Achmad Fauzi, Penyuluh yang Berdakwah dari Balik Jeruji hingga Bilik Duka di Pegunungan Wonosobo

Achmad Fauzi, Penyuluh yang Berdakwah dari Balik Jeruji hingga Bilik Duka di Pegunungan Wonosobo

Di Wonosobo, di antara hamparan sawah yang sejuk dan jalan-jalan kecil yang bersih, nama Achmad Fauzi, S.Pd.I., M.Ag. dikenal luas bukan hanya sebagai penyuluh agama, tetapi sebagai sosok yang selalu siap hadir di tengah masyarakat: di masjid, di rumah sakit, di ruang duka, bahkan di balik jeruji penjara. Bagi Fauzi, dakwah bukan sekadar menyampaikan ayat, melainkan menjembatani manusia dengan nurani mereka sendiri.

"Dakwah itu bukan tentang siapa yang paling fasih bicara, tapi siapa yang paling tulus mendengarkan,” katanya pelan, namun dengan sorot mata yang teguh.

Fauzi adalah Penyuluh Agama Islam Fungsional di Kecamatan Kertek, yang merupakan salah satu kawasan di Kabupaten Wonosobo yang merupakan daerah pegunungan. Selama bertahun-tahun, Fauzi telah menapaki jalan dakwah yang tak biasa; menyapa mereka yang terpinggirkan, melayani jiwa-jiwa yang sedang mencari arah, dan menghidupkan nilai-nilai Islam dalam bentuk pengabdian yang nyata.

Menyemai Harapan di Balik Jeruji
Program unggulan yang membawanya dikenal luas adalah “Mengaji di Penjara”, sebuah inisiatif yang ia rintis dengan tekad sederhana: menghadirkan cahaya Al-Qur’an di tempat yang dianggap paling gelap. Di balik dinding-dinding kokoh Rutan Kelas IIB Wonosobo, Fauzi mengajar para warga binaan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan.

Ia tidak datang sebagai pengkhotbah yang menggurui, melainkan sebagai sahabat yang menemani. “Saya tidak membawa mereka ke mimbar, tapi duduk di tengah mereka, mengaji bersama. Saya ingin mereka merasa setara di hadapan Tuhan,” ujarnya.

Fauzi mengembangkan model peer teaching dalam pengajian itu, metode belajar antar-sesama warga binaan. Ia percaya bahwa dalam setiap diri manusia, selalu ada potensi untuk mengajarkan kebaikan kepada orang lain.

“Peer teaching membuat mereka saling menghargai. Yang sudah bisa mengajar yang belum bisa. Mereka jadi tumbuh rasa percaya diri,” jelasnya.

Untuk memperkuat sistem belajar, ia menerapkan pendekatan ODOM (One Day One Material), sebuah metode pembelajaran harian yang fokus pada satu materi setiap kali pertemuan. Materi disusun bertahap, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah, tajwid, hingga pemahaman dasar tafsir dan akhlak.

Sebelum memulai, Fauzi melakukan tes kemampuan membaca Al-Qur’an kepada setiap warga binaan. Berdasarkan hasilnya, ia membagi peserta ke dalam tiga kelompok: Kelompok A: sudah fasih dan siap menjadi pendamping bagi yang lain; Kelompok B: sudah mengenal huruf tapi belum lancar; Kelompok C: belum bisa membaca sama sekali.

Pembagian ini bukan sekadar teknis, melainkan simbol harapan. “Saya ingin mereka saling menguatkan. Yang dulu merasa rendah diri, sekarang bisa menjadi pengajar bagi temannya,” kata Fauzi tersenyum.

Suasana pengajian di rutan kerap penuh semangat. Suara ayat-ayat suci terdengar pelan namun mantap dari bibir para warga binaan. Banyak dari mereka yang mengaku menemukan ketenangan baru dalam belajar Al-Qur’an. 

Kegiatan di Rutan Wonosobo tak berhenti di situ. Di bawah bimbingan Fauzi, program keagamaan di rutan kini berkembang menjadi pembinaan terpadu, mencakup. Selain mengaji Al-Qur’an dengan metode peer teaching, ada juga kajian fiqh dan akhlak, diskusi dan tanya jawab hukum islam, praktik wudhu dan sholat, praktik pemulasaraan jenazah, pelatihan wirausaha, seperti mengolah lahan milik rutan, pelatihan keterampilan dasar, dan konseling, di mana Fauzi menjadi tempat mereka bercerita, menangis, dan menemukan kembali makna harapan.

Harapan Fauzi sederhana tapi besar: ketika keluar dari rutan, para warga binaan bisa membaca Al-Qur’an dengan benar, mengerjakan shalat, dan membawa nilai-nilainya ke dalam kehidupan baru.

Dakwah di Rumah Sakit: Menyentuh di Saat Paling Sunyi
Selain di rutan, Fauzi juga aktif memberikan bimbingan rohani di rumah sakit. Ia datang ke ruang-ruang perawatan, menemani pasien dan keluarganya dengan dzikir dan doa. Bagi Fauzi, rumah sakit adalah ruang dakwah yang paling sunyi sekaligus paling jujur.

“Di rumah sakit, saya melihat manusia dalam wujud yang paling rapuh. Tidak ada status, tidak ada kebanggaan. Yang ada hanya harapan dan doa,” ujarnya.

Ia sering duduk di samping ranjang pasien, membaca ayat pendek, lalu mengajak berdzikir. Tak jarang, air mata menetes tanpa kata. “Tugas saya bukan memberi ceramah, tapi menghadirkan ketenangan. Kadang, kehadiran yang tulus lebih menyembuhkan daripada kata-kata panjang,” tuturnya.

