim di Sydney setelah ancaman tersebut.

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan bahwa siapa pun yang bertanggung jawab atas ancaman "keji" itu harus menghadapi konsekuensi hukum sepenuhnya. "Tidak ada tempat untuk hal seperti ini di Australia ... rasisme dan Islamofobia tidak akan ditoleransi," ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Dalam unggahan di platform X, Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, mengatakan bahwa pemerintahannya dan kepolisian sedang menangani kasus ini secara serius.


Editor: Muhammad Taufiq
logo