Ahli Pemulasaraan Jenazah
Sisi lain dari pengabdian Fauzi adalah keahliannya dalam pemulasaraan jenazah. Ia dikenal sebagai ahli perawatan jenazah di Wonosobo dan sering diundang oleh lembaga keagamaan, sekolah, universitas, maupun komunitas masyarakat untuk memberikan pelatihan dan penyuluhan terkait tata cara memandikan, mengafani, dan menyolatkan jenazah secara syari.

Ia dipercaya sebagai Instruktur Pemulasaraan Jenazah Tingkat Provinsi Jawa Tengah dan juga Juru Sembelih Halal Bersertifikat. Selain memberi pelatihan, ia juga menulis panduan praktis pemulasaraan jenazah, berisi langkah-langkah aplikatif yang mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Bagi Fauzi, ilmu pemulasaraan jenazah bukan sekadar pengetahuan teknis, tetapi juga sarana dakwah. “Kematian itu pengingat yang lembut tapi pasti. Mengajarkan cara memuliakan jenazah berarti mengajarkan cara menghormati kehidupan,” ujar pria yang membina sekitar 30 majelis taklim dan kelompok binaan di berbagai wilayah Wonosobo ini.

“Banyak orang ingin membantu saat ada kematian, tapi tidak tahu caranya. Buku itu saya tulis supaya masyarakat punya pegangan yang benar,” katanya.

Dakwah dan Transformasi Sosial
Kecintaan Fauzi terhadap ilmu membawanya melangkah lebih jauh ke dunia akademik. Ia kini tengah menempuh Program Doktoral di UIN Walisongo Semarang, dengan konsentrasi Ilmu Dakwah. Disertasinya yang tengah diselesaikan membahas dakwah Islam transformatif KH Thoifur Mawardi dalam Perspektif Otoritas Kharismatik Max Weber.

Dalam penelitiannya, Fauzi mengkaji sosok KH Thoifur Mawardi, seorang ulama karismatik asal Purworejo, Jawa Tengah, yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhid Kedungsari. KH Thoifur yang wafat Agustus 2025 lalu dikenal dengan dakwah humanistik dan sufistiknya. Melalui pendekatan teori Max Weber tentang peran penting karisma K.H Thoifur Mawardi dalam menjalankan dakwah atau penyebaran ajaran Islam melalui pesantren.  

“Dakwah transformatif itu bukan hanya soal menyampaikan pesan, tapi membangkitkan kesadaran. KH Thoifur mengajarkan bagaimana nilai agama bisa dihidupkan melalui keteladanan, bukan sekadar ucapan,” jelasnya.

Kini, Fauzi tengah bersiap untuk sidang tertutup disertasinya. Ia berharap karyanya bisa memperkaya khazanah ilmu dakwah di Indonesia dan menjadi inspirasi bagi para penyuluh muda agar berani berinovasi dalam menyampaikan pesan Islam.

Sosok yang Membumi dan Dihormati
Di luar kesibukan akademik dan lapangan, Fauzi tetap menjadi sosok yang membumi. Ia mudah dijumpai, berbincang ringan dengan warga, atau membantu kegiatan sosial. Banyak masyarakat Wonosobo menyebutnya sebagai “penyuluh tanpa jarak”—karena ia tidak pernah menempatkan diri di atas siapa pun.

Dalam banyak kesempatan, Fauzi sering menegaskan bahwa dakwah bukan hanya tanggung jawab ulama, tapi tanggung jawab semua orang yang ingin dunia ini lebih baik. Karena itu, ia mendorong para warga binaan, pasien, hingga anak muda di kampungnya untuk menjadi penyebar kebaikan di lingkungannya masing-masing.

“Kalau semua orang menunggu jadi ustaz dulu baru berdakwah, dunia ini akan sepi dari kebaikan,” ujarnya tersenyum.

Dakwah yang Membebaskan dan Menyembuhkan
Seluruh kiprah Achmad Fauzi berpijak pada satu prinsip: dakwah harus membebaskan, bukan menghakimi. Baginya, manusia datang ke agama bukan karena dipaksa, tapi karena disapa dengan kasih.

“Di penjara saya melihat kejujuran; di rumah sakit saya melihat kerendahan hati; di ruang duka saya melihat kesabaran. Semua itu bagian dari pelajaran dakwah,” katanya.

Fauzi tidak hanya berbicara tentang Islam, tapi menghidupkannya—di ruang-ruang yang kadang diabaikan orang lain. Ia membawa agama ke tempat yang paling manusiawi: ruang penyesalan, ruang penderitaan, dan ruang kehilangan. Di situlah ia menyalakan kembali keyakinan bahwa rahmat Allah Swt tidak pernah tertutup oleh tembok, penyakit, atau bahkan kematian.

Kini, setelah lebih dari satu dekade menjadi penyuluh, Fauzi yang pernah mendapat prestasi Penyuluh Agama Islam Teladan Nasional Tahun 2018 ini telah menemukan makna sejati pengabdian: bahwa dakwah bukan jalan untuk meninggikan diri, tetapi untuk merendahkan hati.

“Kadang kita datang untuk mengajarkan, tapi justru kita yang diajari. Dari para warga binaan, dari pasien, dari keluarga yang berduka, saya belajar tentang sabar, ikhlas, dan arti kembali kepada Allah,” ucapnya.

Di antara kesunyian penjara dan haru ruang duka, Achmad Fauzi menyalakan satu pelita: bahwa agama adalah rahmat, dan seorang penyuluh memiliki tugas utama menebarkan rahmat itu ke mana pun umat membutuhkan. 

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.


Editor: Kendi Setiawan
logo